33 C
Semarang
Rabu, 23 September 2020

Lord Didi

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM-Obituari terbaik untuk almarhum Didi Kempot adalah yang dibuat Jaya Suprana. Bentuknya: permainan piano –alat musik yang paling dikuasainya.

Di depan piano milik Ayla itu Pak Jaya memainkan lagu Didi Kempot yang paling top saat ini: Pamer Bojo. Ayla merekamnya diam-diam –lihatlah sendiri hasilnya.

Didi Kempot adalah raja campursari Indonesia –terbaik di dunia. Jaya Suprana adalah raja piano Indonesia –yang sering melanglang buana.

Jadinya unik: lagu campursari yang milik rakyat itu dimainkan di piano yang sangat elite.

Itu karena Pak Jaya –bos Jamu Jago dan Museum Rekor Indonesia– sangat mengagumi Didi Kempot – -di samping tetap mengagumi pemusik klasik Beethoven dan sekelasnya.

Saya sering mengikuti tulisan Pak Jaya. Yang belakangan sangat produktif itu. Tidak hanya sekali Pak Jaya mengulas musik Didi Kempot. Berkali-kali. Pertanda Pak Jaya sangat mengapresiasi raja campursari itu.

Pernah Pak Jaya menulis khusus mengenai lagu Pamer Bojo. Ia bahas syairnya yang menyayat-nyayat hati. ”Begitu dalam makna syair lagu itu,” tulisnya.

Sampai membuat Pak Jaya mbrebes mili.

Maka begitu mendengar Didi Kempot meninggal dunia Pak Jaya syok. ”Saya lebih pantas meninggal lebih dulu,” katanya pada saya.

Setelah kesedihannya reda, Pak Jaya menuju piano. Di rumah Ayla di Jakarta itu memang ada sebuah piano besar. Itu piano kuno. ”Type-nya pun saya sudah lupa. Sudah terhapus,” ujar Pak Jaya merendah. ”Piano ini juga tidak pernah distem ulang. Biarlah. Biar nadanya lebih merakyat,” guraunya.

Saya putar tiga kali Pamer Bojo versi Pak Jaya itu. Pikiran saya melayang ke mana-mana: ke panggung-panggung bersama sang raja di kala belum jadi maharaja seperti sekarang. Juga ke Prapatan Sleko –satu lagunya tentang sebuah perempatan terkenal di kota Madiun. Yang saya (bersama istri) diminta sebagai bintang video clip-nya.

Kenangan saya juga ke pedesaan di pelosok Ngawi. Khususnya ke Desa Majasem. Yakni sebuah desa di lereng timur Gunung Lawu. Di Kecamatan Kendal yang terpencil.

Saya sering ke desa-desa sekitar Majasem. Saya punya keluarga di dekat situ. Di desa Majasem inilah Didi Kempot dimakamkan kemarin sore.

Apa hubungan Didi Kempot dengan Desa Majasem?

Itulah desa istrinya: Hj Saputri. Yang memberi pasangan ini dua anak –dua-duanya meninggal saat masih kecil. Lalu mengambil anak angkat dari lingkungan keluarga sendiri. Anak ini pernah jadi korban bully habis-habisan. Yang akhirnya dijelaskan bahwa ia memang anak angkat –tapi sudah dianggap anak sendiri.

Didi Kempot bertemu sang istri di Jakarta. Waktu itu Didi masih sangat sulit. Saputri anak orang berpunya –untuk ukuran desa.

Setelah nikah, pasangan ini tinggal di Majasem. Sang istri tidak pernah mau diajak pindah ke Solo, ke kampung Didi. Maka Didi Kempot-lah yang pulang-pergi Solo-Majasem.

Ketika belakangan Didi Kempot sudah laris, rumah sang istri itu dipugar. Menjadi rumah yang termegah di desa itu. Adanya jalan tol Ngawi-Solo membuat jarak Majasem ke Solo tinggal 1 jam –dengan mobil.

Mendengar Pamer Bojo versi piano itu saya juga ingat Pamer Bojo versi Tiara –runner-up Indonesian Idol RCTI tahun ini. Di grand final Tiara menyanyikan Pamer Bojo –dipopkan. Lihatlah Pamer Bojo Tiara di YouTube: yang menonton 26 juta orang!

Tentu sudah terlalu banyak yang mengulas kehebatan lagu-lagu Didi Kempot. Tapi saya tetap tidak bisa menjawab: mengapa sejak dua tahun lalu Didi Kempot begitu diidolakan di kampus-kampus. Para mahasiswa –di mana pun– begitu gilanya ke lagu-lagu Didi Kempot. Yang semua berideologi patah hati, hancur batin, dan siksa perasaan. Begitu banyaknyakah mahasiswa yang patah hati –lalu merasa terwakili oleh lagu seperti Pamer Bojo?

Saya ingat pertunjukan 4 bulan lalu di Surabaya. Didi Kempot diundang oleh Unesa (d/h IKIP Surabaya). Saya diundang juga untuk hadir. Begitu gila para mahasiswa di konser itu. Mereka tumplek bernyanyi bersama, berjingkrat, berjirolupatmonemtuwolu dan bertakgintakgintak bersama sang raja.

Sebelum acara dimulai saya diminta ke balik panggung. Baku kangen. Saya pun sempat saling cipika-cipiki. Demikian juga istri saya. Itulah pertemuan terakhir saya dengan sang raja.

Saya juga kaget Didi Kempot begitu cepat meninggal dunia. Di usianya yang baru 53 tahun.

Tapi lagu-lagunya akan tetap abadi. Stasiun Balapan Solo, Cidro, Prapatan Sleko, Perawan Kalimantan, dan terutama Pamer Bojo tidak akan pernah terlupakan.

Saya pun, setiap pagi, masih akan terus senam-joget lagu Pamer Bojo. Tentu dengan gerakan yang asyik.

Maafkan, Didi. Saya tidak bisa main piano. Saya hanya akan terus mengabadikanmu di senamku.(Dahlan Iskan)

Berita sebelumyaIba BBM
Berita berikutnyaMenuju Normal

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Bank Wajib Terima Suket

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Semarang siap melakukan tindakan tegas jika diketahui ada perbankan yang menolak surat keterangan (suket)...

Targetkan 2018 Bebas BAB Sembarangan

KENDAL—Bupati Kendal Mirna Annisa menargetkan tahun 2018 program bebas buang air besar (BAB) sembarangan bisa terselelesaikan. Yakni dengan program percepatan pembangunan sarana mandi cuci...

Alokasikan Rp 200 M untuk Perbaikan Jalan

RADARSEMARANG.COM, KAJEN -  Puluhan warga yang tergabung dalam Komunitas Guru Lebahbarang dan persatuan sopir kenek (Personek) serta warga dan anggota Koramil dan Polsek Lebakbarang,...

Bakar Ban

RADARSEMARANG.COM - Massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Wonosobo menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Wonosobo, Selasa (17/7). Peserta aksi...

Segera Bentuk Tim Ahli dan Inventarisasi Cagar Budaya

Rapat kerja Pansus III DPRD membahas tentang raperda Penetapan dan Pemanfaatan Cagar Budaya akhirnya selesai. DPRD menyetujui raperda tersebut untuk disahkan menjadi peraturan daerah. Juru...

Bupati Batang Wihaji Dipanggil KPK

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  memanggil Bupati Batang Wihaji kemarin (8/8/2018). Namun pemanggilan itu tidak terkait dengan kasus korupsi. Bupati Wihaji diminta datang...