Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

  • Bagikan
LEGENDA BERPULANG: Dua penggemar Didi Kempot menunjukkan poster ucapan dukacita di RS Kasih Ibu, Solo (5/5). (DAMIANUS BRAM/JAWA POS RADAR SOLO)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya memasak yang membuatnya sempat bekerja jadi pengantar makanan untuk pekerja minyak lepas pantai.

ANTONIUS CHRISTIANSolo, Jawa Pos

JOKO Lelur Sentot Suwarso baru selesai bermain musik saat bartender menyuguhinya minuman gratis. Tak cuma dia, tapi juga pengunjung pub lainnya.

’’Dari siapa minumannya,” tanya Sentot ke bartender.

’’Dari Mas yang di meja itu,” kata bartender seraya menunjuk seorang pria yang duduk di salah satu meja.

Suasana agak remang-remang menutupi wajah pria tersebut. Sentot pun datang menghampiri, bermaksud untuk berterima kasih.

Tapi, betapa kagetnya dia setelah mendekat ke meja. Ternyata pria itu Didi, adiknya!

’’Dari mana kamu punya uang sebanyak itu?” tanya Sentot yang belum reda kagetnya.

Dionisius Prasetyo alias Didi atau yang kelak dikenal sebagai Didi Kempot itu akhirnya buka kartu. Meski saat itu masih duduk di bangku SMA, dia mengaku sudah satu setengah tahun terakhir bekerja di Pertamina sebagai pengantar makanan bagi para pekerja yang bertugas di pengeboran minyak lepas pantai.

’’Mas Didi memang punya kebiasaan memasak,” tutur Eko Guntur Martinus, adik Didi, yang menceritakan penggalan kisah masa lalu kedua kakaknya di sebuah pub di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 1980-an tersebut.

Didi adalah anak ketiga di antara empat bersaudara, anak seniman tradisional Ranto Edi Gudel. Sentot (almarhum) yang tertua, disusul Mamiek Prakoso (almarhum), lalu Didi yang berpulang Selasa lalu (5/5) terlahir dari ibu Umiyati Siti Nurjanah. Sedangkan Eko anak Ranto dari pernikahan lain.

Masa kecil pria kelahiran Solo, 31 Desember 1966 itu dihabiskan di Ngawi, Jawa Timur, mengikuti sang ibu. Setelah lulus SD, barulah Didi hijrah ke Solo dan bersekolah di SMP 15 Solo.

’’Katanya pengen ikut bapak. Waktu itu rumah kami masih di Turisari, masih ngontrak,” tutur Eko yang juga seniman kepada Jawa Pos Radar Solo.

Penghasilan Ranto sebagai seniman tradisional tak tentu. Itu berakibat pada pendidikan Didi. Dia tak bisa menuntaskan SMP-nya karena masalah biaya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *