33 C
Semarang
Rabu, 5 Agustus 2020

’’Rumah” dari Mas Didi untuk Yang di Suriname, di Timor, di Mana Saja (11)

Oleh DOMINGGUS ELCID LI,*

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

Rasa Kedaulatan yang Dinyanyikan dengan Bahagia

Hanya sedikit orang yang bisa mengerti keinginan atau rasa banyak orang. Didi Kempot di antara yang sedikit itu yang lagunya diterima, dinyanyikan bersama, ditanggap dari kampung hingga kota, juga lintas benua, dalam rasa Jawa yang lekat.

TAJUK tur terakhir Didi Kempot ke Suriname pada 2018 adalah Layang Kangen Tournee. Kesetiaannya menyanyi dalam bahasa Jawa memberikan kesempatan kepada orang-orang Jawa atau keturunan Jawa di sana untuk ’’pulang” atau sekadar ’’tombo kangen”.

Tentu tidak semua orang Jawa di Suriname patah hati dalam konteks bercinta antaranak manusia, tetapi patah hati yang tidak terjelaskan dalam pengertian ’’wong sing kelangan omah (orang yang kehilangan rumah)” begitu terasa.

Orang Jawa di Suriname sulit pulang ke Jawa modern terkini, yang ’’kelas ningrat anyarnya” lebih fasih bahasa ’’Enggres” atau bahasa Indonesia atau bahasa Arab ketimbang bahasa Belanda, bahkan bahasa Jawa.

Setelah Bung Karno memutuskan mengamputasi bahasa Belanda dari negeri ini, makin sulit orang Jawa di Suriname ’’pulang”. Jejak kolonial Londo itu semakin susah diungkit.

Dadi kangen ki ra mesti masalah asmara (kangen itu tidak selalu terkait masalah asmara). Masalah orang diaspora yang senantiasa mencari rumah yang sudah tiada lagi dijembatani kembali oleh orang seperti Didi Kempot.

Menyebut diaspora ini tidak serta-merta harus pergi jauh menyeberang lautan. Pekerja pabrik, pekerja rumah tangga, LSM, kantoran yang tidak bisa mudik dari Jakarta saja juga bisa disebut diaspora orang Jawa.

Bahasa: ’’Rumah Makna”

Letak bahasa Indonesia juga berjalan jauh meninggalkan bahasa Melayu yang menjadi induknya dulu, juga tidak mudah dimengerti entah oleh orang Malaysia, juga oleh orang berbahasa Melayu yang ada di pedalaman Sumatera dan sekian pulau di sekitarnya.

Memang, di satu sisi bahasa Indonesia telah semakin kaya dengan berbagai kosakata baru, tetapi perkembangannya kadang terlalu teknokratis. Kekalahan berantai dalam bidang teknologi dan filsafat membuat ’’ruang dalam” yang ada cenderung cuma tempelan demi tempelan. Ruang dalam dari berbagai rumah bahasa di negeri kepulauan ini cenderung diabaikan atau dianggap sama (secara ceroboh).

Setelah kaum ningrat di era Pak Harto memutuskan bahasa kedua di Indonesia adalah bahasa ’’Enggres”, segala jenis kata yang baru dihafal ’’di-Indonesia-kan” dengan jenaka, seolah-olah itu bahasa simbahe dhewe. Ada rasa minder, atau kalau menggunakan bahasa adopsi Londo anyar, ’’inferioritas” yang coba ditutup-tutupi oleh orang yang coba-coba merdeka.

Bagi Didi Kempot, kehadiran bahasa Indonesia tidak serta-merta menghilangkan bahasa Jawa, terutama lewat lagu. Falsafah Didi adalah biarlah lagu-lagu berbahasa daerah berkembang sejauh-jauhnya.

Orang Timor macam saya mau kok belajar bahasa Jawa. Si Pigay dari Papua, yang mulutnya nyelekit itu, bisa kok bahasa kromo inggil. Kok bisa?

Untuk mengerti ’’rumah makna” orang Jawa, tidak ada cara selain mempelajari bahasa Jawa. Dan, sebaliknya, ketika orang Jawa berusaha memahami orang lain. Wong Timor ki ra kabeh wong alas, ono yo sing iso ngerti awakmu (orang Timor itu tidak semuanya orang hutan, ada juga yang bisa mengerti dirimu) hehehe…

Dengan cara itu, ’’tentara Indonesia” tidak perlu menambah delapan batalyon angkatan darat di kampung saya. Bukan pembawa belati atau pelor yang harus disebarluaskan, melainkan ruang dalam antarmanusia yang berupa ragam ini yang perlu dipahami dan dipahami secara terus-menerus.

Ya, kita mesti berbeda, tetapi beda saja, jangan dibuat kasta. Dalam frasa Indonesia, segala jenis penjajahan bisa dihidupkan atas nama ’’kepentingan nasional’’ yang sering tidak dimengerti penduduk setempat. Kritik itu dengan baik sekali dijelaskan Didi Kempot.

Secara mendasar, sejak awal Bung Hatta mengingatkan bahwa ’’persatuan bukanlah persatean” yang amat dekat sikap jemawa kuasa atau tirani. Dengan mudah perbedaan diselesaikan dengan senjata. Buntutnya, kita jadi tidak pernah belajar bagaimana mendudukkan sekian rumah makna setelah sekian dekade republik berdiri.

Secara khusus kita alpa bicara soal Papua dan Kalimantan yang sudah lebih dahulu hancur dan jadi bancakan para ’’suket teki” yang dikira konglomerat irigasi tetes.

