33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang mengayomi membuat pengamen lain segan.

ANTONIUS CHRISTIANSolo, Jawa Pos

JAUH sebelum menjadi The Godfather of Broken Heart yang bermandi lampu sorot benderang, temaram lampu jalanan Solo-lah yang kali pertama membasuh Didi Kempot. Mengutip rupiah demi rupiah, dari hasil genjrengan ngamen.

Itu tahun 1984–1985. Sepulang dia dari Samarinda, Kalimantan Timur, kembali ke Solo, kota kelahirannya. Dan sesudah Didi meminta izin kepada sang bapak, Ranto Edi Gudel, untuk tidak melanjutkan sekolah yang saat itu sudah sampai kelas II SMA.

Eko Guntur Martinus, adik Didi, mengenang sang kakak biasa ”beroperasi” di kawasan Jalan Teuku Umar, Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Solo. Didi biasanya mengamen mulai pukul 19.00 hingga 22.00. ”Targetnya Mas Didi itu Rp 3.000 sehari. Itu buat dibawa pulang untuk membantu keluarga. Kalau ada lebih, baru buat Mas Didi pribadi,” kata Eko kepada Jawa Pos Radar Solo.

AWAL KARIR: Kawasan Keprabon, Banjarsari, Solo, tempat awal Didi kempot ngamen. (ANTONIUS CHRISTIAN/Jawa Pos)

Bahkan, di usia semuda itu, bakat Didi bermain musik dan menulis lagu yang mulai diasah di Samarinda sudah sangat kelihatan. Hariyono, rekan ngamen Didi Kempot, mengenang, Cidro yang puluhan tahun kemudian melejit sudah diujidengarkan kepada mereka yang tengah makan atau minum di kawasan Keprabon. Juga Modal Dengkul dan banyak lagu lain.

”Kalau dulu memang lokasi itu base camp para pengamen. Pusat kuliner yang setiap malam pasti ramai pembeli, dari rakyat biasa, politikus, sampai artis ibu kota yang lagi pentas atau cuma mampir ke Solo,” kenang pria yang akrab dipanggil Hari Gempil tersebut.

Meski kala itu masih berusia muda, sekitar 18–19 tahun, Hari mengingat, setiap Didi datang, pengamen yang lain pasti memilih menepi. Di lokasi tersebut Didi memang dikenal sebagai jawara.

Selain karena suaranya yang memang merdu, juga karena sosok Didi Kempot yang sangat mengayomi para pengamen lain. ”Jadi, yang lain merasa pekewuh,” ucapnya.

Beberapa tahun mengamen di Kota Bengawan, Didi akhirnya merantau ke Jakarta sekitar 1987. Sama seperti di Solo, Lord Didi, sapaan dari para penggemar ketika popularitas Didi telah melejit, juga menghabiskan hari-harinya di ibu kota sebagai pengamen jalanan. Sekitar setahun Didi berada di Jakarta, Hariyono bersama beberapa rekan sesama pengamen dari Solo menyusul.

Seingat Hariyono, kala itu Didi sudah masuk dapur rekaman, tapi hasilnya belum terlalu menjual. Karena itu, Didi masih sering mengamen.

Hariyono.(ANTONIUS CHRISTIAN/Jawa Pos)

Pengakuan Eko, masa-masa sulit sang kakak tersebut bahkan masih terus berlangsung sampai saat dirinya (Eko) menikah pada 1994. Didi tak hadir kala itu dengan alasan manggung. Tapi, belakangan Eko tahu bahwa kondisi perekonomian sang kakak yang menjadi penyebab ketidakhadiran tersebut. Padahal, saat itu Didi sudah menghasilkan beberapa album. ”Dia juga sudah diundang konser ke Belanda dan Suriname. Tapi, hasilnya bisa dibilang hanya cukup untuk makan sehari-hari,” kenang Eko.

Di Jakarta, Didi tak hanya mengamen di kawasan kaki lima, tapi juga dari satu bus ke bus lain. Area mengamennya di kawasan Slipi, Palmerah, Cakung, hingga Senen.

