Didi Kempot Itu Nganggo Rasa dalam Memilih Kata (17)

  • Bagikan
KONSISTEN DENGAN BAHASA JAWA: Didi Kempot bersama Ring of Fire saat tampil dalam Jazz Gunung di kawasan Bromo, Jawa Timur, pada Juli tahun lalu. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Didi Kempot berperan penting melambungkan musik campursari serta meluaskan pemakaian bahasa Jawa, khususnya ngoko. ”Koder” dalam Sekonyong-konyong Koder contoh penemuan yang brilian.

DIAR CANDRA, Sidoarjo, Jawa Pos

DALAM jagat bernama Didi Kempot, patah hati dan joget hanyalah sebagian partikel. Masih ada serpihan-serpihan penting lainnya berupa bahasa lugas, dialek tak lazim, puisi yang organik, dan jarak yang terpangkas.

”Lagi mau bengi aku telponan karo Pak Tet (Butet Kertaradjasa, Red) nggo mbahas soal suku kata neng lirik lagu Didi Kempot. Bahasane duowo (Baru tadi malam ngobrol di telepon dengan Pak Tet untuk membahas soal suku kata di lirik lagu Didi Kempot. Pembahasannya panjang),” kata Pemimpin Redaksi Tabloid Bahasa Jawa Jawacana Paksi Raras Alit ketika dihubungi Jawa Pos Senin lalu (18/5).

Paksi menjelaskan, bahasa Jawa yang digunakan musisi 53 tahun itu tak lazim digunakan dalam bahasa Jawa gaya Mataraman.

Dialek Mataraman adalah gaya bahasa yang dipakai di area Jogja, Solo, dan beberapa wilayah sekitar yang terpengaruh budaya eks Kerajaan Mataram Islam.

Paksi mencontohkan kata dhadha. Ketika mendapatkan akhiran -ku seharusnya dibaca dhadhaku, bukan dhodhoku. Dan, dalam beberapa lagu Didi Kempot terdapat distorsi dari pemakaian gaya bahasa Jawa Mataraman tersebut.

Misalnya, dalam lagu Pamer Bojo. Dalam lirik teles kebes netes eluh neng dhadhaku oleh Didi Kempot diucapkan menjadi teles kebes netes eluh neng dhodhoku. ”Dalam dialek Mataraman, hal-hal seperti itu masih mendapat perhatian. Nek disebut salah ki yo ora, bahasa ki ra ono sing salah,” kata Paksi.

Paksi mengutip tulisan di laman Facebook pegiat seni Jogja Ikun Sri Kuncoro yang juga membelejeti lirik lagu Didi Kempot dengan sangat detail. Di lagu Taman Jurug, misalnya, terdapat penggalan lirik cahyaning bulan nrajang pucuking cemara.

”Kenapa yang dipakai nrajang, bukan nrabas, padahal artinya sama. Tapi, Didi Kempot dengan intuisinya memilih nrajang,” ucap Paksi. Nrajang dalam Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa) karya W.J.S. Poerwadarminta berarti nempuh, nyerang, nasak. Sedangkan nrabas dalam kamus yang sama bermakna nrajang tengah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *