Pembelajaran Bercerita yang Asyik dengan Metode Role Playing

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Bercerita menjadi salah satu aspek pembelajaran bahasa, termasuk pada mata pelajaran bahasa Jawa. Bercerita bagi sebagian besar orang sangat menyenangkan, karena bisa mengungkapkan apa yang dilihat, dialami dan dirasakan. Namun bagaimana jika bercerita itu diterapkan dalam pembelajaran? Sebagian orang merasa kesulitan terutama siswa SMP. Hal ini juga terjadi pada siswa kelas VII SMP 2 Kedungwuni.

Bercerita ada pada mata pelajaran bahasa Jawa kelas VII yaitu pada Kompetensi Dasar (KD) 4.3 Menceritakan kembali isi teks cerita rakyat (legenda) dengan ragam ngoko. Diharapkan siswa bisa menceritakan kembali salah satu cerita rakyat yang sudah dibaca atau didengarnya. Namun kadang menjadi kurang konsentrasi dan panik. Ketidaknyamanan ini karena sebagian besar siswa kurang memahami dan belum tahu konsep yang tepat untuk bercerita. Berawal dari permasalahan tersebut, guru mencoba menggunakan metode role playing.

Menurut Jill Hadfield (Basri Syamsu, 2000) pembelajaran role playing merupakan salah satu permainan gerak yang di dalamnya terdapat aturan, tujuan, dan sekaligus melibatkan unsur bahagia.

Dalam bermain peran siswa diarahkan pada situasi tertentu seakan-akan berada di luar kelas, meski kenyataannya pada saat pembelajaran berlangsung dalam kelas. Pembelajaran berbicara melalui role playing atau bermain peran ini diharapkan agar para siswa bisa mengeksplorasi perasaannya, mendapatkan wawasan tentang nilai, sikap dan persepsinya.. Mengembangkan sikap serta keterampilan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Mengeksplorasi inti dari masalah yang diperankan melalui berbagai teknik/cara.

Baca juga:   Kabataku Tingkatkan Pemahaman Siswa Bilangan Bulat Campuran

Langkah-langkah menciptakan daya khayal siswa di antaranya, biarkan siswa berada pada imajinasi masing-masing setelah mendengarkan salah satu cerita rakyat dari guru atau teman. Model pembelajaran role playing titik fokusnya pada keterlibatan emosional serta pengamatan indera ke dalam situasi permasalahan nyata yang dihadapi.

Setelah siswa mulai merasakan dan masuk pada dunia khayalnya, guru memberikan skenario. Siswa diminta berkelompok sesuai jumlah tokoh yang akan diperankan dalam skenario yang dibagikan. Skenario hendaknya menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa. Berikan waktu kepada siswa untuk mempelajari dan memahami skenario.

Dengan role playing (bermain peran) dapat menimbulkan pengalaman belajar, seperti kemampuan kerja sama, komunikatif, dan menginterpretasikan suatu kejadian. Siswa mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para siswa dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan strategi pemecahan masalah. Setelah siswa menemukan teman-teman dalam kelompok sesuai tokoh, ajak siswa berlatih bersama.

Berikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih tempat berlatih, tidak harus di dalam kelas. Kalau memang harus tetap berada dalam kelas, usahakan diberi kenyamanan agar siswa lebih bahagia dan tidak terpaksa.

Baca juga:   Peningkatan Keterampilan Berbicara dengan Metode Sosiodrama

Untuk mempermudah siswa memahami percakapan pada skenario, kita perlu memberikan penjelasan. Diberikan juga penguatan untuk berdiskusi tentang unsur-unsur intrinsik pada cerita, sehingga siswa mudah memerankan sesuai tokohnya.

Terlebih pada unsur intrinsik juga terdapat unsur latar/tempat. Jadi sebelum siswa bermain peran perlu diajak membayangkan tempat di mana cerita itu dimainkan. Bangkitkan khayalan siswa sepenuhnya. Paling penting berikan siswa kebebasan berekspresi, tidak harus terpancang pada kata demi kata yang ada pada skenario. Siswa diberi kebebasan memodifikasi sendiri atau mengubah kata-kata pada skenario, asalkan tidak menyimpang dari tema. Dengan begitu siswa akan benar-benar asyik bercerita di depan kelas dengan cara bermain peran.(pkl2/lis)

Guru Bahasa Jawa SMP 2 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya