Meningkatkan Minat Baca melalui Gerakan Sepatu Kaca

spot_img

RADARSEMARANG.ID, ADA pepatah mengatakan Buku adalah Jendela Dunia. Artinya, bisa melihat isi dunia tanpa melakukan perjalanan, hanya cukup membaca. Membaca adalah sebuah aktivitas pengembangan diri. Dengan membaca, seseorang akan mendapatkan pengetahuan dan memperoleh banyak manfaat di dalamnya. Dari membaca seseorang bisa mengerti apa yang selama ini tidak dipahami. Bahkan, dari membaca juga didapatkan informasi untuk menambah ide, kreativitas, dan mengembangkan pola pikir.

Namun sangat disayangkan, pada zaman sekarang ini, kegemaran anak untuk membaca sangat rendah. Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya minat pada anak. Salah satunya adalah karena semakin berkembangnya teknologi. Secara umum, anak-anak sejak kecil sudah membawa handphone sendiri, sehingga lebih suka bermain games, dan berfoto ria, daripada membaca. Kegemaran membaca ini harus ditanamkan sejak dini. Dalam hal ini, sekolah sebagai lembaga yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pembentukan karakter anak, harus mempunyai cara bagaimana membangkitkan minat baca anak. Sehingga kekawatiran akan generasi mendatang yang diliputi kebodohan karena malas membaca bisa dihindarkan.

Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya minat baca siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Faktor eksternal ini mempengaruhi adanya motivasi, kemauan, dan kecenderungan untuk selalu membaca.

Baca juga:   Sukseskan Pembelajaran PJOK dengan Model Variasi Daring

Sebagai upaya untuk menumbuhkan kegemaran membaca tersebut, maka di SD Negeri 3 Curugsewu Kecamatan Patean Kabupaten Kendal menggalakkan budaya literasi. Yaitu sebelum mulai pelajaran, pada pukul 07.00 sampai dengan 07.30 siswa bersama-sama membaca buku di halaman. Adapun kegiatan membaca bersama dilaksanakan pada hari Selasa dan Kamis, pada setiap minggunya. Sementara pada hari Jumat siswa bersama-sama membaca asmaul husna.

Terkait dengan upaya merangsang agar siswa gemar membaca tersebut maka pada hari Sabtu diadakan gerakan Sepatu Kaca, yaitu singkatan dari Setiap Sabtu Kawan Membacakan Cerita. Pelaksanaannya adalah siswa berkelompok sesuai dengan kelasnya, kemudian secara bergiliran salah satu siswa membacakan cerita di hadapan teman-temannya. Adapun teknik dan materi cerita disesuaikan dengan tingkatan kelas dan kreativitas siswa. Guru kelas memandu jalannya cerita dan mengatur pergiliran bercerita. Bagi kelas 5 dan 6 siswa bercerita tanpa buku, atau menceritakan isi buku yang telah dibaca pada hari sebelumnya. Pada setiap kegiatan siswa yang mendapat giliran bercerita 2-3 siswa, tergantung durasi setiap siswa dalam bercerita.

Baca juga:   Belajar Menulis Puisi Berdasar Gambar melalui Metode Brainwriting

Dengan gerakan Sepatu Kaca ternyata semangat siswa untuk membaca terjadi peningkatan. Karena untuk bisa bercerita di depan teman-temannya, siswa merasa harus memiliki bekal atau materi cerita. Materi cerita tidak harus cerita fiksi, tetapi siswa diberi kebebasan tentang apa yang dibaca. Apapun yang dibaca itulah yang diceritakan. Dengan demikian ketika siswa membaca, memiliki tanggung jawab untuk memahami apa yang dibaca, karena pada hari Sabtu harus membacakan atau menceritakan pada teman-temannya.

Gerakan ini selain meningkatkan minat baca siswa, juga dapat melatih keberanian serta rasa percaya diri siswa tampil di hadapan teman-temannya. Hal ini penting, karena rasa kepercayaan diri sangat dibutuhkan bagi seseorang dalam kehidupan, dengan kepercayaan diri, seseorang mampu untuk mengaktualisasikan segala potensinya. Jika anak sudah memiliki rasa percaya diri, banyak hal positif yang dapat timbul dari dalam dirinya. (gml1/ida)

Kepala SDN 3 Curugsewu Kecamatan Patean Kendal

Author

Populer

Lainnya