33 C
Semarang
Kamis, 2 Juli 2020

Sandy Tak Bisa Lupa saat Diminta Tukar Biola dengan Mikrofon

Another

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru...

Susunan lagu Didi Kempot saat manggung kebanyakan hasil tawar-menawar dengan penonton, bukat setlist yang disiapkan dulu. Mau main apa, mau main pakai apa, bukan masalah. Yang penting bagi Didi para musisi pengiring dapat feel-nya.

SILVESTER K., Solo-FAHMI S., Surabaya

Didi Kempot lebih dari seorang bos atau komandan. Bagi para musisi yang selama ini mendukungnya, dia juga ayah, kakak, sekaligus saudara.

Karismanya begitu kental, keramahannya sangat terasa, dan visi bermusiknya juga begitu jelas. Musik, bagi musisi kelahiran Solo tersebut, bukan hanya sarana untuk mencari materi. Tapi lebih dari itu: sebagai media untuk menebar kebaikan.

”Yang saya pelajari dari beliau (Didi Kempot) adalah jangan ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. Itu pesan almarhum dulu waktu pertama kali beliau minta saya gabung di tim musiknya,” kenang Sandy Ria Ervinna, pemain biola grup pengiring Didi Kempot, saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo via sambungan telepon Selasa (19/5) pekan lalu.

Tujuh bulan lamanya Sandy bergabung menjadi penggesek biola di grup musik yang selalu mengiringi Lord Didi –sapaan Didi Kempot di kalangan para penggemar– dalam berbagai pentas. Dia mulai diperhatikan sang maestro campursari itu pada pentas dalam panggung yang sama di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, pertengahan 2019.

”Dari sana kemudian dikontak manajernya (Didi Kempot) untuk main bareng di Jogjakarta. Saya langsung mau,” kata perempuan asal Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tersebut.

Pentas di Kota Gudeg pada September tahun lalu itu pun menjadi pengalaman pertamanya bermain dengan sosok musisi yang telah lama dia idolakan tersebut. Konser sepuluh lagu itu dibawakan dengan spontan.

Meski, seperti biasanya, mereka tidak melalui proses latihan. Sandy hanya diberi daftar lagu yang akan dibawakan pada pentas malam itu. ”Baru tahu daftar lagunya itu pun sejam sebelum manggung. Tapi, tidak masalah, saya memang ngefans dengan beliau, jadi sudah familier dengan lagu-lagunya,” papar Sandy.

Basic Sandy musik klasik dan pop. Jadi, pentas di Jogjakarta tersebut juga jadi pentas pertamanya memainkan lagu-lagu campursari dan congdut (keroncong dangdut) sebagai seorang pemain biola. Karena makin sibuk, dia pun harus mengurangi sejumlah kegiatan lainnya.

Sandy yang sebelumnya merupakan guru seni musik di salah satu SD swasta di Ungaran akhirnya memilih berhenti sejenak dari kegiatan mengajar. Sejumlah siswa yang ikut kelas privat berlatih biola dengannya pun dia tinggalkan demi bisa tampil dengan sang idola dalam berbagai kesempatan.

”Waktu saya gabung (dengan grup musik Didi Kempot, Red) kan memang lagi sibuk-sibuknya tur keliling kota. Sehari bisa dua–tiga pentas,” bebernya.

Meski sudah mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan pola pentas Lord Didi, Sandy masih penasaran alasan yang sebenarnya diajak bergabung menjadi pemusik dalam grup tersebut. Mengingat sebelum dirinya, banyak pemain biola lain yang sempat manggung bersama sang maestro. Dan tak jarang kemampuan mereka lebih jago ketimbang dirinya.

”Jawab beliau cuma gini, bukan dia yang cari saya, tetapi saya yang cari dia. Ternyata beliau tahu kalau saya fans beratnya. Akhirnya beliau merekrut saya untuk jadi pemain biolanya,” kenang Sandy.

Salah satu hal yang Lord Didi suka dari Sandy adalah tak banyak tanya dan selalu siap. Sandy pun teringat dengan kata-kata Didi yang disampaikan di sela-sela sebuah pentas.

”Walaupun opo ngko (apa nanti, Red) yang terjadi, pokoke kowe melu aku yo (pokoknya kamu ikut aku ya),” ungkap Sandy menirukan ucapan Didi kala itu.

