33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu, Didi Kempot memperoleh tawaran membuat klip, melakukan tur keliling, dan menjadi duta PT KAI.

ANTONIUS CHRISTIANSolo, Jawa Pos

KOPI hitam di gelas Didi Kempot hampir tandas saat dia berkata, ”Oke, wis rampung (sudah selesai).”

Hariyono, Kuncung, dan rekan-rekan pemusiknya yang telah menunggu pun mulai bersiap.

Gitar digenjreng. Didi pun mulai rengeng-rengeng (menyanyi pelan, agak menggumam) berdasar lirik 22 bait yang baru selesai digarapnya.

Ning Stasiun Balapan

Kutha Solo sing dadi kenangan

Kowe karo aku

Naliko ngeterke lungamu

(Di Stasiun Balapan

Kota Solo yang jadi kenangan

Kamu dan aku

Saat mengantarkan kepergianmu)

TITIK BALIK: Stasiun Balapan, Solo, tempat Didi pernah mengamen di masa muda. (ARIEF/JAWA POS RADAR SOLO)

Lahirlah Stasiun Balapan, di sebuah studio musik di Solo, suatu hari pada pengujung 1998 itu. And the rest is history (dan sesudahnya adalah sejarah)…

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot berjalan jauh. Sangat jauh. Menapaki tangga popularitas, mengerek taraf kesejahteraannya, sekaligus menguatkan platform penulisan lagunya.

Yang pada akhirnya kelak membawanya menembus berbagai ”perbatasan” pendengar musik: tua-muda, kaya-miskin, kampung-gedongan, berbahasa Jawa-tak paham bahasa Jawa. Juga mendatangkan beragam penahbisan untuknya: ”Maestro Campursari”, The Godfather of Broken Heart”, ”Lord Didi”.

Dan itu semua diawali sebuah keresahan. Didi sudah rekaman sejumlah album ketika itu. Cidro, misalnya, telah pula beberapa kali dia tampilkan di Suriname dan Belanda. Dan disukai.

”Mas Kempot prihatin. Di luar namanya di elu-elukan, tapi di Indonesia malah kurang terkenal,” ujar Hariyono, kawan ngamen Didi sejak di Solo sampai Jakarta, kepada Jawa Pos Radar Solo.

Stasiun Balapan dipilih karena di stasiun kereta api di Solo itulah Didi beberapa kali mengamen di masa muda. Lewat stasiun itu pula dia hilir mudik di antara dua kota yang berperan penting membentuk karir dan karakternya: Solo dan Jakarta.

Keinginan tersebut lantas dicurhatkan kepada dua sahabat kentalnya, Hariyono dan Kuncung. ”Langsung saja kami bilang, yoh mangkat (ayo berangkat/digarap, Red),” kata Hari Gempil, sapaan akrab Hariyono, menceritakan kembali peristiwa di balik lagu itu.

Mereka pun berbagi tugas. Didi menulis lirik. Hari dan Kuncung mengumpulkan pemusiknya. Para pemusik tersebut teman-teman mereka sendiri yang biasa berkumpul di studio daerah Krembyongan, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Solo.

Lirik lagu itu sederhana saja. Bercerita tentang sebuah kesetiaan yang diingkari kekasihnya. Dengan Stasiun Balapan sebagai saksinya.

Janji lungo mung sedelo

Malah tanpo kirim warto

Lali opo pancen nglali

Yen eling mbok enggal bali

(Janji cuma pergi sebentar

Malah tak pernah kirim kabar

Lupa apa pura-pura lupa

Kalau ingat segeralah kembali)

”Katanya Mas Didi sih itu pengalaman tetangga sebelah rumahnya, tapi siapa saya tidak tahu,” ungkap Hari.

Yan Vellia, istri Didi Kempot, menyebutkan, ide lagu-lagu sang suami kebanyakan memang berasal dari pengalaman teman. ”Selain itu, Mas Didi menemukan banyak ide dari tempat-tempat tertentu hingga menjadi judul lagu atau diselipkan dalam liriknya,” katanya.

Setelah penggarapan rampung, Didi, Hariyono, dan Kuncung lantas berangkat ke Lokananta, studio rekaman legendaris di Solo, untuk merekam lagu tersebut. Karena keterbatasan dana, kala itu baru bisa membuat rekaman kaset pita. Di rekaman pertama hanya bisa membuat 100 biji kaset.

Seratus kaset tersebut, kata Hariyono, langsung dititipkan di sejumlah toko kaset di Solo. Bukan hanya itu, beberapa radio juga diberi satu kaset untuk membantu memperdengarkan kepada khalayak ramai.

Hanya dalam kurun waktu beberapa pekan, karena liriknya gampang dicerna, lagu tersebut langsung populer, khususnya di kalangan anak-anak muda. Setiap ada siaran radio, pasti ada yang meminta untuk diputarkan.

