Kelas Heboh, Belajar Perkalian Pakai Jari Tangan Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pelajaran matematika di sebagian besar siswa di Indonesia menjadi momok yang menakutkan. Sebagaimana pendapat Zulkardi (2003: 23) rendahnya prestasi dan negatifnya sikap siswa terhadap matematika penyebabnya adalah media yang kurang efektif, artinya guru masih menggunakan metode tradisional. Fakta yang terjadi di kelas 2 SD Srondol Wetan 02 Semarang, menunjukkan nilai mencongak (hitung cepat) terutama perkalian, banyak yang masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sementara salah satu Kompetensi Dasar (KD) di kelas 2 yang dituntut harus tuntas adalah perkalian bilangan yang hasilnya dua angka.

Konsep perkalian adalah penjumlahan berulang, tetapi jika sudah melibatkan bilangan besar, siswa mengalami kesulitan dan cenderung jenuh. Hitung cepat menjadi hal urgent yang harus dikuasai siswa dalm menyelesaikan permasalahan kehidupannya. Misalnya ketika membeli ikan bandeng presto 9 dus, dan masing-masing dus berisi 3 ekor. Tiap ekor harganya Rp.5000. Siswa perlu menghitung cepat untuk tahu berapa yang harus di bayar ke kasir.

Sebenarnya ada media yang telah diberikan Tuhan untuk membantu siswa dalm menyelesaikan hitungan perkalian, yaitu jari tangan. Metode yang dipergunakan bernama jarimatika, yaitu cara berhitung atau operasi kali-bagi-tambah-kurang dengan menggunakan jari-jari tangan untuk anak usia 4-12 tahun (Wulandari, 2000: 4).

Baca juga:   Kembangkan Kompetensi Menulis Dongeng melalui Kartun Animasi

Sebagai awalan, guru harus mematangkan perkalian dasar di bawah bilangan 6, misalnya 2 x 3; 4 x 5; 4 x 3, dan lain-lain. Bilangan ini mampu diikuti siswa, karena jika di buat penjumlahan berulang, deret angkanya belum terlalu panjang. Daya ingat siswa masih mampu untuk menampung hasil penjumahan berulang tersebut.

Berikutnya dalam penghitungan perkalian, kita gunakan jari tangan sebagai media. Misalnya, ketika akan melakukan operasi perkalian bilangan (7 x 9) dengan jari, maka bilangan 7 kita gunakan jari pada tangan kiri dan angka 9 di jari tangan kanan. Pada bilangan 7, dua jari tangan kiri ditekuk sambil melisankan angka enam untuk jari pertama, dan berikutnya melisankan tujuh untuk jari kedua. Pada bilangan 9, empat Jari tangan kanan ditekuk dengan melisankan angka enam untuk jari pertama, angka tujuh untuk jari ke dua, dan seterusnya.

Kemudian, masing-masing jari ke dua tangan yang ditekuk adalah enam, jari tersebut bernilai puluhan, sehingga menjadi 60 (enam puluh). Sementara Jari yang tersisa atau yang tidak ditekuk tangan kanan satu dan tangan kiri tiga, ini dikalikan sehingga menghasilkan atau bernilai satuan yaitu 3, maka hasil akhir dari 7 x 9 adalah 60 + 3 = 63.

Baca juga:   Course Review Horay Mendalami Keteladanan Para Nabi

Awalnya siswa agak terasa sulit dan bingung, sebab ketika siswa mengoperasikan jari yang di tekuk dengan yang masih sisa, sering tertukar. Pembiasaan kepada siswa dengan menekankan pada aturan kunci jari ditekuk ditambahkan, jari yang tidak ditekuk dikalikan, dan hasilnya ditambahkan antara puluhan dan satuan, akan menguatkan daya ingat siswa dalam berhitung perkalian.

Metode jarimatika ini sangat menyenangkan bagi siswa, sehingga mencongak atau hitung cepat hasilnya pasti tepat dan membantu siswa dalam berpikir cepat. Simpulannya, dengan praktik jarimatika pada pemelajaran matematika operasi hitungan, akan membuat siswa menjadi lebih bersemangat untuk belajar lebih lanjut. (ips1/ton)

Guru Kelas SD Negeri Srondol Wetan 02 Semarang

Author

Populer

Lainnya