Peran Kepala Sekolah Menghidupkan Perpustakaan Sekolah.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Berbagai upaya guru, orangtua dan pemerintah untuk memasyarakatkan membaca sebenarnya sejak sangat lama sudah diwacanakan. Di antaranya melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN) berdasarkan Permendikbud No 21 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Namun hasil dari sosialisasi dan ajakan gerakan literasi tersebut belum maksimal. Padahal ada sebuah efek berantai saat upaya menghidupkan perpustakaan akan berimbas pada meningkatnya minat baca dan ujungnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

John Riady seorang CEO Lippo Karawaci dalam sebuah artikelnya berjudul “Membangun SDM Unggul, Menuju Indonesia Maju” di koran Kompas awal Desember 2019 mengulas bahwa indikator keberhasilan sebuah pendidikan adalah literasi. Namun literasi yang dibutuhkan pada masa mendatang tidak sekadar kemampuan membaca, mencari informasi, menyalin dan menghafal. Manusia harus dibekali literasi kontemporer untuk dapat memanfaatkan derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi. Kemampuan menyeleksi informasi dan membaca dengan cepat (skimming), akan mempermudah proses identifikasi masalah dan pencarian solusi serta meningkatkan produktifitas melalui proses yang efektif, efisien, terstruktur dan sistematis.

Menyebut gerakan memasyarakatkan membaca di kalangan pelajar akan kurang lengkap tanpa mengulas peran perpustakaan sekolah. Karena di perpustakaan inilah intisari semua kegiatan membaca dan mencari pengetahuan melalui buku berawal. Deretan buku dalam rak dengan para murid kita sedang membaca di bangku atau bahkan sembari lesehan di tikar, merupakan pemandangan indah dalam keseharian seorang praktisi pendidikan.

Baca juga:   Peningkatan Kedisiplinan Guru dengan Reward and Punishment

Optimalisasi perpustakaan sekolah akan menjadi keniscayaan ketika kepala sekolah punya hasrat dan keinginan untuk menghidupkan serta memaksimalkan potensi yang ada di dalamnya. Seperti kegiatan murid membaca di sela waktu istirahat, membaca koran atau majalah, serta mencari referensi untuk tugas membuat karya tulis bisa dilakukan di perpustakaan sebagai pendukung proses belajar mengajar bagi para murid.

Dasar bagi kepala sekolah mengembangkan perpustakaan di lingkungan pendidikan mengacu pada UU No 43/2007 bahwa perpustakaan adalah salah satu penentu kemajuan bangsa karena memiliki peran penting membangun kecerdasan, membangun bangsa pembaca sebagai karakter dari bangsa yang cerdas merupakan tugas utama perpustakaan.

Berbicara perpustakaan sebagaimana yang kami alami di SDN 1 Trompo Kabupaten Kendal dan sekolah yang lain, pasti akan bertemu dengan tema kurangnya fasilitas pendukung di dalamnya. Seperti jumlah buku tak mencukupi dalam kuantitas dan kualitas, tak ada koran atau majalah terkini, meja atau kursi yang sudah usang atau bahkan mungkin tak banyak sekolah di pedesaan yang mempunyai perpustakaan digital berupa Personal Computer (PC) dilengkapi jaringan internet untuk mengakses informasi dan pengetahuan bagi murid dan guru.

Baca juga:   Asyiknya Belajar IPS dengan Outing Class

Keterbatasan sarana dan prasarana tersebut bisa disiasati oleh kepala sekolah dengan bekerjasama dengan perpustakaan daerah milik pemerintah daerah seperti di Kabupaten Kendal misalnya Dinas Arsip dan Perpustakaan (Dinarpus) yang mempunyai program perpustakaan keliling dan meminjamkan buku bagi sekolah. Selain itu guru dan kepala sekolah juga bisa mengajak siswa membuat kliping atau berkunjung ke taman baca. Intinya semua halangan pasti ada cara memecahkannya. Mari seluruh elemen dunia pendidikan bergerak untuk menghidupkan perpustakaan sekolah sehingga ke depan akan tercipta sebuah generasi emas Indonesia yang semakin berkualitas dan unggul di segala bidang diawali dari gerakan cinta membaca. (pgn1/ton)

Kepala Sekolah SDN 1 Trompo Kendal

Author

Populer

Lainnya