Metode Terdak Tingkatkan Antusiasme Belajar Agama

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pelajaran agama bagi sebagian besar siswa dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adanya pergeseran nilai di dalam masyarakat kita di mana materialisme mengambil tempat yang dominan sehingga sebagian orang tidak lagi menganggap penting untuk mempelajari materi keagamaan. Alasan yang lainnya adalah materi agama sudah menyatu dalam praktik keseharian sehingga sebagian anak merasa cukup menguasai tanpa perlu lagi mempelajarinya pada kesempatan yang lebih khusus sehingga cenderung menyepelekan.

Sebagai seorang guru mata pelajaran agama, hal tersebut tentu merupakan masalah. Untuk menyiasati hal tersebut, saya menerapkan metode Terdak, singkatan dari metode Termin Berundak. Saya namakan metode termin berundak dikarenakan pada praktiknya, penerapan metode ini terdiri dari beberapa termin/tahapan dan pada setiap tahapan memiliki tingkat kesulitan yang cenderung meningkat. Metode ini cocok diterapkan pada materi – materi yang memiliki tingkat kepadatan tinggi secara teoritis sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk diajarkan. Tantangannya adalah guru harus memiliki soal dalam jumlah banyak dan dengan tingkat kesulitan yang beragam. Kelemahannya, metode ini sulit diterapkan pada mata pelajaran produktif/materi praktik.

Baca juga:   Penilaian Sikap Spritual dengan Daily Jounal dalam Pembelajaran Daring

Tahapan pada metode TerDak (termin berundak) ini adalah : Pertama, siswa diminta untuk membaca/menyimak materi secara mandiri. Pada tahap ini, guru menyiapkan materi baik berupa ringkasan, tayangan video, mind map, atau bentuk yang lain yang bisa memberikan informasi awal tentang materi secara optimal.

Kedua, setelah siswa cukup mendapat informasi mengenai materi yang akan dipelajari, siswa diminta membuat pertanyaan singkat mengenai apa yang sudah mereka pelajari tersebut. Hal ini juga bisa digunakan untuk mengukur tingkat kepahaman masing – masing siswa di level awal.

Ketiga, guru memberikan pertanyaan dengan jawaban singkat yang bisa dijawab langsung oleh siswa secara lisan. Biasanya pada tahap ini, siswa sudah mulai berkompetisi untuk bisa mendapatkan kesempatan menjawab. Batasi kesempatan siswa menjawab pertanyaan pada level ini sekitar dua atau tiga kali kesempatan persiswa. Guru bisa memilih skema yang akan digunakan, apakah siswa akan menjawab pertanyaan secara berebut atau bergiliran.

Keempat, berikan pertanyaan yang lebih sulit dan membutuhkan analisa. Siswa dituntut untuk memberikan jawaban yang lebih mendalam. Pada tahap ini, siswa masih menjawab pertanyaan secara lisan.

Baca juga:   Meningkatkan Kemampuan Menulis Bahasa Inggris lewat WhatsApp

Kelima, berikan pertanyaan yang lebih heterogen mulai dari pertanyaan dengan jawaban singkat sampai pertanyaan dengan jawaban panjang/analisa. Setiap siswa diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan secara tertulis. Ini merupakan tahapan terakhir dari metode ini. Termin/tahapan ini untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang belum mendapatkan nilai pada termin/tahapan sebelumnya.

Setelah semua tahapan tersebut dilaksanakan, guru memberikan penjelasan terhadap materi yang dirasa masih kurang bisa dipahami oleh siswa. Biasanya pada tahap ini, siswa cenderung sudah bisa menguasai sebagian besar materi yang diajarkan, sehingga kalaupun masih ada pertanyaan yang muncul, pertanyaan tersebut sudah bersifat analisa mendalam dan lebih bersifat substansif.

Metode ini saya terapkan di SMK 1 Karangdadap khususnya kelas X. Dari beberapa kelas yang saya ampu, metode ini memberikan perubahan yang signifikan dalam meningkatkan antusisme anak belajar n agama. Pada akhirnya, tingkat pemahaman anak mengenai materi yang diajarkan dan prestasi belajar anak lebih meningkat. (pkl1/ton)

Guru SMKN 1 Karangdadap

Author

Populer

Lainnya