Peran Daerah dalam Merdeka Belajar di Tengah Wabah

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Semua sektor lumpuh karena pandemi yang disebabkan virus ini, salah satunya sektor pendidikan. Pemerintah memutuskan bahwa sekolah harus dilakukan secara daring tanpa tatap muka langsung seperti sebelumnya. Kini kita benar-benar dihadapkan pada situasi berpacu dengan revolusi industri 4.0 yang merupakan transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional (Angela Markel, 2004).

Pembelajaran secara daring dianggap menjadi solusi kegiatan belajar mengajar tetap jalan di tengah pandemi corona. Meski telah disepakati, cara ini menuai kontroversi. Bagi tenaga pengajar, sistem pembelajaran daring hanya efektif untuk penugasan. Mereka menganggap untuk membuat siswa memahami materi, cara daring dinilai sulit. Selain itu, kemampuan teknologi dan ekonomi setiap siswa berbeda-beda. Tidak semua siswa memiliki fasilitas yang menunjang kegiatan belajar jarak jauh ini. Koneksi lemot, gawai yang nggak mumpuni, dan kuota internet yang mahal menjadi hambatan nyata.

Aplikasi Zoom untuk meeting sekarang ini menjadi andalan bagi seluruh masyarakat dunia. Seluruh pekerjaan kantor, anak sekolah, mahasiswa dan yang lainnya dilakukan dari rumah. Hal tersebut dilakukan guna mencegah penyebaran virus yang mematikan.

Baca juga:   Implementasi Merdeka Belajar dengan Berkreasi Unik Mendesain Motif Batik Jumputan

Berbagai sekolah di daerah menemukan sejumlah kendala dalam proses belajar mengajar secara daring. Sebagai contoh saya bersama teman-teman guru telah mengaplikasikan pembelajaran daring di SMP Negeri 41 Semarang yang terbiasa dalam pola belajar mengajar tatap muka mendadak belajar secara online. Sementara, tidak semua daerah memiliki kestabilan jaringan internet sehingga para guru dan murid harus belajar merdeka seperti yang dicetuskan Bapak Nadiem Makarim, menteri pendidikan Republik Indonesia, kini menjadi efektif.

Merdeka belajar bermakna kemerdekaan belajar, yakni memberikan kesempatan belajar sebebas-bebasnya dan senyaman-nyamannya kepada anak didik untuk belajar dengan tenang, santai dan gembira tanpa stres dan tekanan dengan memperhatikan bakat alami yang mereka punyai, tanpa memaksa mereka mempelajari atau menguasai suatu bidang pengetahuan di luar hobi dan kemampuan mereka. Masing-masing anak didik akan mempunyai portofolio yang sesuai dengan kegemarannya. Sebab, memberi beban kepada pelajar di luar kemampuannya adalah tindakan yang tercela secara akal sehat dan tidak mungkin dilakukan oleh guru yang bijak. Ini tak ubahnya seperti murid yang buta lalu guru memintanya menceritakan apa dan bagaimana matahari itu kepada teman-temannya.

Baca juga:   Google Classroom Tingkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pembelajaran Jarak Jauh

Bila kemerdekaan belajar terpenuhi maka akan tercipta “belajar merdeka” atau “pembelajaran yang merdeka” dan sekolahnya disebut sekolah yang merdeka atau sekolah yang membebaskan. Ki Hajar Dewantara menekankan berulang kali tentang kemerdekaan belajar. “…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri…”

Anak pada dasarnya mampu berpikir untuk “menemukan” suatu pengetahuan. Oleh karena itu kita harus bersinergi bersama-sama tak kehilangan semangat mengajar dan belajar karena kini kita benar-benar dipaksa merdeka belajar oleh wabah. Kali ini peran daerah dalam perjuangan kemerdekaan melalui prespektif memerdekakan masyarakat dari covid-19. (dar2/ton)

Guru SMP N 41 Semarang

Author

Populer

Lainnya