Rasa ’’ada di rumah” yang dialami penggemar campursari khas Didi Kempot juga dirasakan Glenn Fredly, penyanyi Jakarta yang pulang ke Ambon ketika sambil menangis menyanyikan lagu Hena Masa Waya… di tengah hutan.

Lagu tersebut sempat identik dengan lagu RMS (Republik Maluku Selatan), sampai Glenn berhasil membongkar stigma itu. Sebab, lagu tersebut ada sebelum konflik di era republik pasca Perang Dunia II.

DOMINGGUS ELCID LI,.Sosiolog, pendengar Didi Kempot, tinggal di Kupang, NTT

Berbeda Bukan untuk Dibunuh

’’Sekecil apa pun duit ngamen yang saya terima, duit itu hasil dari lagu saya. Saya tidak menyanyikan lagu orang lain,” tutur Didi Kempot ketika ditanyai Andi F. Noya tentang sejarahnya mencipta.

Jika dibahasakan dengan cara lain ’’Sekecil apa pun hasil tanah kami, itulah hasil dari tangan kami”. Rasa kedaulatan yang dinyanyikan dengan bahagia oleh Didi, kami mengerti.

Jauh di relung hati Didi, kehadiran bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional sekaligus bahasa persatuan tidak serta-merta menggantikan bahasa sehari-harinya. Rasane wong sing patah atine ra iso dinasionalke (rasa orang patah hati tidak bisa dinasionalkan).

Kekhususan itu dimengerti dengan baik oleh Didi. Dia bahkan memberi nama setiap tempat perjumpaan sekaligus perpisahan. Entah Stasiun Balapan, entah Solo, entah Wonosari. Lokasi-lokasi itu jelas disebutnya.

Setiap orang berasal dari suatu tempat. Ada rumahnya. Kecuali mereka yang menolak pulang. Dalam pengertian itu, ’’mudik” sebagai sebuah ritus bisa dimengerti.

Di Timor misalnya, anak-anak kota sering kali tidak bisa pulang ke kampung. Sebab, orang tuanya tidak mengajarkan bahasa nenek moyang.

Melampaui Samudra, Tak Pernah Ambyar

Memang hanya sedikit orang yang bisa mengerti keinginan atau rasa banyak orang. Didi Kempot di antara yang sedikit itu yang lagunya diterima, dinyanyikan bersama, ditanggap dari kampung hingga kota, juga lintas benua, dalam rasa Jawa yang lekat.

Sedikit orang yang punya tekad baja, untuk mewujudkan apa yang diyakininya dan dengan segala keasliannya. Di titik ini Didi tidak pernah ambyar.

Sebab, itulah keyakinan Didi Kempot yang dilakoninya sepanjang hidup. Keyakinan itulah yang mungkin membuat dia tetap kuat dan bertahan menyanyi dalam sakit untuk semua yang lagi susah dihantam korona. Ia ingin menghibur.

Di tengah globalisasi yang membuat orang merasa maju jika pergi dan sering tidak pernah bisa kembali atau menemukan rumah, Mas Didi tetap setia mengingatkan: ’’Harus ada tempat untuk pulang!”

Sejauh apa pun orang pergi. Seberapa lama pun orang pergi. Didi Kempot adalah matriks waktu yang memungkinkan orang untuk pulang.

Orang Jawa di Suriname yang dibawa pergi melampaui Samudra Atlantik seabad lampau menemukan titik pulang dalam Didi Kempot. Di sini, kaum pekerja, asisten rumah tangga, penulis kere, atau pejabat yang bosan korupsi (tapi tidak bisa berhenti) menemukan tambatan hatinya dalam lagu-lagu Didi Kempot.

Mas Didi telah menyediakan ’’rumah” agar kami dan mereka bisa mampir leren (istirahat). Atau hanya untuk sambat (curhat) sejenak.

Sugeng tindak Mas Didi Kempot! (*)

*) Sosiolog, pendengar Didi Kempot, tinggal di Kupang, NTT

Berita sebelumyaRumah Ghozi
Berita berikutnyaEka Eki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Stok Kepokmas Aman Hingga Lebaran

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) di Kota Salatiga relatif stabil. Meski dilapangan ada kenaikan harga, namun masih dalam batas yang wajar....

Satpol PP Segel Tower BTS Tak Berijin

UNGARAN – Puluhan Base Transceiver Station (BTS) atau menara telekomunikasi di Kabupaten Semarang belum berijin. Hal itu terungkap saat Satpol PP Kabupaten Semarang melakukan...

Pendamping Desa Dituntut Full Time

SEMARANG - Sebanyak 9.814 calon tenaga pendamping professional (TPP) Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) telah melakukan tes tertulis di kampus Universitas Diponegoro...

Pasar Perangkat Elektronik Terus Membaik

SEMARANG – Pabrikan produk elektronik terus bersaing, baik dari sisi teknologi maupun harga. Konsumen merespons positif, hingga membuat pasar perangkat elektronik ini semakin bergairah. Melihat...

Cegah Korupsi Kades Teken MoU dengan Kejari

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Sebanyak 239 desa se-Kabupaten Batang melakukan penandatanganan nota kesepahaman memorandum of understanding (MoU) atau prakontrak, bidang hukum dan tata usaha negara antara camat, kepala...

UTC Hotel Gelar Kartini Day

SEMARANG - Menyambut Hari Kartini, UTC Hotel Semarang akan mengadakan kegiatan bazaar dan aneka lomba untuk siswa TK-SMP. Kegiatan dengan tema Kartini Day with...