Ice Breaking Tingkatkan Rasa Percaya Diri Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Di era globalisasi, orang tua sudah semakin demokratis. Menjadi siswa baru di suatu SMA bukan semata-mata kehendak orang tua, tapi hampir 90 persen keinginan individu remaja itu sendiri. Namun ketika sudah memasuki lingkungan sekolah baru dan bertemu dengan teman baru, guru baru, dan kurikulum baru, muncul persoalan baru yang cenderung dialami oleh hampir 55 persen siswa, yaitu kurangnya rasa percaya diri.

Menurut Lauster (2002, dalam Muchlisin 2019), percaya diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, merasa bebas untuk melakukan hal-hal sesuai keinginan dan bertanggung jawab atas perbuatannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan berprestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangannya. Percaya diri (self confidence) adalah meyakinkan pada kemampuan dan penilaian (judgement) diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif. Hal ini termasuk kepercayaan atas kemampuannya menghadapi lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas keputusan atau pendapatnya. Orang yang tidak percaya diri akan merasa terus menerus jatuh, takut untuk mencoba, merasa ada yang salah dan khawatir (Risman, 2003 dalam Irvan 2020). Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi merupakan salah satu unsur untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Baca juga:   Layanan Bimbingan Kelompok Tingkatkan Kemampuan Menyampaikan Pendapat Peserta Didik di Kelas

Ice breaking adalah salah satu aktivitas yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling saat melaksanakan layanan klasikal. Tujuannya untuk menyegarkan suasana, memotivasi siswa dan memusatkan perhatian siswa saat mengikuti layanan. Dalam rangka membantu siswa meningkatkan rasa percaya dirinya, maka aktivitas memimpin ice breaking bisa menjadi alternatif. Memimpin ice breaking diserahkan kepada siswa secara bergiliran. Pada setiap pertemuan layanan klasikal dua orang siswa diminta untuk memimpin ice breaking, seorang di awal pertemuan dan seorang lagi di akhir pertemuan. Semua siswa sudah harus mempersiapkannya dan tidak boleh sama dengan temannya, tujuannya agar siswa mempersiapkan diri sejak awal dan memiliki kreativitas dalam mengelola sebuah aktivitas.

Persiapan meliputi naskah ice breaking yang berdurasi sepuluh menit terdiri dari judul, tujuan dan langkah-langkah yang akan dikomunikasikan kepada peserta. Yang terpenting adalah latihan memandu setiap langkah aktifitas tersebut agar dipahami oleh teman-teman yang menerima instruksi. Karena memberi instruksi orang untuk melakukan sebuah gerakan ternyata bukan sesuatu yang sederhana, perlu latihan dan ketrampilan agar bisa dipahami.

Baca juga:   Pembelajaran Matematika Lebih Mudah dengan Zoom Meeting

Aktivitas menyenangkan ini telah berlangsung selama satu semester di beberapa kelas X SMA Negeri 1 Semarang yang menjadi kelas ampuan penulis. Meningkatkan rasa percaya diri siswa dan bahagia adalah tujuan utama aktivitas ini. Manfaat lain yang diperoleh dari aktivitas ini bagi siswa yang menjadi pemimpin ice breaking adalah melatih keberanian tampil di depan umum/kelas, mampu berkomunikasi dengan suara yang jelas, bahasa yang baik dan bisa dipahami oleh orang lain, melatih kreativitas dalam mencari dan menciptakan model ice breaking yang disajikan. Bagi siswa yang dipimpin, meningkatkan kemampuan menghargai teman yang sedang memimpin dan berbicara, mampu memahami orang lain, mampu menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Adapun bagi guru bimbingan dan konseling, aktivitas ini bermanfaat untuk menciptakan suasana interaktif dalam kegiatan layanan klasikal disamping menambah pemahaman terhadap perbedaan individu. (gml1/aro)

Guru Bimbingan dan Konseling SMA Negeri 1 Semarang

Author

Populer

Lainnya