Efeknya, kaset lagu itu juga laku keras di pasaran. Saat ambil uang dari pemilik toko, pasti mereka memesan kembali. ”Karena banyak permintaan, akhirnya setiap pekan produksi sekitar 100 kaset,” kata Hariyono.

Agar tidak monoton, kaset tersebut ditambahi beberapa lagu Didi yang terdahulu, yang sering dibawakan di Suriname. Seperti Cidro, kemudian We Cen Yu (Kowe Pancen Ayu), dan beberapa lagu baru seperti Sekonyong-konyong Koder, Sewu Kutho, Terminal Tirtonadi, dan masih banyak lainnya. Satu album ada sekitar 16 lagu.

Stasiun Balapan kian meyakinkan Didi bahwa lagu-lagu dengan lirik membumi, melodi sederhana, adalah cara terbaik menggapai siapa saja. Dia jadi tidak berjarak dengan pendengarnya.

Patah hati atau kerinduan yang diceritakannya lewat lagu adalah patah hati dan kerinduan yang dimiliki orang-orang di jalanan, stasiun, pasar, terminal, dan di banyak tempat lain. Didi pun jadi bagian dari keseharian orang banyak.

Sebulan setelah dirilis, Dasa Record, Semarang, melirik lagu tersebut. Mereka mengontak Didi dan menawari membiayai pembuatan klip video.

Didi langsung mengiyakan penawaran itu. ”Kemudian Mas Didi menghubungi saya dan Mas Kuncung. Katanya waktu itu, ayo nggawe video clip (ayo bikin klip video, Red),” kenang Hariyono.

Setelah klip yang digarap di Stasiun Balapan itu rampung, Didi, Hariyono, dan Kuncung berpelukan. Tiga sahabat yang memulai segalanya dari musik jalanan tersebut tak menyangka akhirnya memiliki klip video mereka sendiri.

Klip itu pun semakin mengangkat popularitas Stasiun Balapan. Didi berkesempatan menggelar tur keliling. Penjualan keping VCD tahun pertama saja menembus 1 juta kopi. ”Saking tenarnya, khusus lagu Stasiun Balapan ini sampai dibuat menjadi 17 aransemen musik,” ungkapnya.

Apresiasi juga datang dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Didi diangkat sebagai Duta Kereta Api. Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta Eko Budianto mengatakan, pengangkatan itu dilakukan pusat sekitar 2017.

”Karena mungkin, satu, setelah ada lagu Stasiun Balapan itu, antara Didi kempot dan kereta api menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pastinya mengenalkan stasiun, ikut membantu mengenalkan masyarakat Indonesia keberadaan Stasiun Balapan Solo,” terangnya.

Kini, setelah sang penyanyi berpulang, Stasiun Balapan pun jadi salah satu monumen kesuksesannya. Melestarikan kenangan tentang Didi. Sekaligus mungkin juga menguak kesedihan karena sang legenda berpulang terlalu cepat.

Ning Stasiun Balapan

Rasane koyo wong kelangan…

(Di Stasiun Balapan

Rasanya seperti orang kehilangan) (jpc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Usung Modifikasi Chamber Pada Mobil Tua

SEMARANG - Dunia modifikasi di Indonesia memang tidak ada matinya. Para modifikator pun tidak hanya mengubah tampilan mobil terbaru agar tampak lebih gagah ataupun keren....

9.000 Pelajar Pawai Jelang Ramadan

MAGELANG – Pawai tarhib Ramadan 1438 Hijriyah diikuti 9.000 pelajar PAUD hingga SMA se-Kota Magelang, di Alun-alun Kota Magelang, kemarin. Mereka menyerukan yel-yel bernuansa...

Bapak-Anak dan Dosen Undip Tewas

SEMARANG-Kecelakaan mobil rombongan pengantar pengantin yang tertabrak Kereta Api (KA) Argo Anggrek No Loko CC 2061392 hingga terbakar di perlintasan KA tanpa palang pintu...

Belum Dapat E-KTP, Cek ke Dukcapil

SEMARANG - Warga yang sudah melakukan perekaman KTP elektronik (e-KTP) tapi belum mendapatkan kartunya, diimbau untuk proaktif mendatangi kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil...

Hendi: Pintar Saja Tidak Cukup

SEMARANG- Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pemuda yang pintar, cerdas dan peduli terhadap bangsanya. Bukan pemuda yang hanya sekadar mengandalkan penampilan fisik saja. Hal itu...

Mahasiswa UIN Walisongo Akhiri PPL

SEMBILAN mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang kemarin (30/8) mengakhiri praktik pengalaman lapangan (PPL) selama sebulan di kantor redaksi Jawa Pos Radar...