33 C
Semarang
Kamis, 16 Juli 2020

Religiusitas dan Kedekatan Didi Kempot dengan Kaum Santri (13)

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Ada sejumlah lagu Didi Kempot yang memperlihatkan sisi religiusitas maestro campursari itu, termasuk satu di antaranya yang belum sempat dirilis. Menurut para sahabat, yang dia nyanyikan itu linier dengan tindak kesehariannya.

KHAFIDUL ULUMJakarta, Jawa Pos

BERTEMAN kopi dan sejumlah hidangan, mereka berbincang akrab. Seperti dua teman lama yang baru bertemu lagi setelah sekian lama terpisah.

Padahal, itu pertemuan pertama mereka. Yang diawali telepon seorang perwakilan Didi Kempot ke Ketua Umum PP Pencak Silat Nahdlatul Ulama (NU) Pagar Nusa M. Nabil Haroen.

”Memang Mas Didi yang ingin bertemu, tapi di sisi lain saya memang ngefans sama Mas Didi. Jadi, sama-sama pengin lah,” tutur Nabil kepada Jawa Pos tentang pertemuan tiga tahun lalu di sebuah hotel di Jakarta itu.

Yang mengesankan Nabil, dalam pertemuan santai tersebut, Didi banyak bertanya tetang Islam Nusantara dan amaliah yang dilakukan. Nabil yang kini juga anggota DPR itu pun dengan senang hati menjelaskan apa itu Islam Nusantara, apa juga amaliahnya, serta tentang NU, dan para kiainya.

Tapi, pria yang akrab disapa Gus Nabil tersebut tidak tahu apakah penjelasan yang dia sampaikan itu yang kemudian menjadi inspirasi Didi dalam menciptakan lagu tentang perjuangan NU. Ya, berjarak sekian waktu dari obrolan dengan Gus Nabil tersebut, Didi memang menulis lagu ”Islam Nusantara”.

Gambarnya bumi, ada talinya

Bintangnya sembilan, melingkari buminya

Itu lambangnya, juga tempatnya

Para kiai dan ulama’nya

Itulah Nahdlatul Ulama

Sering disebut NU

Selalu gigih berjuang

Sejak jaman penjajahan

Demikian penggalan lagu yang dinyanyikan sendiri oleh Didi itu. ”Bagi saya, pertemuan kami itu memperlihatkan kuatnya sisi religiusitas Mas Didi. Dia banyak bertanya tentang Islam,” kata Gus Nabil saat dihubungi Minggu lalu (17/5).

Sebelum ”Islam Nusantara”, Didi pernah melansir ”Mampir Ngombe” yang liriknya ditulis Heri S. Di situ dia bicara tentang hidup yang fana, yang hanya mampir ngombe (mampir minum) dan seharusnya digunakan untuk mencari bekal sebaik-baiknya untuk di akhirat kelak.

Ngibadah ojo ditinggalke

Becike ayo dijalake

(Ibadah jangan ditinggalkan perbuatan baik ayo dijalankan)

Dalam keseharian, itu ternyata dipraktikkan Didi. Ketika datang pada tujuh hari meninggalnya maestro campursari itu di Ngawi, Gus Nabil mendapat banyak cerita bagaimana semangat Didi dalam beribadah. Bahkan, dia sering mengingatkan keluarga untuk salat lima waktu.

Kepada para kru dan orang-orang di sekitar, Didi juga sangat perhatian. Dia sering menanyakan kabar anak dan keluarga. Misalnya, bertanya apakah anaknya sudah makan, minum susu, atau apakah mereka dalam keadaan sehat.

Suatu kali, ada salah seorang kru yang mengalami kecelakaan dan patah tulang. Tanpa memberi tahu, Didi datang ke rumah sakit dan membayar semua biaya pengobatan serta perawatan kesehatan.

”Dan, banyak sekali amal yang bisa menjadi contoh dan inspirasi,” papar dia.

Cerita lain datang dari Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PB NU Robikin Emhas. Pada 23 Juli 2019, di puncak ketenarannya, Didi sowan ke kantor PB NU di Jakarta dan disambut langsung oleh Ketua Umum PB NU Said Aqil Siroj.

Dia datang sebagai santri, bukan sebagai tokoh. ”Dia menunjukkan akhlak yang mulia,” terang dia.

Dalam pertemuan itu, Didi bercerita bahwa dirinya sangat kagum dengan NU. Sebab, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu bisa mengayomi dan menjadi rujukan masyarakat luas. Dia juga sangat menghormati para kiai NU.

Jiwa sosial Didi, lanjut Robikin, juga sangat tinggi. Pertama, itu ditunjukkan bagaimana Didi dengan senang hati bersedia datang dalam konser amal di TMII. Padahal, konser digelar dadakan.

Selain itu, Didi sangat semangat menggelar konser amal secara virtual untuk masyarakat terdampak Covid-19. Dana yang terkumpul pun besar, miliaran rupiah. Dan, sekitar Rp 2 miliar di antaranya disalurkan melalui PB NU.

”Itu amal jariah yang sangat berharga. Semoga Allah memberikan balasan,” tutur dia.

Karena itu pula, Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) M. Hasanuddin Wahid menyebut Didi bukan sekadar seniman, melainkan juga terapis sosial. Walaupun lagu-lagunya sangat kental nuansa Jawa, masyarakat dari suku dan etnis apa pun bisa menikmatinya.

PKB pernah mengundang Didi untuk menghibur para kader dan masyarakat saat perayaan ulang tahun mereka pada 23 Juli 2019. Penonton pun membeludak. Bahkan, sebelum Wakil Presiden (ketika itu) Jusuf Kalla selesai memberikan sambutan, penonton merangsek ke dalam.

Yang kedua, Didi diundang menghadiri acara ulang tahun Fraksi PKB yang digelar di lapangan DPR, Senayan, Jakarta, pada 31 Oktober 2019. Lapangan parlemen pun penuh dengan manusia. Mungkin baru kali itu acara di gedung parlemen disesaki masyarakat.

Mas Didi mengajarkan bahwa lagu itu alat bagi masyarakat untuk menguatkan dan mendinamisasi hidup mereka, bahkan menjadi pemantik terjadinya perubahan sosial,” kata Hasanuddin.

Ada satu tinggalan Didi yang menurut Nabil kian memperlihatkan religiusitas penyanyi legendaris tersebut. Lagu itu mengandung makna yang sangat dalam. Didi mengungkapkan keinginan masuk surga. Dan, bagaimana dia merasa mempunyai banyak dosa.

”Lagunya sudah saya dengarkan, seperti apa? Nanti akan dirilis, ya. Ini karya terakhir Mas Didi. Audionya sudah selesai, tapi video clip-nya belum sempat dibuat,” tutur Nabil.

Kini tiap kali rindu sahabatnya yang dulu hampir tiap hari meneleponnya itu, Gus Nabil memilih mendengarkan kembali rekaman percakapan mereka. Rekaman tersebut tersimpan di ponselnya.

Di Ngawi, Gus Nabil juga mendapat cerita bagaimana sesaat sebelum meninggal dunia, Didi tidak henti-hentinya melantunkan takbir dan kalimat la ilaha illallah. ”Itu diucapkan berkali-kali. Semoga Mas Didi husnulkhatimah” ucapnya. Amin.

Berita sebelumyaLuka Lama
Berita berikutnyaSetan Sembunyi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

1.000 Sajadah untuk Anak Tambak Lorok

SEMARANG – Komunitas Asa Edu, yang bergerak di bidang pendidikan anak-anak pesisir, menggelar berbagai acara menarik di bulan Ramadan ini di kawasan Tambak Lorok,...

HMI Diharapkan Bela Kepentingan Masyarakat

SALATIGA – Wali Kota Salatiga Yuliyanto berharap Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Salatiga turut aktif dalam menjaga kerukunan masyarakat Kota Salatiga. "Sebagai organisasi yang...

Dua Bulan, 15.318 GTT dan PTT Belum Gajian

SEMARANG - Sebanyak 7.768 guru tidak tetap (GTT) dan 7.550 pegawai tidak tetap (PTT) di lingkup SMA/SMK se-Jateng, hingga Rabu (1/2) kemarin belum menerima...

3 Petahana Kembali Mendaftar

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Sebanyak 22 orang resmi mendaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah. Sementara...

Tak Punya Basic Menari, Kreatif Padukan Ragam Tari

RADARSEMARANG.COM - Perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Di sisi lain, kebudayaan tradisional penting untuk dilestarikan. Hal tersebut mendorong siswa-siswi SMAN 14 Semarang mengombinasikan keduanya...

Sopir Taksi Maksi

Oleh: Dahlan Iskan “Pak Dahlan ya…?” tanya sopir taksi itu. Saat saya masuk ke Blue Bird. Di dekat rumah saya di SCBD Jakarta. Saya tersenyum saja. Teman...