’’Rumah” dari Mas Didi untuk Yang di Suriname, di Timor, di Mana Saja (11)

  • Bagikan
MLEINTAS BATAS: Didi Kempot saat tampil di Jazz Gunung 2019 di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Rasa Kedaulatan yang Dinyanyikan dengan Bahagia

Hanya sedikit orang yang bisa mengerti keinginan atau rasa banyak orang. Didi Kempot di antara yang sedikit itu yang lagunya diterima, dinyanyikan bersama, ditanggap dari kampung hingga kota, juga lintas benua, dalam rasa Jawa yang lekat.

TAJUK tur terakhir Didi Kempot ke Suriname pada 2018 adalah Layang Kangen Tournee. Kesetiaannya menyanyi dalam bahasa Jawa memberikan kesempatan kepada orang-orang Jawa atau keturunan Jawa di sana untuk ’’pulang” atau sekadar ’’tombo kangen”.

Tentu tidak semua orang Jawa di Suriname patah hati dalam konteks bercinta antaranak manusia, tetapi patah hati yang tidak terjelaskan dalam pengertian ’’wong sing kelangan omah (orang yang kehilangan rumah)” begitu terasa.

Orang Jawa di Suriname sulit pulang ke Jawa modern terkini, yang ’’kelas ningrat anyarnya” lebih fasih bahasa ’’Enggres” atau bahasa Indonesia atau bahasa Arab ketimbang bahasa Belanda, bahkan bahasa Jawa.

Setelah Bung Karno memutuskan mengamputasi bahasa Belanda dari negeri ini, makin sulit orang Jawa di Suriname ’’pulang”. Jejak kolonial Londo itu semakin susah diungkit.

Dadi kangen ki ra mesti masalah asmara (kangen itu tidak selalu terkait masalah asmara). Masalah orang diaspora yang senantiasa mencari rumah yang sudah tiada lagi dijembatani kembali oleh orang seperti Didi Kempot.

Menyebut diaspora ini tidak serta-merta harus pergi jauh menyeberang lautan. Pekerja pabrik, pekerja rumah tangga, LSM, kantoran yang tidak bisa mudik dari Jakarta saja juga bisa disebut diaspora orang Jawa.

Bahasa: ’’Rumah Makna”

Letak bahasa Indonesia juga berjalan jauh meninggalkan bahasa Melayu yang menjadi induknya dulu, juga tidak mudah dimengerti entah oleh orang Malaysia, juga oleh orang berbahasa Melayu yang ada di pedalaman Sumatera dan sekian pulau di sekitarnya.

Memang, di satu sisi bahasa Indonesia telah semakin kaya dengan berbagai kosakata baru, tetapi perkembangannya kadang terlalu teknokratis. Kekalahan berantai dalam bidang teknologi dan filsafat membuat ’’ruang dalam” yang ada cenderung cuma tempelan demi tempelan. Ruang dalam dari berbagai rumah bahasa di negeri kepulauan ini cenderung diabaikan atau dianggap sama (secara ceroboh).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *