Membuat Baterai Buah dalam PjBL Sel Elektrokimia

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SEL elektrokimia termasuk dalam reaksi redoks yang sudah dipelajari di kelas 10 mipa, terjadi transfer elektron, yaitu dengan adanya elektron yang dilepaskan dan adanya elektron yang diterima. Dilanjutkan di kelas 12 mipa yang merupakan penerapannya. Energi yang dilepaskan dari reaksi redoks dapat diubah menjadi energi listrik dan ini digambarkan dalam sel volta atau sel galvani. Sedangkan jika energi listrik dialirkan dalam larutan elektrolit, maka akan terjadi reaksi redoks dan ini digambarkan dalam sel elektrolisis.

Luigi Galvani (1780) dan Alessandro Volta (1800) telah menemukan terbentuknya arus listrik dari reaksi kimia. Reaksi kimia yang terjadi merupakanreaksi redoks (Budi Utami, Kimia 3 Untuk SMA, 2009;37). Merupakan materi tentang aplikasi atau penerapan konsep reaksi redoks dalam kehidupan sehari-hari. Banyak contoh peristiwa yang berhubungan erat dengan reaksi redoks ataupun sel elektrokimia, misalnya peristiwa perkaratan logam besi, penyepuhan logam emas atau accumulator (aki) atau yang sering disebut juga batu baterai. Ada sedikit perbedaan pada contoh yang disebutkan, peristiwa penyepuhan merupakan contoh sel elektrolisis. Sedangkan accumulator dan batu battery merupakan contoh sel volta, yang keduanya merupakan sel elektrokimia.

Pengalaman penulis lakukan di SMAN 2 Semarang. Pembelajaran ini dirancang untuk melibatkan keaktifan peserta didik seluas-luasnya. Dalam kelompok yang sudah ditetapkan yang terdiri 4 atau 5 peserta didik, diberikan tugas yang sama untuk merancang sebuah proyek. Yaitu, membuat battery dari buah. Persiapan rancangan battery, pemilihan buah apa yang akan digunakan dalam rancangan battery, sepenuhnya adalah hak para peserta didik. Di sini sudah ada persaingan sehat tiap kelompok untuk segera menentukan pilihannya, karena masing – masing kelompok tidak boleh sama pilihan buahnya.

Baca juga:   Model Sole untuk Melatih Kemandirian Siswa dalam Belajar Redoks dan Elektrokimia

Selanjutnya pemilihan electrode yang digunakan, peserta didik berdiskusi menentukan pilihan dua jenis logam yang akan digunakan. Peran guru di sini sangat diperlukan supaya peserta didik tidak salah pilih. Konsep deret Volta sangat diperlukan untuk menentukan pilihan logamnya. Deret Volta merupaka deretan logam – logam yang disusun berdasarkan potensial electrode yang semakin meningkat. Deretan logam-logam dari logam yang paling mudah mengalami oksidasi sampai dengan yang paling sukar mengalami oksidasi (perkaratan) atau yang sering disebut logam- logam mulia, seperti tembaga, air raksa, perak, platina dan emas.

Pemilihan tepat logam yang dipilih sangat menentukan keberhasilan tugas proyeknya. Tak lupa pula mudah tidaknya mendapatkan logam dan harga logamnya seandainya harus membeli. Jadi, harus diperhatikan secara menyeluruh sampai kepada aspek ekonomisnya harus diperhatikan. Tentunya tidak ada peserta didik yang menggunakan logam emas, yang paling banyak dipilih adalah logam besi dan tembaga atau seng yang mudah mendapatkannya dan murah.

Tugas proyek oleh peserta didik. Maka pendekatan pembelajaran dipilih PjBL (Project Based Learning). Apa model PjBL? Goodman dan Stivers (2010) mendefinisikan PjBL merupakan pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi peserta didik yang terkait dengan kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan secara berkelompok. Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

Baca juga:   Media Video Tingkatkan Hasil Belajar Jurnal Penyesuaian

Pembelajaran ini banyak kompetensi peserta didik yang dapat diambil sebagai penilaian. Penilaian pengetahuan tentang materi pembelajaran sel Volta, kompetensi keterampilan, akan sangat tampak keterampilan anak dalam menyelesaikan tugas proyek baterai buah, cara merangkai, ketepatan menentukan electrode dirangkai sedemikian rupa, sehingga dapat menghasilkan energi listrik, dengan mengamati nyala sebuah lampu LED. Walaupun nyala sangat kecil. Kegigihan peserta didik untuk berusaha menyalakan sebuah lampu LED yang kecil perlu dihargai dengan penilaian yang tinggi. Yang pada akhir pembelajaran peserta didik mempresentasikan hasil karya baterai buahnya, dari proses merancang, merakit sampai jadi sebuah battery buah hasil karyanya. Sangat menyenangkan peserta didik dan membangkitkan untuk membuat sebuah karya. (gm1/zal)

Guru Kimia SMAN 2 Semarang

Author

Populer

Lainnya