Sandy tak banyak berpikir kala itu, kecuali hanya menjawab tawaran tersebut dengan: siap. Setelah tujuh bulan bergabung dengan grup musik yang mengiringi Lord Didi, Sandy merasa menemukan musik yang benar-benar membuatnya puas dalam musikalitasnya.

”Rasanya begitu cepat saya kenal dengan beliau, tapi saya begitu merasa kehilangan. Dari beliau saya menemukan jati diri dalam bermusik, sebuah pengalaman yang tidak akan tergantikan,” tegasnya tentang sang idola yang berpulang pada 5 Mei lalu itu.

Sandy, bersama Dory Harsa, merupakan para pemusik di belakang Didi yang paling banyak dikenal. Sandy pernah diminta Didi untuk mengisi vokal. Sedangkan Dory berduet dengan sang maestro di lagu Kangen Nickerie. Sayang, permintaan wawancara dari Jawa Pos dan Jawa Pos Radar Solo kepada Dory belum berbalas sampai berita ini ditulis.

Sandy juga mengakui momen ketika dia diminta menukar biola dengan mikrofon oleh Didi sebagai momen spesial. Dalam konser di Stadion Kridosono, Blora, Jawa Tengah, pada 23 Februari 2020 itu, Sandy yang menyanyikan lagu ”Suket Teki”, sedangkan Didi main biola. ”Itu pengalaman pertama kali saya manggung, tapi bukan main biola,” kenang perempuan 27 tahun tersebut.

Marsu Guntoro atau Si Gun membenarkan, selama 12 tahun menjadi pemain gitar Didi, penyanyi yang menghabiskan masa kecil di Ngawi, Jawa Timur, itu jarang melakukan latihan. Apalagi di saat jadwal manggung padat seperti setahun terakhir.

”Latihan baru kalau ada request dari artis lain, misal pengin diiringi gitar pas perform sama Mas Didi. Cuma itu,” ungkapnya ketika dihubungi Jawa Pos.

Selebihnya, latihan dilakukan mandiri oleh masing-masing. Tanpa komando Didi. ”Kami ini sudah diuwongke (diorangkan) Mas Didi, jadi harus benar-benar tanggung jawab sama tugas,” tuturnya.

Didi, kata Gun, juga selalu manggung tanpa setlist (daftar lagu yang dibawakan). Bahkan, kalau EO mengajukan list pun, pasti ditolak. ”(Penampilan) beliau itu seperti air mengalir. Susunan lagu yang dibawakan sering kali hasil tawar-menawar dengan penonton,” bebernya.

Apakah tim musik kaget? Kata Gun, tidak. Sebab, lagu yang dibawakan relatif sama. ”Cuma urut-urutannya yang beda. Jadi, beliau se! (aba-aba memulai lagu), langsung deng… Musik. Wis. Kan gitu modelnya kalau Mas Didi tampil,” lanjutnya.

Kalau pas ngobrol bareng para pemusik pendukung, Didi tidak banyak menuntut harus begini, harus begitu. Dia hanya menuntun agar pemusik yang mengiringinya menemukan feel yang sama seperti yang dia rasakan saat membawakan lagu itu.

Intinya, tidak pernah ada masalah dengan apa yang dimainkan dan alat musik seperti apa yang dipakai pemusiknya. ”Saya sendiri sudah ganti gitar dua kali. Pertama saya pakai Fender Stratocaster yang tipikal suaranya tebal, tapi waktu saya ganti dengan Ibanez RG Series yang tone-nya lebih tajam juga tidak masalah. Mas Didi ini cenderung membebaskan kami agar bisa menemukan perasaan yang menyenangkan saat bermain mengiringinya,” beber Gun.

Dari semua pemain musik yang mengiringi Lord Didi, tentu yang paling dekat adalah mereka yang sudah lebih dari 20 tahun terakhir ini mengiringi pentas sang maestro. Salah satunya sang keyboardist Didit Endarto Susilo.

Didit pun tahu sekali kepiawaian Didi dalam membuat lagu. Inspirasinya kerap datang dari berbagai hal, baik dari pengalaman sendiri, pengalaman kawan, maupun melihat situasi secara umum. Dari sana lahirlah lirik-lirik yang ringan dan mudah dipahami masyarakat, tapi sarat makna.

”Biasanya mampir ke rumah saya (di Gentan, Baki, Sukoharjo) hanya untuk berbagi idenya. Tidak kenal waktu, bisa pagi, siang, sore, bahkan malam pun jadi,” jelas pria 47 tahun yang sudah 22 tahun mengiringi Didi itu.

Umumnya, Didi saat datang untuk mendiskusikan lagu sudah memiliki arah yang jelas. Mulai tema yang akan dipakai untuk menggambarkan alur cerita hingga pilihan genre yang akan dipakai. Kalau sekarang biasanya pop Jawa atau congdut.

”Kalau pas mau bikin lagu, biasanya saya sama ngedep keyboard untuk cari-cari melodinya. Ngulik-ngulik sama Mas Didi ini bisa satu sampai tiga hari hingga siap dibawa ke studio untuk take vocal. Referensi musik beliau ini oldies Barat, slow rock, sama lagu-lagu Jawa,” beber Didit.

Hampir semua alur penciptaan karya Lord Didi ditangani sendiri. Didit hanya membantu membuat musik yang dimainkan sesuai keinginan beliau. Sebagai contoh di lagu Banyu Langit.

Di bait pertama, Lord Didi menginginkan musik yang sendu untuk membangun suasana kerinduan dan kesedihan. Baru di pertengahan bait kedua, irama congdut yang energik mulai masuk menggantikan suasana sendu yang ada di bagian sebelumnya. ”Kadang kasih arahan misalnya bagian ini dibuat koplo, yang ini dibuat rancak, dan sebagainya,” kata Didit.

Di luar urusan musik, Didi merupakan sosok yang sangat akrab kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal sekalipun. Itu terlihat dari kebiasaannya yang kerap membantu siapa saja yang dia pandang butuh bantuan.

Bagi Didit, penyanyi yang berpulang dalam usia 53 tahun tersebut lebih dari sekadar bos, tapi juga sebagai kakak dan kawan dekat. ”Pada 2017 lalu anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Mas Didi yang urus semua dari awal sampai selesai pemakaman anak saya,” kenang pemusik 47 tahun itu.

Begitu juga halnya saat Didit diopname. Didi yang membantu biayanya. ”Pokoknya, orangnya sangat baik. Baik di urusan musik maupun dalam berbagai urusan lainnya. Beliau sangat perhatian dengan anak buah dan orang-orang yang ada di sekitarnya,” kenang Didit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

Tambah Puyeng, Suami Nganggur

RADARSEMARANG.COM, LADY Sandi, 38, harus siap menanggung beban dua kali lebih besar setelah menjatuhkan talak suaminya. Bukan tanpa alasan, John Dori, 45, yang gagah...

Tiga Bersamaan

Tiga orang hebat ini punya ide yang mirip-mirip. Hafidz Ary Nurhadi di Bandung, dr Andani Eka Putra di Padang dan Fima Inabuy di Kupang,...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Laporkan Penyidik ke Propam Polda

SEMARANG – Kasus dugaan penipuan rumah hadiah Olimpiade milik mantan pelatih taekwondo nasional Alex Harijanto, 77, memasuki babak baru. Selasa (28/2) kemarin, Alex melaporkan...

Nilai Pancasila Jaga Harmoni Kehidupan

DEMAK – Nilai-nilai Pancasila yang dipraktikkan masyarakat dapat menjaga harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari...

Punya 400 Nasabah, Sebulan Kumpulkan 100 Kg Sampah

Sampah kemasan minuman kerap dibuang begitu saja. Namun di tangan para pengelola Bank Sampah Resik Becik, bisa disulap menjadi aneka produk yang bernilai ekonomis...

Kekeringan Meluas, Stok Air Menipis

TEMANGGUNG—Stok air bersih untuk antisipasi kekeringan di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung semakin menipis. Tepatnya, tinggal 20 tangki. Padahal, diprekdisikan kemarau masih...

Amankan 9 Kg Obat Mercon

PURWOREJO—Satuan Reskrim Polres Purworejo mengamankan Dian Apriyanto, 19, warga Desa Karangayar Kecamatan Pituruh Kabupaten Kebumen. Ia ditangkap di rumahnya, Rabu (7/9) lalu karena menyimpan...

Sulit, Evakuasi Longsoran Tebing

MUNGKID-Bencana tanah longsor masih menghantui masyarakat Kabupaten Magelang. Hujan deras yang terjadi pada Senin siang (30/1) lalu, mengakibatkan sedikitnya lima titik longsor di Kecamatan...