Transparent Ripple Plate Peraga Praktis Interferensi Celah Ganda

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu Kompetensi Dasar (KD) dalam pembelajaran Fisika SMA adalah melakukan percobaan untuk menerapkan konsep dan prinsip gelombang bunyi dan cahaya dalam teknologi. Materi dalam KD ini, antara lain interferensi cahaya melalui celah ganda atau percobaan young (double slits young’s experiment).

Pembelajaran interferensi celah ganda (young) dapat dilakukan dengan berbagai peraga. Pertama, dengan tanki riak. Alat ini menarik perhatian, namun tidak bisa berjumlah banyak. Siswa hanya mengamati gejala fisis, tetapi tidak dapat melakukan pengukuran. Kedua, dengan tayangan animasi. Cara ini siswa dapat mengamati proses pembentukan pola gelap terang, namun hanya secara kualitatif. Ketiga, dengan penurunan matematis. Cara ini logis, namun tidak dapat menunjukkan gejala fisis, apalagi mengukur. Keempat, dengan cara diberi rumus langsung. Cara ini mereduksi aspek mendidik menjadi hanya mengajar atau melatih, yang jauh dari hakekat sains. Penulis mengajukan pemakaian peraga pelat beriak transparan (transparent ripple plate) sebagai alternatifnya.

Transparent Ripple Plate (TRP) merupakan sepasang pelat transparan berbahan plastik tebal atau mika. Pola beriak (lingkaran-lingkaran) dilukis di atasnya sebagai representasi rambatan gelombang. Jika kedua pelat dipasangkan (di atas kertas millimeter blok) akan terbentuk pola-pola interferensi dua gelombang yang jelas. Pola ini telah dilukis Thomas Young, perumus konsep interferensi cahaya tahun 1801 (Resnic dkk, 2010:438). Menggeser pelat berarti mengubah jarak antara dua celah. Mengganti pelat dengan riak yang lebih rapat atau renggang berarti mengubah panjang gelombang. Menggeser letak pertemuan dua garis riak berarti mengubah jarak layar ke celah ganda. Dengan cara ini, siswa selain dapat mengamati pola interferensi, juga dapat menyelidiki pengaruh jarak antarcelah, jarak celah ke layar dan panjang gelombang terhadap jarak pola terang. Alas pelat berupa kertas millimeter blok dapat sekaligus berfungsi sebagai mistar.

Baca juga:   Implementasi Mapel Sosiologi dalam Membentuk Karakter Siswa

Implementasi TRP yang dilakukan penulis meliputi tahap perencanaan, tahap validasi dan tahap pembelajaran. Pada tahap perencanaan mencakup, penyusunan desain model interferensi, pembuatan peraga dan penyusunan lembar kerja siswa. Validasi eksternal bahan ajar telah dilakukan dalam forum MGMP Fisika Kota Semarang, yang melibatkan 41 guru-guru fisika. Hasil rata-rata penilaian kelayakan alat adalah 80 (skala 100).

Model pembelajaran dengan peraga TRP yang telah dilaksanakan penulis di SMA Negeri 5 Semarang adalah penemuan terbimbing (guided inquiry). Dengan peraga dan lembar kerja siswa, peserta didik diminta menentukan hubungan antarvariabel amatan dan akhirnya diharapkan dapat menemukan persamaan (rumus). Tahap pertama, pembelajaran dilaksanakan secara klasikal, yang meliputi langkah-langkah, membuka pelajaran, apersepsi prinsip superposisi, apersepsi proses pembentukan terang gelap di layar. Tahap kedua, adalah tahap inti kerja kelompok, dengan langkah-langkah, setting kelas, pembagian peraga dan bahan ajar, penyelidikan pengaruh variabel amatan. Tahap ketiga, adalah diskusi klasikal, dengan langkah-langkah, presentasi perwakilan kelompok, perumusan persamaan interferensi celah ganda, perumusan kesimpulan dan diakhiri dengan menutup pelajaran. Berdasarkan penilaian terhadap Lembar Kerja Siswa (LKS) diperoleh nilai rata-rata 87,4 untuk tahun pembelajaran 2018/2019 dan 89,6 untuk 2019/2020.

Baca juga:   Belajar IPS Asyik dengan Mencari Pasangan

Impelementasi TRP pada pembelajaran Fisika ini merujuk pada penerapan K13 yang menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik meliputi aktivitas mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran. Salah satu kriterianya adalah materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata (Kemendikbud, 2013). Pendekatan saintifik melatih siswa bekerja dengan metode ilmiah, merujuk pada teknik-teknik investigasi suatu fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya (Kemendikbud, 2014:29). (gml1/ida)

Guru Fisika SMAN 5 Semarang

Author

Populer

Lainnya