Siapa Bisa Mengisi Tempat yang Ditinggalkan Didi Kempot? (19/Habis)

  • Bagikan
AKU PAMIT...: Ekspresi Didi Kempot di atas panggung saat tampil di DBL Arena, Graha Pena Surabaya (9/12). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

Hanya yang mampu menghadirkan corak baru dan memandang musik sebagai ritus hidup bersama yang bisa setara atau melampaui Didi Kempot. Berikut adalah tulisan penutup dari rangkaian kisah hidup dan perjalanan maestro campursari itu.

KHAFIDLUL ULUMJakarta, Jawa Pos

ADA Junior yang beranggota anak-anak para personel Koes Plus, tapi sulit rasanya menyebut mereka sebagai penerus Koes Plus.

Ada Oasis, tapi benarkah mereka The Beatles Part II? Sepertinya itu ulah iseng sebagian pihak saja.

Kalau mau melebar ke bidang lain, Indonesia sepertinya juga belum menemukan penulis sekaliber dan sekarismatis Pramoedya Ananta Toer. Sebagaimana Argentina tak kunjung menemukan pesepak bola yang namanya disebutkan dalam embusan napas yang sama seperti Diego Maradona.

Memang, tiap tokoh ada masanya, tiap masa ada tokohnya. Tapi, sekian masa lewat, sampai satu per satu personel Koes Plus dan The Beatles meninggal, toh belum tercapai ”kesepakatan universal” tentang siapa yang pantas disebut sebagai pengganti dua band besar itu.

Baca juga: Didi Kempot Berkawan dengan Berbagai Kalangan

Pramoedya juga sudah hampir 1,5 dekade berpulang. Pun, belum terdengar ada penulis Indonesia yang jaraknya dengan Nobel Sastra lebih dekat dari penulis kelahiran Blora, Jawa Tengah, tersebut. Dan, 3,5 dekade setelah nyaris sendirian membawa Argentina menjuarai Piala Dunia, Negeri Tango itu belum juga punya pahlawan dengan jasa sama besarnya dengan Maradona.

Daya ledak, pengaruh yang ditularkan, ketokohan, barangkali itu sebagian faktor yang membuat nama-nama di atas ”abadi”. Lalu, akankah Didi Kempot, yang punya semua faktor di atas, juga bakal sulit dicari penerusnya?

”Tergantikan tentu saja bisa, karena karya musik akan menemukan momentumnya, pada satu waktu dan zaman yang siap,” kata Aris Setiawan, dosen di Jurusan Etnomusikologi ISI Solo, kepada Jawa Pos.

Hanya, Aris menggariskan, yang bisa mengisi tempat kosong yang ditinggalkan Didi adalah dia atau mereka yang kreativitasnya bisa melampaui maestro campursari tersebut. ”Yang membawa corak baru. Sebagaimana Didi membawa gagrak anyar campursari menjadi lebih akar rumput dan diterima generasi milenial. Kalau hanya meniru, tak ada peniru yang lebih bagus dari aslinya,” tegas dia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *