33 C
Semarang
Kamis, 16 Juli 2020

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada sang kakak saat berangkat ngamen.

GLANDY BURNAMAJakarta , Jawa Pos

JAM 9 pagi dia sudah harus berada di Slipi, Jakarta. Bekerja. Padahal, dibutuhkan setidaknya 30 menit naik bus untuk sampai ke sana.

Itu pun kalau lalu lintas dari tempat dia tinggal di ibu kota di kawasan Kampung Makasar tidak macet.

Karena itulah, pagi-pagi dia sudah bangun, mempersiapkan segalanya. Sebelum kemudian pamit dan minta sangu kepada Polo Srimulat untuk berangkat.

”Seringnya minta ongkos ke saya. Kalau sama kakaknya, Mas Mamiek, dia sungkan,” tutur Polo, lalu tergelak saat dihubungi Jawa Pos Jumat lalu (8/5).

Dia yang dimaksud Polo tak lain Didi Kempot. Ketika itu Didi baru merantau di Jakarta dari Solo dan masih menumpang di kontrakan sang kakak, komedian Srimulat Mamiek Prakoso, sebelum memilih indekos sendiri. Polo saat itu juga tinggal di kawasan kontrakan yang sama.

Seperti di Solo, Didi mengadu nasib di Jakarta dengan mengamen. Dan, Slipi adalah kawasan kerjanya.

Dalam ingatan Polo, Mamiek teladan sekaligus sumber semangat bagi sang adik. Didi pergi ke Jakarta lantaran ingin sukses seperti kakaknya yang merupakan anggota Srimulat tersebut. Meski memang bidang seni yang ditekuni dua putra seniman tradisional Ranto Edi Gudel itu berbeda.

Didi meniti impian keterkenalan tersebut dengan kemauan dan kerja keras. Tak pernah malu atau gengsi kendati harus bergelantungan dari bus ke bus, di bawah sengatan matahari Jakarta, meski sebenarnya punya kakak seorang pelawak terkenal.

”Anaknya memang rajin sekali,” kata Polo, memuji pencipta dan pelantun Kalung Emas, Pamer Bojo, Banyu Langit, dan banyak hit lain itu.

Didi, lanjut Polo, juga pintar mengajak orang untuk bergabung dengan dirinya. Karena itulah, dia punya kelompok ngamen di Slipi.

Hariyono, kawan Didi mengamen sejak di Solo sampai Jakarta, menyebutkan, Didi bersama dirinya, Dani Pelo, Comet, dan Rian Pentul memang pernah membentuk kelompok musik. ”Mas Didi yang bikin lagu buat kami, salah satunya Sentir Lengo Potro. Jadi, semua materi, yang memperhalus aransemen Mas Didi,” kata Hariyono kepada Jawa Pos Radar Solo.

Setelah mengamen seharian, Didi biasanya kembali ke rumah kontrakan di Kampung Makasar sekitar pukul 21.00. Namun, Didi tidak takluk pada rasa lelah.

Malam hari biasa dia habiskan dengan mengajak nyanyi orang-orang sekitar rumah kontrakan. Di rumah kontrakan Kampung Makasar itu juga kreativitas Didi terasah. Sejumlah karya Didi lahir di sana.

”Mas Mamiek itu salah satu motivatornya Didi lho. Hubungan mereka sebagai kakak adik itu sangat dekat,” terang Polo.

Wejangan, kritik, dan motivasi selalu Mamiek berikan kepada sang adik selama mereka tinggal seatap di Jakarta. Waktu luang biasanya mereka habiskan dengan berbicara dari hati ke hati sebagai saudara kandung yang sama-sama mengadu nasib di ibu kota.

”Didi itu orangnya pendiem. Nah, Mas Mamiek ini yang nggacor (banyak bicara, Red) kasih masukan,” jelas Polo tentang koleganya yang telah berpulang pada 2014 dalam usia 53 tahun itu.

Selain memberikan wejangan untuk sang adik, Mamiek menjadi salah satu orang yang diberi kesempatan pertama untuk mendengarkan lagu-lagu ciptaan Didi. Kalau lagunya enak, kata Polo, dipuji. Kalau ada yang kurang pas, diingatkan dan diberi masukan. Sesekali bahkan Mamiek dan Didi berdebat sebelum sebuah lagu yang apik tercipta.

KESAKSIAN DARI KAMPUNG MAKASAR: Polo dan Tarzan. Di Kampung Makasar, Jakarta, mereka menyaksikan Didi Kempot berproses. (MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS)

Konsistensi Didi dalam bermusik dan semangat yang diturunkan oleh sang kakak membuat major label Musica Studio’s meliriknya. Menjelang akhir dekade ’80-an, Didi berkesempatan merekam salah satu lagu pertamanya, Modal Dengkul, berduet dengan Viara R.

