Kerbau Sibandika membantu Siswa dalam Pembelajaran Akuntansi

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Guru merupakan bagian dari sebuah pembelajaran selain siswa dan materi pelajaran. Sesuai dengan eksistensinya di sekolah, tugas utama seorang guru adalah mengajar sehingga setiap akan mengajar seseorang guru harus mempersiapkan suatu cara bagaimana agar yang diajarkan kepada siswa itu dapat diterima serta dapat dipahami dengan mudah.

SMK Negeri 1 Lebakbarang merupakan sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Pekalongan. Salah satu kompetensi keahliannya adalah akuntansi dan keuangan lembaga. Dalam struktur kurikulum SMK yaitu kurikulum 2013 perubahan 2018 ( Perdirjen Dikdasmen No 07/D.D5/KK/ 2018) menyebutkan bahwa mata pelajaran akuntansi dasar diberikan di kelas X dan akan dierdalam di kelas XI dan XII. Mata pelajaran kelas XI yang saya ampu yang terkait dengan akuntansi dasar adalah praktikum akuntansi perusahaan jasa, dagang dan manufaktur. Dalam mata pelajaran praktikum akuntansi perusahaan jasa, dagang dan manufaktur meupakan pelajaran aplikatif dan lanjutan dari mata pelajaran akuntansi dasar. Sayangnya siswa-siswa lebih banyak menggunakan hafalan daripada pemahaman sehingga banyak terjadi salah tempat ataupun tertukar yang seharusnya di debit menjadi kredit dan sebaliknya, khususnya pada kompetensi dasar membukukan penyesuaian.

Baca juga:   Mengenal Dunia Karir melalui Permainan Origami

Jurnal penyesuaian dibuat dalam rangka mencocokkan kondisi jurnal dengan kondisi yang sebenarnya. Akun-akun yang membutuhkan penyesuaian pada akhir periode salah satunya adalah beban dibayar di muka. Beban dibayar di muka merupakan arus kas keluar atau pengeluaran perusahaan yang telah dapat ditentukan penggunaannya karena telah terpenuhinya bukti-bukti legal/dokumen yang sah dan dapat dipertanggung jawabkan dari pihak ketiga seperti kuitansi,invoice dll namun perusahaan belum menerima manfaat baik berupa barang/jasa atas pengeluaran tersebut.

Dalam pencatatan akuntansi pada terjadinya transaksi, beban dibayar di muka tersebut dapat diperlakukan sebagai harta atau beban. Pemilihan perlakuan ini membawa konsekuensi pada saat dilakukan penyesuaian pada akhir periode akuntansi dan berimbas pada pemilihan rekening-rekening yang di debit dan di kredit. Apabila siswa tidak mempunyai pemahaman yang utuh mengenai konsep ini maka akan terjadi kebingungan sehingga rekening yang seharusnya di debit akan dicatat di kredit dan sebaliknya. Pun dalam penentuan besarnya nominal yang harus disesuaikan, apakah dari tanggal transaksi sampai akhir periode akuntansi ataukah dari awal periode akuntansi sampai tanggal transaksi.

Baca juga:   Lebih Asyik Belajar Bahasa Inggris dengan Quizizz di Masa Pandemi Covid 19

Diantara banyak pilihan metode mengajar, saya memilih menggunakan metode alat peraga dengan pertimbangan bahwa dengan menciptakan alat peraga sederhana yang bisa dibuat sendiri oleh siswa dengan alat dan bahan yang sederhana dapat meningkatkan pemahaman mengenai penyesuaian beban dibayar di muka. Alat peraga ini dinamakan Kerbau Sibandika yang merupakan akronim dari KERtas BAntu Untuk penyeSuaIaan beBAN DIbayar di muka. Alat peraga ini berawal dari pemahaman orang ketika akan berobat ke dokter terdapat papan yang bertuliskan DOKTER ADA / TIDAK ADA dengan pilihan penutup yang menutupi salah satu kata ADA atau TIDAK ADA, tanpa bertanya ketika penutup tersebut menutupi kata ADA maka berarti DOKTER TIDAK ADA dmikian juga sebaliknya.

Dalam Kerbau Sibandika ini menuntun siswa pada pemahaman pilihan metode pencatatan, jurnal pada saat pencatatan, rekening yang di debit atau kredit dan besarnya nominal yang disesuaikan. (pkl1/ton)

Guru Produktif Akuntansi SMK Negeri 1 Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya