Pengaruh Out-of-school Listening Exposure pada Kemampuan Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan kita, tidak hanya tatanan sosial dan politik tetapi juga tatanan pendidikan. Pandemi ini telah memaksa guru untuk meninggalkan pengajaran secara konvesional beralih ke pengajaran digital. Para guru juga harus pandai mencari sumber-sumber pembelajaran di luar kelas untuk memaksimakan hasil pembelajaran.

Di masa pandemi ini penulis berusaha mengeksplorasi sumber-sumber belajar di luar kelas padanya murid terpajankan. Secara umum telah diakui bahwa pembelajaran bahasa yang efektif bergantung pada jenis dan jumlah pajanan (exposure) pada bahasa sasaran (L2). Namun, dalam bingkai pendidikan formal, input yang disediakan dan kesempatan untuk menghasilkan output tidak selalu cukup untuk mengembangkan ketrampilan dasar berbahasa, yaitu mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Karena itu pengusaan bahasa sasaran harus disertai dengan praktik di luar kelas, dengan cara berinteraksi dengan materi otentik dan pembicara bahasa sasaran, dalam hal ini Bahasa Inggris.
Pajanan bahasa secara umum mengacu pada kontak di luar kelas. Olmeldo yang mengutip Benson (2001) mendefinisikan istilah pajanan bahasa di luar kelas sebagai, “segala jenis pembelajaran yang terjadi di luar kelas dan melibatkan pengajaran mandiri, pembelajaran naturalistik atau pembelajaran naturalistik yang diarahkan sendiri.” Bentuk pajanan bahasa luar kelas dapat meliputi: mendengarkan program bahasa Inggris di radio, menonton program bahasa Inggris dan film di televisi, bepergian ke negara-negara berbahasa Inggris, berbicara langsung dengan penutur asli bahasa Inggris (interaksi L2), menggunakan bahasa Inggris dalam situasi kehidupan nyata, berselancar di internet menggunakan bahasa Inggris dan juga, membaca buku, majalah, dan koran berbahasa Inggris.

Baca juga:   Berusaha Move On saat Belajar Bahasa Inggris

Kita menyadari bahwa paparan bahasa kedua atau asing (L2) sangat penting dalam meningkatkan akuisisi bahasa pertama. Kennedy (1973) menjelaskan bahwa seorang pembelajar yang mulai memperoleh L1 pada umumnya terpapar pada lingkungan linguistik yang makmur, terdiri dari berbagai item leksikal dan tata bahasa yang rumit, banyak di antara mereka berada di luar pemahaman pembelajar. Berdasarkan tinjauan ilmiah di atas, penulis ingin mengetahui seberapa besar pengaruh sumber-sumber belajar luar kelas pada kemampuan mendengar (listening) siswa di SMPN 29 Semarang. Kenapa listening, karena listening adalah kemampuan berbahasa yang agak diabaikan dalam pembelajaran. Ini terjadi karena tuntutan ujian nasional yang lebih mengedepankan kemampuan pemahaman bacaan.

Lewat kuesioner, penulis ingin mengetahui sumber belajar luar kelas apa saja padanya siswa paling sering terpajan, yaitu seberapa sering mereka menonton TV/film tanpa atau dengan subtitel, mendengarkan musik/lagu berbahasa Inggris, berselancar di internet dan bermain game online berdasarkan intensitas waktu. Misalnya, berapa lama mereka mendengarkan musik dalam sehari. Lewat kuesioner ini penulis juga ingin menjawab pertanyaan apakah benar siswa yang lebih sering terpajan pada sumber belajar luar kelas memiliki kemampuan mendengar lebih baik daripada siswa yang kurang terpajan pada sumber belajar luar kelas.

Baca juga:   Mengeksplor Kreativitas Peserta Didik di Masa Pandemi Covid-19

Penulis melakukan kuesioner pada siswa kelas 8 berjumlah 32 orang. Hasil kuesioner menunjukkan hasil dengan intensitas yang berbeda pada setiap siswa. Hampir sebagian besar anak mendengarkan musik, disusul selancar di internet, lalu bermain game online dan terakhir menonton TV/film dengan atau tanpa subtitel.
Penulis kemudian memberi mereka tes listening sebanyak 15 soal. Hasil tes menunjukkan bahwa anak yang lebih terpajan pada sumber belajar luar kelas memiliki nilai yang lebih baik daripada anak yang kurang terpajan pada sumber belar luar kelas.

Akhirnya, berdasarkan pengalaman positif di atas penulis merekomendasikan bahwa siswa harus terus-menerus memajankan diri ke bahasa Inggris dengan menonton film dan program bahasa Inggris, mendengarkan musik, menjelajahi internet, mendengarkan radio, membaca buku-buku bahasa Inggris, majalah, surat kabar, dan berlatih bahasa Inggris dengan penutur asli setiap hari untuk mengatasi kelemahan mereka dan meningkatkan kefasihan mereka serta kemahiran dalam memperoleh bahasa Inggris, khususnya kemampuan listening mereka. (ips1/zal)

Guru Bahasa Inggris SMPN 29 Semarang

Author

Populer

Lainnya