Di ibu kota itulah nama Kempot yang merupakan singkatan dari Kelompok Pengaman Trotoar disematkan, yang akhirnya menjadi nama panggung dia hingga tutup usia (dalam usia 53 tahun) pada Selasa (5/5) lalu. Tak seperti di hari-hari terakhirnya ketika dia terlihat lebih berisi, dengan pipi yang chubby, Didi zaman perjuangan berperawakan kurus. ”Sangat tirus,” kata Hari yang berusia dua tahun lebih muda daripada Didi.

Di jalanan Jakarta musik yang kerap dimainkan Didi adalah pop, bukan campursari yang belakangan mengangkat namanya. Lagu-lagunya ada yang berbahasa Indonesia. Ada pula yang berbahasa Jawa. ”Tergantung bus yang kami naiki. Kalau bus kota, lagunya Indonesia, kalau bus AKAP (antarkota antarprovinsi) tujuan Jawa ya lagunya Jawa,” ungkapnya.

Hampir semua lagu yang dinyanyikan Didi kala itu sudah merupakan hasil karyanya sendiri. Putra ketiga seniman tradisional Jawa Ranto Edi Gudel itu memang sangat prolifik dalam menulis lagu. Sampai akhir hayatnya, sudah 800-an lagu dihasilkannya.

Kata Hari, tak pandang tempat, asal pikiran Didi sedang jernih, satu lagu pasti jadi. ”Mas Didi itu orangnya titen, terus pintar mengolah rasa. Dan yang membedakan (dengan penulis lagu lain, Red), dia memiliki banyak diksi,” imbuhnya.

Ketika itu Didi dan Hariyono tinggal di tempat kos berbeda, tapi masih pada satu perkampungan yang sama bersama dengan pengamen jalanan lain. Di kawasan Slipi, dekat pemakaman.

”Karena area pemakaman, kalau ada yang habis meninggal, pasti tiker yang buat bungkus jenazah itu dibuang sama keluarga, itu jadi rayahan (rebutan) anak-anak. Lumayan dapat alas tidur seperti itu,” kata Hariyono.

Kenangan lain bersama Didi, lanjut Hariyono, tiap kali hawa Jakarta tengah sumuk, dengan segera mereka berebut ngisis (cari angin) tiduran di dalam makam. ”Yo jejer kijing-kijing kuwi (ya sejajar dengan makam-makam itu, Red),” kenang Hari seraya tergelak. (jpc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Disiplin Positif, Semangat Cegah Bullying

SEMARANG-Pemberian sanksi atau hukuman dari guru kepada siswa juga masuk dalam kategori perilaku perundungan atau bullying. Pasalnya, hukuman atau sanksi yang diberikan terkadang tidak...

Telah Hasilkan 14 Perda

MAGELANG – Sebanyak 14 Peraturan Daerah (Perda) telah berhasil diundangkan oleh DPRD Kota Magelang dalam Program Pembentukan Perda Tahun 2017. Hingga kini, DPRD Kota...

Petani Tembakau Dapat Xenia

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG - BRI Cabang Temanggung kembali melakukan pengundian panen hadiah Simpedes. Pengundian dengan ratusan nasabah berlangsung di gedung Narwastu Temanggung, Rabu (14/3). Hadiah yang...

Metode Peta Pikiran Tingkatkan Keterampilan Menulis Karangan Siswa

RADARSEMARANG.COM - DALAM menulis karangan, baik itu karangan narasi maupun deskripsi, siswa kerap kesulitan dalam mengembangkan gagasan. Hal ini dimungkinkan sekali,  karena strategi pembelajaran...

3 Petahana Kembali Mendaftar

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Sebanyak 22 orang resmi mendaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah. Sementara...

Pindah Alat Pendeteksi Longsor di Kecamatan Jambu

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang akan memaksimalkan fungsi dua alat early warning system (EWS) tanah longsor. Kepala BPBD Kabupaten Semarang,...