BMC, Cara Jitu Belajar Kewirausahaan

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SUATU proses interaksi yang mempengaruhi peserta didik dalam mendorong terjadinya belajar disebut pembelajaran. Keberhasilan dalam pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berasal dari lingkungan, teman, keluarga, tenaga pendidik, dan model pembelajaran. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik seperti motivasi, minat, perhatian, dan aktivitas. Prestasi belajar dan proses belajar merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena prestasi belajar pada hakikatnya adalah hasil akhir dari sebuh proses belajar

Untuk mengetahui prestasi belajar seorang peserta didik biasanya dilakukan evaluasi terhadap materi belajar yang telah diberikan. Idealnya, kriteria pencapaian kompetensi yang ditetapkan adalah minimal 64% dari nilai maksimal. Sebagai contoh, apabila nilai maksimal dalam suatu evaluasi pembelajaran adalah 100 maka nilai minimal yang harus diperoleh peserta didik untuk lulus adalah 64. Namun, penetapan tersebut bisa berubah disesuaikan dengan kondisi sekolah, seperti kemampuan peserta didik dan guru serta ketersediaan prasarana dan sarana. Untuk Madrasah Aliyah Negeri 4 Bantul, kriteria keberhasilan belajar untuk mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) kelas XI IPS adalah 64. Jadi, peserta didik yang mendapat nilai kurang dari 64 dinyatakan belum tuntas dan wajib mengikuti remedial agar tuntas. Penetapan ini telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi madrasah serta kemampuan peserta didik.

Baca juga:   Meningkatkan Imun Tubuh Siswa dengan Senam Irama

Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) kelas XI mempelajari tentang kewirausahaan. Untuk memudahkan peserta didik dalam memahami tentang kewirausahaan dipilih model pembelajaran Project Based Learning (PBL) atau dikenal dengan Pembelajaran Berbasis Proyek. Project Based Learning merupakan strategi pembelajaran yang ditujukan untuk membuat peserta didik terlibat dalam pembelajaran yang otentik, dan tugas-tugas yang sifatnya “realword”. Peserta didik disuguhkan project-project atau masalah yang bersifat terbuka dengan pendekatan dan jawaban yang terbuka pula, kegiatan direncanakan untuk menstimulasi situasi profesional.

Business Model Canvas (BMC), merupakan salah satu model pembelajaran berbasis proyek yang merupakan sebuah rancangan konsep abstrak sebuah model bisnis yang merepresentasikan strategi dan proses bisnis dalam organisasi (Alex Osterwalder, 2009). Konsep pembelajaran kewirausahaan dengan menggunakan model bisnis yang dikembangkan oleh Alexander Osterwalder ini, berhasil mengubah konsep model bisnis yang rumit menjadi sederhana. Dengan pendekatan kanvas, peserta didik diberi tugas membuat perencanaan ide peluang usaha yang ditampilkan dalam satu lembar kanvas, berisi peta sembilan elemen (kotak). Di dalam membuat perencanaan BMC terdapat sembilan poin yang harus dipikirkan untuk usaha, meliputi Infrastructure, Offering, Customers, Finances. Business Model Canvas menjelaskan secara sederhana melalui visualisasi yang ditampilkan tentang bagaimana cara membuat laporan ide peluang usaha melalui sembilan poin bangunan yang disusun menjadi satu-kesatuan. Jadi dapat diketahui bahwa Business Model Canvas atau lebih dikenal dengan BMC adalah sebuah teknik yang mampu menggambarkan secara sederhana bagaimana merencanakan suatu usaha. Business Model Canvas memiliki template tabel yang khas yaitu, satu lembar karton dengan ukuran besar untuk diisi tiap kolomnya dengan sticky notes sehingga mudah diganti bila ke depannya ada perubahan dari rancangan yang akan dibuat.

Baca juga:   Gampat, Tingkatkan Kemampuan Siswa Bercerita Tentang Gambar Seri

Dari analisa ditemukan bahwa Model Project Based Learning pada mata pelajaran kewirausahaan menggunakan BMC dapat meningkatkan kreatifitas belajar dan membuat peserta didik lebih senang dan rileks. Terlihat terdapat peningkatan yang signifikan pada mata materi kewirausahaan. Peserta didik lebih mudah memahami materi kewirusahaan dengan menggunakan BMC. Penerapan model BMC menjadikan peserta didik lebih mudah memahami materi kewirausahaan tanpa beban tetapi justru merasa senang, interaksi antar peserta didik di dalam kelompok belajarnya menjadi hidup, sehingga KBM dapat berjalan secara kondusif. Peran guru sebagai fasilitator dan motivator menjadikan peserta didik lebih kreatif dan semangat dalam belajar. (dj1/zal)

Guru MAN 4 Bantul

Author

Populer

Lainnya