Permainan Dog Fight pada Pembelajaran Atletik Lari Cepat

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PENJASORKES merupakan mata pelajaran olah raga penting yang diajarkan mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi. Tak terkecuali di kelas XI SMA Negeri 15 Semarang. Salah satu cabang olah raga di dalamnya adalah atletik. Atletik termasuk olah raga yang paling tua usianya. Merupakan induk dari semua cabang olah raga. Ini karena semua unsur gerak atletik meliputi berjalan, berlari, melompat, lempar dan tolak sudah pernah dilakukan sejak manusia ada di bumi. Semua gerakan secara sadar dan tidak sadar, sudah sering dilakukan untuk mempertahankan dan mengembangkan segenap unsur hidup.

Berdasarkan kompetensi dasar, atletik lari cepat mempunyai aspek yang harus dikembangkan oleh peserta didik. Yaitu aspek afektif, kognitif dan psikomotorik. Aspek afektif atau pengetahuan harus dicapai oleh peserta didik dalam pembelajaran lari cepat, yang meliputi percaya diri, keberanian, menjaga keselamatan diri dan orang lain, bersedia berbagi tempat dan peralatan. Aspek kognitif yang harus dicapai peserta didik adalah dapat menjelaskan lari cepat dengan baik dan benar. Aspek psikomotor yang harus dicapai peserta didik adalah peserta didik mampu melakukan teknik lari cepat dengan baik dan benar. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan saling berkaitan yang harus dicapai oleh peserta didik. Sehingga dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan olah raga kesehatan dikembangkan secara serentak.

Baca juga:   Atasi Bullying dengan Teknik Role Playing pada Layanan Bimbingan Kelompok

Dalam aspek psikomotorik, lari cepat termasuk olah raga unaerobik. Dimana saat pelaksanaannya sangat sedikit memerlukan oksigen. Karena konsentrasi peserta didik tertuju pada lari secepat mungkin dan terlihat ketika peserta didik masuk finish, nafas mereka lebih cepat dari nafas normal dan sangat menguras tenaga. Bahkan, melelahkan di saat pelaksanaannya, sehingga kurang menarik bagi sebagian besar peserta didik. Terutama, jika dibandingkan dengan olah raga permainan, seperti sepak bola, bola voli dan lainnya. Hal ini bisa dilihat dari antusiasme yang rendah bagi sebagian peserta didik saat olah raga lari cepat. Mayoritas peserta didik berlari tidak menggunakan kecepatan berlari secara maksimal setelah melakukan lari. Hal ini ditandai dengan hasil perolehan nilai lari cepat yang rendah dan belum memenuhi standart Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Berdasarkan nilai yang dicapai peserta didik kelas XI SMA Negeri 15 Semarang yang cukup rendah, maka penulis sebagai guru olah raga, berusaha melakukan evaluasi terhadap metode pembelajaran lari cepat lima puluh meter. Hal ini telah dilakukan dan harus melakukan inovasi baru untuk pembelajaran lari cepat menggunakan permainan Dog Fight.

Dog Fight merupakan istilah pertempuran udara pesawat lawan pesawat. Pelaksanaannya dalam permainan Dog Fight, setiap peserta didik menggunakan pesawat kertas. Dalam pembelajaran untuk mencegah ketidakseriusan dalam pelaksanaan, setiap peserta didik harus berlomba mengejar pesawat kertas lawan yang dilemparkan ke atas. Untuk lebih jelasnya, permainan Dog Fight dilakukan dengan sistem setengah kompetisi.

Baca juga:   Mudahnya Belajar Matematika dengan Metode Reciprocal Theaching

Tiap peserta didik bertanding dengan lawan di grupnya. Peserta didik dibagi dalam empat kelompok. Tiap pertandingan, dua peserta didik saling berkompetisi/bermusuhan dengan peraturan melempar pesawat kertas ke atas secara bersamaan. Maka mereka berusaha menangkap pesawat lawan. Peserta didik yang berhasil menangkap lebih dulu, dialah pemenangnya. Untuk menentukan kemenangan mulai dari babak penyisihan sampai ditemukan juara, menggunakan sistem dua kali kemenangan.

Dengan menggunakan Dog Fight, antusiasme, minat dan semangat peserta didik mengikuti pembelajaran lari cepat semakin meningkat, dibandingkan sebelum menggunakan permainan Dog Fight. Hal ini terbukti dengan hasil akhir yang berupa hasil belajarnya, ternyata menunjukkan peningkatan. Yang tadinya belum mencapai KKM, kini semua dapat memenuhi standar KKM. Bahkan dalam rata-rata tiap kelas XI di SMA Negeri 15 Semarang menunjukkan nilai memenuhi dan di atas KKM. Dengan demikian, pemilihan penggunaan permainan Dog Fight pada pembelajaran atletik lari cepat dinyatakan berhasil. (gml1/ida)

Guru Penjasorkes SMA Negeri 15 Semarang

Author

Populer

Lainnya