Pembelajaran Teorema Pythagoras dengan Metode Tukang Bangunan

spot_img

RADARSEMARANG.ID, KETIKA pembelajaran dilaksanakan di dalam kelas, guru lebih mudah menyampaikan materi, mengkondisikan siswa agar tetap tenang dan fokus pada pelajaran serta siswa dapat mencatat materi yang sedang dipelajari. Hal ini sudah lazim dilaksanakan oleh sebagian besar guru ketika mengajar. Namun bagaimana dengan siswa, apakah mereka dapat menerima dengan baik? Tentu jawabannya beragam tergantung dari materi yang sedang diajarkan guru.

Ketika penulis mengajar matematika di kelas VIII-G SMP Negeri 3 Patebon Kabupaten Kendal, dengan materi Teorema Pythagoras diawali dengan materi dasar untuk mendukung agar siswa lebih menguasai materi ini yaitu pangkat dua dan akar pangkat dua. Materi ini dengan mudah dapat dipahami siswa karena guru hanya minta pada siswa menuliskan di buku catatan bilangan berpangkat dua dari bilangan 1 sampai dengan 50 dan siswa menghafalkan kebalikannya sebagai akar pangkat dua.

Materi dasar berikutnya adalah mengulang luas segitiga, khususnya segitiga siku-siku dan luas persegi. Materi inipun dengan mudah dapat dipahami siswa karena sejak Sekolah Dasar. Selanjutnya guru menerangkan materi Teorema Pythagoras diawali dengan memeriksa kebenaran Teroema Pythagoras. Guru menggambarkan di papan tulis sebuah segitiga siku-siku dengan ukuran sisi penyikunya 3 cm dan 4 cm sedangkan panjang sisi miring (hipotenusa) 5 cm yang diskala dengan perbandingan 1 : 5. Dari gambar segitiga pada setiap sisinya dibuatlah persegi dan luas pada masing-masing persegi. Dari gambar dijelaskan bahwa luas persegi pada hipotenusa sama dengan jumlah luas persegi pada kedua sisi penyikunya, itulah pembuktian Teorema Pythagoras. Kemudian guru memberikan dua contoh soal dan pembahasannya dengan cara melibatkan siswa untuk menjawabnya. Selanjutnya siswa mencatat dan guru memberikan tiga soal untuk dikerjakan.

Baca juga:   Mahir Bercerita Bahasa Inggris melalui Media Gambar

Sambil berkeliling guru mengamati jawaban siswa, banyak siswa yang merasa bingung sehigga hanya diam saja dan ada yang saling bertanya karena belum paham. Sepuluh menit berlalu guru meminta seorang siswa yang diamati jawabannya benar diminta untuk menjawab ke depan. Ketika ditanya siapa yang jawabannya benar, hanya lima orang yang mengacungkan tangan. Kemudian guru menjelaskan lagi untuk siswa yang belum paham. Lima menit kemudian guru minta seorang siswa lagi untuk menjawab ke depan dan menjawab dengan benar, lalu meminta siswa yang menjawab benar mengacungkan tangan, ternyata hanya delapan siswa yang menjawab benar.

Pada pertemuan berikutnya guru memberikan Lembar Kerja Siswa dan menjelaskan pembuktikan Teorema Pythagoras dengan metode “Tukang Bangunan”, maksudnya akan dibuktikan Teorema Pythagoras dengan praktik langsung di lapangan layaknya seorang tukang yang akan memulai membuat bangunan rumah/gedung diawali dengan membuat bidang persegi atau persegi panjang yang dipastikan keempat sudutnya siku-siku. Di lapangan diberikan contoh: dibuat patok A lalu dari patok A ditarik tali/benang ke patok B berjarak 80 cm, dari patok AB dibuat sudut 90° dengan pusat di patok A, lalu dari patok A ditarik patok C sejauh 60 cm, sehingga patok A, B dan C membentuk segitiga siku-siku. Lalu siswa diminta untuk mengukur jarak patok B ke patok C yaitu 100 cm, kemudian siswa diminta menghitung dengan Teorema Pythagoras. Selanjutnya siswa diminta untuk mengerjakan tugas yang ada di Lembar Kerja Siswa secara berkelompok.

Baca juga:   Fun Learning sebagai Strategi Meningkatkan Aktivitas Belajar PAI

Setelah tiga puluh menit siswa diminta kembali ke kelas untuk mempresentasekan hasil kerjanya. Dari delapan kelompok yang di kelas tersebut, hanya dua kelompok yang belum selesai 100 persen, tetapi sudah mencapai 80 persen. Dari semua tugas yang diselesaikan semua jawaban benar. Kemudian guru memberi soal untuk dikerjakan perorangan, sambil berkeliling guru memeriksa jawaban siswa. Dari pengamatan guru hanya ada lima siswa yang dijumpai masih mengalami kesulitan, tetapi dengan penjelasan sebentar saja mereka sudah memahami. Dari kegiatan di atas simpulkan bawah kegiatan belajar tidak harus selalu di ruang kelas, ini dibuktikan dengan metode “Tukang Bangunan” materi Teorema Pythagoras dapat dipahami oleh 85 persen siswa dikelas VIII-G dan siswa merasa lebih bergembira dalam mengikuti kegiatan tersebut. (ikd1/zal)

Guru Matematika
SMPN 3 Patebon, Kabupaten Kendal

Author

Populer

Lainnya