Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

  • Bagikan
CIKAL BAKAL: Kondisi rumah ibunda Didi Kempot di Dusun Sidowayah, Desa Jengkrik, Kabupaten Ngawi. (LATFUL HABIBI/JAWA POS RADAR NGAWI)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma.

LATIFUL HABIBINgawi, Jawa Pos

KATA sang kakak, ”Pas kecil Didi itu memang bandel, tapi sebatas umumnya anak remaja. Mulai dari malas sekolah sampai suka berkelahi dengan teman dan sebagainya.”

Kata sang adik, ”Cerita dari ibu, Mas Didi itu sekolah jarang masuk, senengane gelut (suka berkelahi, Red).’’

Kata teman sekolah, ”Wah, dia itu kendel (pemberani, Red). Waktu masih SMP dia pernah mengajak berantem anak-anak SMA.”

Semua cerita itu terjadi di Ngawi, tempat Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot dibesarkan. Didi yang lahir di Solo diboyong ke kabupaten di ujung barat Jawa Timur tersebut setelah pernikahan ibundanya, Umiyati, dengan Ranto Edi Gudel, yang sudah membuahkan tiga buah hati, tak bisa bertahan. Saat sang adik dibawa ke Ngawi, dua kakaknya, Joko Lelur Sentot Suwarso dan Mamiek Prakoso, ikut sang bapak di Solo.

”Dia dibawa ke Ngawi saat masih bayi,” terang Lilik Subagyo, kakak tertua Didi, putra Umiyati dari pernikahan sebelum dengan Ranto Edi Gudel, kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Didi pun tumbuh jadi bocah Dusun Sidowayah, Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, kampung halaman sang ibu. Kampung yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Ngawi ke barat

Di kampung itu pula karakter Didi yang pemberani, pantang menyerah, serta perhatian kepada saudara dan sesama terbentuk. Karakter yang tetap tak luntur kala namanya kelak melejit sebagai maestro campursari/pop Jawa.

Masa sekolah dasar dia lalui di SDN 1 Jenggrik. Setelah lulus, kata Lilik, dia sempat meneruskan sekolah di SMP Kosgoro, Ngawi. Namun, tak sempat lulus.

Selama menjalani masa sekolah di Ngawi, Lilik menyebut adiknya itu dulu sering ke Solo. Meski beda provinsi, jarak Ngawi-Solo tidak terlalu jauh karena Ngawi berbatasan langsung dengan Jawa Tengah.

Biasanya, Didi Kempot ke Solo untuk meminta biaya kebutuhan ke bapaknya yang merupakan seniman tradisional itu. Jika urusannya sudah selesai, biasanya Didi Kempot tetap pulang ke rumah ibunya di Ngawi. ”Saya malah belum tahu kalau Didi itu pernah sekolah di Solo. Kalau saya, Sentot, dan Mamiek memang pernah (sekolah di Solo),” ungkap Lilik.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *