Memahami Cerita menjadi Menyenangkan melalui Model Storytelling

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Di sebagian besar sekolah, pada umumnya untuk siswa kelas rendah, membaca cerita merupakan kegiatan belajar yang menyulitkan peerta didik, apalagi kurangnya pemahaman peserta didik terhadap bacaan dongeng yang terdapat dalam buku. Hal ini memang terjadi karena terdapat kekurangan pada bacaan dongeng di beberapa buku pembelajaran. Bacaan dongeng yang ditampilkan masih sangat singkat, dan kemampuan bercerita sangat penting jika peserta didik ingin memahami bacaan dongeng.

Menurut Nurbiana (2005: 6) bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah dongeng yang untuk didengarkan dengan rasa menyenangkan, oleh karena orang yang menyajikan cerita tersebut menyampaikannya dengan menarik.

Storytelling merupakan sebuah seni bercerita yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai pada anak yang dilakukan tanpa perlu menggurui sang anak. Dengan model Storytelling peserta didik dapat mengamati dan mendengarkan secara langsung bacaan dongeng itu diceritakan ditambah dengan bantuan alat untuk membuat peserta didik semakin antusias dan lebih mudah memahami isi dari bacaan dongeng tersebut.

Baca juga:   Belajar Flora dan Fauna dengan Membuat Kliping

Saya Guru Kelas 2 SDN 1 Karangayu kecamatan Cepiring menggunakan model Storytelling dengan langkah pertama yaitu peserta didik dibuat tertarik dengan apersepsi guru sebelum melakukan Storytelling. Kegiatan storytelling dapat dimulai dengan menyapa terlebih dahulu peserta didik, ataupun membuat sesuatu yang dapat menarik perhatian peserta didik. Kemudian secara perlahan guru dapat membawa peserta didik memasuki cerita dongeng. Guru harus melakukan kontak mata dengan peserta didik. Pandanglah peserta didik dan diam sejenak. Dengan melakukan kontak mata peserta didik akan merasa dirinya diperhatikan dan diajak untuk berinteraksi.

Jangan lupa bahwa mimik wajah guru dapat menunjang hidup atau tidaknya sebuah cerita yang disampaikan. Kemudian gerak tubuh guru waktu proses storytelling berjalan dapat turut pula mendukung dalam menggambarkan jalan cerita yang lebih menarik. Cerita yang didongengkan akan terasa berbeda jika guru melakukan gerakan-gerakan yang merefleksikan apa yang dilakukan tokoh-tokoh yang didongengkannya.. Lalu, tinggi rendahnya suara yang diperdengarkan dapat digunakan guru untuk membawa peserta didik merasakan situasi dari cerita yang didongengkan, dan adanya alat peraga seperti misalnya boneka kecil yang dipakai di tangan untuk mewakili tokoh yang sedang menjadi materi dongeng, membuat anak merasa ingin tahu dengan materi dongeng yang akan disajikan.

Baca juga:   Meningkatkan Hasil Belajar Pecahan dengan Pendekatan Joyful Learning

Ketika proses storytelling sudah selesai dilaksanakan, tibalah saatnya bagi guru untuk mengevaluasi cerita. Maksudnya, guru menanyakan kepada peserta didik tentang inti cerita yang telah disampaikan dan nilai-nilai yang dapat diambil. Melalui cerita tersebut, kita dapat belajar tentang apa saja. Setelah itu guru dapat mengajak peserta didik untuk gemar membaca dan merekomendasikan buku-buku bacaan yang sesuai dengan tema yang tadi sudah didongengkan atau merekomendasikan buku-buku dengan tema lain yang isinya menarik, sarat dengan nilai-nilai positif. Kegiatan pembelajaran menggunakan model Storytelling menciptakan suasana yang menyenangkan bagi peserta didik. (on1/ton)

Guru SDN 1 Karangayu Kec. Cepiring Kab. Kendal

Author

Populer

Lainnya