Model Hybrid Learning dalam Pembelajaran IPA SMP

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pada 11 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan Covid-19 akan menjadi nama resmi dari penyakit ini. Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kata “co” adalah singkatan dari “corona” (korona), “vi” untuk “virus”, dan “d” untuk “disease” (penyakit), sementara “19” adalah untuk tahun 2019 karena wabah tersebut pertama kali diidentifikasi pada tanggal 31 Desember 2019 (WHO:2020).

Tindakan pencegahan untuk mengurangi kemungkinan infeksi antara lain tetap berada di rumah, menghindari bepergian dan beraktivitas di tempat umum, sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama minimum 20 detik, tidak menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang tidak dicuci, serta mempraktikkan higiene pernapasan yang baik (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat: 2020).

Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan nyata yang harus segera dicarikan solusinya: 1) ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, 2) keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, 3) keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan seperti internet dan kuota, 4) relasi guru-murid-orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral.

Baca juga:   Pembelajaran IPA Menarik dengan Metode Diskusi Kelompok

Pandemi Covid-19 memaksa kebijakan social distancing, atau di Indonesia lebih dikenalkan sebagai physical distancing (menjaga jarak fisik) untuk meminimalisir persebaran Covid-19. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merespon dengan menerbitkan Surat Edaran dengan Nomor 4 Tahun 2020, tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid 19) yang mengatur kebijakan belajar dari rumah, melalui pembelajaran daring dan disusul peniadaan Ujian Nasional untuk tahun ini (Mendikbud:2020).

Jadi, kendala-kendala itu menjadi catatan penting dari dunia pendidikan kita yang harus mengejar pembelajaran daring secara cepat. Padahal, secara teknis dan sistem belum semuanya siap. Selama ini pembelajaran online hanya sebagai konsep, sebagai perangkat teknis, belum sebagai cara berpikir, sebagai paradigma pembelajaran. Padahal, pembelajaran online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, bukan pula membebani siswa dengan tugas yang bertumpuk setiap hari. Pembelajaran secara online harusnya mendorong siswa menjadi kreatif mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, menghasilkan karya, mengasah wawasan dan ujungnya membentuk siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Baca juga:   Implementasi Blanded Learning pada Pembelajaran 4.0, Tingkatkan Literasi Digital

Hybrid Learning yang pada prinsipnya adalah memanfaatkan kekuatan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online sekaligus menutupi kelemahan-kelemahan dalam masing-masing pembelajaran. Pembelajaran tatap muka mempunyai kelebihan dan tidak dapat digantikan dengan pembelajaran jarak jauh, begitu pula sebaliknya.

Saat ini adalah waktu yang sangat baik untuk mengembangkan teknologi dan pendidikan. Program online menawarkan lingkungan pengajaran berbasis teknologi yang memperluas kesempatan belajar dan dapat memberikan pendidikan berkualitas tinggi melalui berbagai format dan modalitas. Program online menawarkan solusi yang nyaman dalam keterbatasan waktu dan ruang, apalagi dihadapkan pada tuntutan capain pembelajaran yang semakin meningkat.

Demikian halnya pembelajaran IPA di SMP Negeri 2 Brangsong selama masa pandemi Covid 19, dilaksakan dengan metode Hybrid Learning, dimana guru secara terjadwal untuk memberikan tugas online kepada siswa melalui grup wali kelas, dan menyampaikannya laporan secara online pula melalui laman blog sekolah. (ikd2/ton)

Guru IPA SMP Negeri 2 Brangsong Kabupaten Kendal

Author

Populer

Lainnya