Polo, sosok yang sering memberi Didi uang saku untuk ngamen, menjadi pemain kendang. Itulah awal mula masuknya Didi ke industri musik yang lebih besar.

Siapa sangka, sekitar dekade dari titik awal itu, Didi Kempot menembus puncak ketenaran. Menjadi penanda paling dikenal dari musik campursari/pop Jawa. Digemari generasi milenial sampai orang-orang sepuh, dicintai warga kampung padat sampai kalangan gedongan, mulai Indonesia hingga Suriname.

Polo menuturkan, dengan uang hasil rekaman dan manggung sana-sini, Didi mulai berpisah dengan dia, Mamiek, dan kawan-kawan lain. Didi indekos di sebuah rumah yang terpisah di kawasan Kampung Dukuh, Jakarta Timur. Sebagian teman pengamen Didi ikut serta.

Meski demikian, hubungan Didi dengan Polo masih terjalin. Mereka pernah mengisi acara bersama-sama. Di antaranya, program Kamera Ria di TVRI dan sejumlah acara off air lain.

Didi -yang masih rendah hati dan apa adanya- kerap menyapa Polo dan bercengkerama mengenai kabar terbaru mereka. Terakhir, Polo sempat meminta Didi untuk menjaga kesehatan lantaran padatnya jadwal manggung.

Tarzan yang juga tinggal di Kampung Makasar tak bisa lupa bagaimana Didi kerap memperdengarkan lagu-lagu karyanya. ”Saya ingat, dulu Didi itu membawakan lagu We Cen Yu. Saya pikir lagu Mandarin, eh lha kok lagu Jawa, judulnya Kowe Pancen Ayu, ha ha,” kenang Tarzan seraya tertawa.

Tarzan kali terakhir bertemu Didi pada Oktober 2019 di Universitas Muhammadiyah Solo. Tarzan hendak show ketoprak, sedangkan Didi bakal nyanyi. ”Pas itu kami ngobrol sedikit. Didi pas capek banget saat itu, show-nya buanyak,” kenang Tarzan dengan logat Jawa-nya yang kental.

Dalam kesempatan itu juga Tarzan melihat Didi yang dulu pengamen dan Didi yang kini bintang besar tak berubah karakter. ”Andhap asor (berbudi luhur, Red). Meski capek, kalau ada orang yang lebih tua, selalu disamperin sama dia,” ujar pelawak yang bernama lahir Toto Muryadi itu.

Kepergian Didi Selasa pagi lalu (5/5) pun mengejutkan Tarzan dan Polo. ”Lha wong saya itu nggak pernah lihat dia sakit kok. Dia itu antara lapar atau sakit biasanya sama, dikeroki aja pasti enakan lagi, he he,” kenang Polo.

Sementara itu, Tarzan juga mengaku kehilangan sahabat sekaligus teman bersua jika kebetulan satu acara. ”Karena sekarang nggak bisa ngelayat, saya kirim doa aja, mudah-mudahan Didi diterima di sisi Allah,” ucap Tarzan. (jpc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Masyarakat Diajak Ikut Awasi Pemilu

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO - Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Wonosobo meluncurkan Pojok Pengawasan guna meningkatkan pengawasan partisipatif masyarakat. Pojok Pengawasan diresmikan oleh Bupati Wonosobo Eko...

Kerahkan 75 Tangki Air Gratis

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi perintahkan PDAM Tirta Moedal distribusikan air tangki secara masif. Sedikitnya 75 tangki air didistribusikan setiap hari...

ASN Wajib Berseragam Batangan Tiap Tanggal 8

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Sejak tanggal 8 Februari 2018, seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batang wajib mengenakan baju daerah khas Batang...

Terobos Lampu Merah, Satu Pemotor Tewas

SALATIGA – Kecelakaan maut terjadi jalan lingkar selatan (JLS) Salatiga, tepatnya di perempatan Kecandran, Sidomukti, Rabu (13/12) siang. Pengendara sepeda motor Honda Vario dengan...

Turunkan 716 Mahasiswa, Ganjar Beri Motivasi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sebanyak 716 mahasiswa Universitas Khatolik (Unika) Soegipranata Semarang dilepas untuk terjun ke lapangan dalam rangka kegiatan kuliah kerja nyata (KKN). Para mahasiswa ini...

Tarling, Legislator Minta Warga Jaga Kamtibmas

WONOSOBO – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wonosobo Heru Irianto meminta agar kondisi kamtibmas yang sudah kondusif selama Ramadan dan menjelang Lebaran, bisa dijaga seluruh...