PjBL Gugah Sikap Wirausaha

spot_img

RADARSEMARANG.ID, KUALITAS pendidikan di Indonesia meningkat seiring dengan dilakukannya pembenahan pendidikan yang mengikuti perubahan dan perkembangan kehidupan yang saat ini tengah terjadi di abad 21. Salah satu pembenahan pendidikan tersebut adalah dengan melakukan perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013.

Model Project Based Learning (PjBL) dapat membangun peserta didik untuk mendapatkan proses pembelajaran yang bermakna, dimana peserta didik membangun pengetahuan berdasarkan pengalamannya sendiri dan pengalaman belajar secara langsung (Puspitasari et al., 2018). Peserta didik dituntun mulai dari merencanakan proyek hingga terbentuknya sebuah produk.

Pendekatan pembelajaran kimia CEP yang diterapkan di SMAN 15 Semarang merupakan pendekatan yang dikembangkan dengan mengaitkan langsung pada objek nyata yang ada disekitar kehidupan manusia sehingga peserta didik dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi sebuah produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi, serta dapat memotivasi peserta didik untuk berwirausaha (Kusuma & Siadi, 2010). Melalui pembelajaran berpendekatan CEP dapat mewujudkan pembelajaran kimia yang menarik serta mendorong daya kreasi dan inovasi peserta didik.

Materi hidrolisis garam merupakan materi kimia kelas XI semester genap dimana mempunyai karakteristik untuk disampaikan pada peserta didik dengan model PjBL. Pada penerapan model ini guru terlebih dahulu melakukan pre test pada peserta didik yang tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana peserta didik mengenal dan tahu tentang materi hidrolisis garam. Setelah peserta didik menyelesaikan pre test guru memberikan orientasi mengenai sabun sebagai contoh penerapan konsep hidrolisis garam. Guru memberi contoh membuat analisis biaya usaha /biaya produksi pembuatan sabun serta cara pemasaran dari hasil produk sabun yang telah dibuat. Guru juga memberikan cara menganalisis biaya produksi pembuatan pemutih pakaian, sebagai contoh penerapan konsep hidrolisis lainnya, serta cara pemasarannya.

Baca juga:   Pengembangan Media Pembelajaran Matematika

Setelah guru menyampaikan semuanya, guru mulai memonitoring peserta didik dalam pembuatan rancangan proyek pembuatan sabun, rancangan analisis biaya dan rencana pemasaran produk. Dari tahap inilah tampak kreativitas peserta didik dalam merancang proyeknya, mulai dari menganalisis biaya produksinya sampai dengan rencana-rencana yang akan dilakukan untuk memasarkan produk sabunnya itu agar laku di pasaran. Pada pertemuan berikutnya guru meminta peserta didik melakukan pengamatan dan berdiskusi tentang perubahan warna indikator kertas lakmus jika diujikan di beberapa sample larutan garam. Pada pertemuan kali ini peserta didik diharapkan dapat menentukan perubahan warna indikator kertas lakmus jika diujikan pada larutan garam yang bersifat asam, garam yang bersifat basa maupun garam yang netral. Selain itu peserta didik juga diminta untuk menguji produk sabun yang telah mereka buat dengan indikator kertas lakmus untuk mengetahui sifat asam basa dari sabun tersebut.

Hal ini ada kaitannya dengan pengendalian mutu dari suatu produk kebersihan dimana syarat sabun yang baik dan memenuhi standar kesehatan adalah mempunyai derajat keasaman (pH) 4 sampai dengan 6. Setelah kegiatan pengamatan ini selesai lalu guru membimbing peserta didik untuk melakukan proyek sesuai dengan rancangan proyek yang dibuat secara berkelompok sebelumnya. Guru membimbing peserta didik untuk menyajikan hasil proyek dalam penulisan laporan sementara yang berisi pengamatan, rancangan analisis biaya dan rencana pemasaran produk. Pada pertemuan akhir guru menggali pengetahuan peserta didik tentang cara menentukan pH garam yang bersifat asam, basa maupun netral pada pertemuan berikutnya. Setelah itu, peserta didik mempresentasikan hasil proyek yang telah dibuat, termasuk analisis biaya produksi sabun, keuntungan yang didapat sampai dengan cara pemasaran produk tersebut di depan kelas..

Baca juga:   Uprak Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi dan Penurunan Titik Beku melalui Daring, Menjadi Mudah

Penerapan model PjBL dalam pembelajaran materi hidrolisis garam ternyata dapat meningkatkan pemahaman peserta didik tentang materi tersebut. Bahkan dapat meningkatkan sikap wirausaha peserta didik terutama untuk membuat produk-produk kimia yang berhubungan dengan materi hidrolisis garam tersebut. Pada saat presentasi kelompok yang dilakukan di depan kelas ternyata setiap kelompok mempunyai ide yang berbeda-beda tentang cara menjual atau mempromosikan produk sabunnya itu. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik memiliki sikap kewirausahaan yang cukup baik. Sedangkan kemampuan kognitif dari peserta didik dapat dilihat salah satunya darinilai hasil post test yang dibandingkan dengan nilai pre test. Ternyata sebagian besar peserta didik menghasilkan nilai post test yang lebih baik daripada nilai pre test. (gml1/zal)

Guru Kimia SMAN 15 Semarang

Author

Populer

Lainnya