Mendongkrak Minat Baca Siswa dengan Prinsip KPK

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Tentang rendahnya minat baca di Indonesia sudah sering menjadi bahan pembicaraan di ruang-ruang publik. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan mengingat kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari tinggi rendahnya budaya literasi. Bangsa yang maju bukan hanya dibangun dengan mengandalkan kekayaan alam dan pengelolaan negara, melainkan juga dengan peningkatan sumber daya manusia, yang salah satunya melalui kegiatan literasi.

Dalam upaya meningkatkan budaya baca, pemerintah telah melakukan berbagai usaha. Kemdikbud mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada 2015 yang merupakan implementasi dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Gerakan nasional yang mengambil tema “Bahasa Penumbuh Budi Pekerti” ini tentunya perlu didukung dengan kegiatan nyata agar tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang berbudaya literasi dapat tercapai.

Sejalan dengan Kemdikbud, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Pusat Pembinaan merancang kegiatan literasi bertajuk “Gerakan Nasional Literasi Bangsa (GNLB)”. Gerakan yang dimulai pada 2016 ini, di samping untuk menumbuhkan budi pekerti, juga berupaya menciptakan ekosistem sekolah dan masyarakat berbudaya baca tulis serta cinta sastra.

Dalam rangka menyukseskan GLS dan GNLB, SMP Negeri 1 Patean menyelenggarakan berbagai program literasi. Kegiatan yang rutin dilaksanakan adalah Libas Buku (15 Menit untuk Buku), Jumat Literasi, DEaR (Drop Everything and Reading), Pojok Baca, JaWaB (Jam Wajib Baca), dan Gelar Mading.

Baca juga:   Pemanfaatan Google Formulir dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Memang banyak kendala yang ditemui dalam pelaksanaan gerakan literasi. Pada umumnya gerakan semacam ini hanya riuh di awal, tapi sepi kemudian. Ini terjadi karena kurangnya komitmen kita dalam melaksanakannya. Oleh karena itu dipandang penting untuk menumbuhkan komitmen pada segenap stakeholder sekolah agar gerakan literasi dapat dilaksanakan dengan baik.

Ada tiga prinsip dalam pelaksanaan gerakan literasi di SMP Negeri 1 Patean. Ketiga prinsip ini dikenal dengan istilah KPK (Ketersediaan, Pembiasaan, Keteladanan). Dalam memenuhi prinsip ketersediaan, sekolah tidak hanya mengandalkan bantuan buku dari pemerintah, tetapi juga melakukan terobosan lain, Salah satunya adalah membuat pojok baca di setiap kelas. Siswa diwajibkan membawa buku untuk mengisi pojok baca. Setiap jam pembiasaan atau waktu luang, siswa dapat membaca buku yang ada di pojok baca. Koleksi buku diperbaharui secara rutin sehingga tidak membosankan dan ada banyak judul yang bisa dibaca oleh setiap siswa.

Prinsip kedua ialah pembiasaan. Minat baca perlu dipupuk melalui kegiatan pembiasaan. Ada kegiatan Libas Buku. Kegiatan ini dilakukan setiap hari pada 15 menit pertama sebelum jam pembelajaran. Siswa membaca buku non-mata pelajaran baik fiksi maupun nonfiksi. Siswa dapat membawa buku sendiri, meminjam di perpustakaan, mengambil di pojok baca, atau saling bertukar dengan teman.

Kegiatan pembiasaan lain ialah Jumat Literasi, DEaR dan Jawab. Jumat Literasi dilaksanakan setiap hari Jumat minggu keempat. Kegiatan ini lebih berfokus kepada literasi ekspresif lisan. Teknisnya seorang siswa menceritakan kembali isi buku yang dibacanya di depan forum. Kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab seputar isi buku. Bila Jumat Literasi belum bisa mengakomodasi kreativitas siswa, maka Gelar Mading menjadi ajang berekspresi bagi semua secara tertulis. Setiap siswa dapat memasang karyanya di mading.

Baca juga:   Meningkatkan Minat Baca melalui Mading

DEaR merupakan kegiatan yang melibatkan semua stakeholder sekolah. Bukan hanya siswa dan guru, melainkan karyawan, bahkan para pedagang di kantin dilibatkan untuk mengikuti kegiatan ini. Pada saat-saat yang telah ditentukan semua harus meninggalkan kegiatannya untuk membaca. Sedangkan Jam Wajib Baca diterapkan untuk setiap kelas secara terjadwal. Siswa dapat membaca di tempat yang disukai asalkan masih di lingkungan sekolah.

Prinsip ketiga adalah keteladanan. Agar siswa termotivasi, maka guru dan kepala sekolah perlu memberikan contoh dalam berliterasi. Keteladanan bisa dilakukan secara langsung misalnya dengan ikut membaca ketika mendampingi siswa atau secara tidak langsung misalnya dengan memajang buku-buku di meja kerja atau memasang poster-poster menarik bertema literasi. Demikian penerapan prinsip KPK dalam kegiatan literasi di SMP Negeri 1 Patean sebagai upaya untuk mendongkrak minat baca siswa. (ikd2/aro)

Kepala SMP Negeri 1 Patean, Kendal

Author

Populer

Lainnya