Membangun Budi Pekerti melalui Bait-Bait Serat Wulangreh Pupuh Durma

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran di sekolah pada era milenial tidak hanya mencakup pembelajaran pengetahuan saja, akan tetapi juga di dampingi dengan aspek ketrampilan dan yang paling penting adalah aspek budi pekerti luhur. Dalam pembelajaran Bahasa Jawa, selain materi-materi kebahasaan juga disisipkan pembelajaran budi pekerti yang diapresiasikankan pada materi piwulang Serat Wulangreh Pupuh Durma. Materi ini disampaikan di kelas IX semester 2 dengan KD yang berbunyi “Menelaah teks Piwulang Serat Wulangreh Pupuh Durma”. Pada materi ini disampaikan tentang bagaimana baiknya berperilaku dan memahami tentang hidup. Hal ini perlu diajarkan kepada siswa-siswi terutama di SMP 2 Kedungwuni.

Menurut Ki Sugeng Subagya (2010), budi pekerti adalah perbuatan yang dibimbing pikiran, perbuatan yang termasuk realisasi isi pikiran ataupun perbuatan yang dikendalikan pikiran. Untuk menggugah sikap dan perilaku siswa agar tetap berbudi pekerti luhur diperlukan penyampaian yang benar-benar mengena di hati siswa. Melalui materi Serat Piwulang Wulangreh Pupuh Durma yang diciptakan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IV, bisa membimbing siswa untuk berperilaku dan berbudi pekerti luhur. Serat Piwulang Wulangreh Pupuh Durma ini terdiri dari 12 bait, akan tetapi akan dicuplikkan beberapa bait saja.

Baca juga:   Pembelajaran PAI dan BP dengan Metode Role Playing

Sebagai contoh beberapa bait tembang Durma pada Serat Piwulang Wulangreh dengan maknanya sebagai berikut. Dipunsami ambanting sariranira, cegah dhahar lan guling, darapon sudaa, nepsu kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki, dadi sabarang, karsanira lestari. Makna dari bait pertama tembang tersebut adalah biasakanlah melatih dirimuuntuk hidup prihatin, kurangilah makan dan tidur, supaya berkurang amarah yang kadang meluap-luap, tenangkanlah hatimu, agar tercapai segala keinginanmu. Bait pertama pada Serat Piwulang Wulangreh Pupuh Durma mengajarkan kepada kita terutama pada siswa-siswi untuk bisa mengendalikan hawa napsu.

Pada bait kedua, Ing pangawruh lair batin aja mamang, yen sira wus udani, ing sariranira, yen ana kang amurba, misesa ing alam kabir, dadi sabarang,pakaryanira ugi. Maknanya, janganlah ragu terhadap penetahuan lahir batin. Jika kamu sudah memahami, sebetulnya semua yang adadi dunia ini ada yang menguasai, maka untuk memahami pengetahuan lahir batin juga menjadi tugasmu. Bait kedua ini mengajarkan kepada siswa-siswi untuk memahami adanya sang Pencipta alam semesta.

Bait ketiga, Bener luput ala becik lawan begja, cilakamapan saking, ing badan priyangga, dudu saking wong liya, pramila den ngati-ati, sakeh durgama, singgahana den eling. Maknanya adalah benar salah, baik buruk, beruntung atau celaka, semua itu dari dirimu sendiri, bukan dari orang lain,maka berhati-hatilah. Singkirkan dan ingatlah terhadap segala rintangan. Bait ketiga mengajarkan kepada kita terutama pada siswa-siswi bahwa hidup itu pasti ada banyak rintangan, maka kita harus berhati-hati.

Baca juga:   Integrasikan Budi Pekerti dengan Mapel yang Relevan, Kuatkan Karakter Siswa

Tiga bait dari duabelas bait yang ada pada Serat Wulangreh Pupuh Durma sudah bisa mewakili betapa makna Tembang Durma pada Serat Wulangreh tersebut mengajarkan budi pekerti luhur. Jelaskan kepada siswa bait demi bait dengan bahasa yang komunikatif dan tetap pada koridor unggah-ungguh yang ada pada pembelajaran Bahasa Jawa di SMP.

Siswa-siswi kelas IX SMP 2 Kedungwuni menjadi lebih memahami makna dari setiap bait tembang durma pada Serat Wulangreh setelah diberikan penjelasan tahap demi tahap dengan saling bertanya jawab dan saling berpendapat. Membentuk karakter yang baik dengan budi pekrti yang baik adalah tanggung jawab kita semua sebagai pendidik. (pkl1/ton)

Guru Bahasa Jawa SMP 2 Kedungwuni Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya