Peran Guru Agama sebagai Pendamping Siswa “Yatim Sosial”

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Kabupaten Kendal menjadi salah satu daerah pemasok tenaga kerja ke luar negeri dengan jumlah tertinggi. Menurut rilisan berita dari Radar Semarang tanggal 2017, Kabupaten Kendal memasok sekitar 2.400 tenaga kerja ke luar negeri. Kebanyakan mereka menempati sektor nonformal dengan bekerja sebagai buruh lepas atau asisten rumah tangga di berbagai negara Timur Tengah dan Asia.

Hal ini dibuktikan dengan maraknya instansi penyalur tenaga kerja yang membuka cabangnya di Kendal. Setidaknya ada 41 kantor cabang pemasok tenaga kerja di Kendal. Enam di antaranya berkantor pusat di Kendal, yang artinya dimiliki oleh warga Kendal sendiri. Belum lagi jika menghitung tenaga kerja yang berangkat secara illegal.

Menurut Liputan6.com, Kabupaten Kendal merupakan urutan ke-8 dari sepuluh besar pemasok tenaga kerja luar negeri. Sebesar 11.497 tercatat telah berada di luar negeri, dan jumlah ini dipastikan selalu bertambah setiap tahunnya.

Para tenaga kerja ini kebanyakan ada di usia dewasa dan produktif dengan tujuan memenuhi nafkah keluarga mereka di kampung. Konsekuensi yang ditimbulkan tidak hanya pada aspek ekonomi yang menggerakkan daya beli keluarga mereka di kampung, tapi juga fenomena sosial bagi keluarga yang ditinggalkan. Terutama aspek pengasuhan anak, pendidikan serta kasih sayang yang layak dari orang tuanya.

Baca juga:   Belajar Ashabul Khahfi Menjadi Semangat dengan Metode Make A Match

Biasanya ketika ayah atau ibu berangkat ke luar negeri menjadi buruh migran, anak-anak diasuh bibi, atau kakek/nenek yang tinggal. Anak-anak ini mempunyai ayah-ibu yang lengkap, tapi “yatim” secara sosial. Di SDN 2 Tegorejo Kecamatan Pegandon, banyak siswa masuk kategori “yatim sosial” tersebut.

Siswa “yatim sosial” ini cenderung memiliki hambatan dalam proses belajar di sekolah. Seperti minder dalam bergaul dengan teman sebaya, kurangnya dukungan untuk meraih hasil belajar yang optimal. Khusus untuk mata pelajaran agama. Misalnya, siswa umumnya mempunyai support system dari orang tua yang membantu me-review hafalan surat pendek, atau membantu menanamkan proses pendidikan agama di rumah dengan mengaji di rumah atau dengan kiai kampung. Juga keterlibatan keluarga dalam mengerjakan PR. Sementara bagi siswa yang “yatim sosial” ini, sangat kurang mendapatkan pemenuhan aspek pendukung semacam ini.

Guru memang tidak secara langsung berfungsi sebagai agen perubahan sosial. Namun, undang-undang pendidikan memberikan amanat yang sangat jelas dalam pembentukan pserta didik sebagai manusia seutuhnya. Yakni tujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Begitu tertulis pada UU Sistem Pendidikan No.20 tahun 2003.
Maka, perlu perhatian khusus dari guru, terutama guru agama kepada para siswa yang “yatim sosial” tersebut. Kuncinya ada pada komunikasi guru dengan keluarga siswa. Bisa melalui menjalin komunikasi yang intensif dengan wali atau keluarga yang mengasuh. Selain itu, memberikan pendampingan secara khusus, memberikan persuasi secara afektif atau kognitif dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Terutama dalam penanaman nilai-nilai budi pekerti luhur dan akhlakul karimah.

Baca juga:   Solusi Pembelajaran di Masa Pandemi dengan metode Daring dan Luring

Kita seringkali menemukan kasus kenakalan siswa “yatim sosial” ini ketika di usia SMP atau SMA. Seringkali kasus kenakalan tersebut dinilai sebagai kenakalan remaja saja, padahal ada problem yang lebih mendasar seperti yang penulis sebut di atas. Inisiatif ini bisa dimaknai sebagai tindakan preventif menanggulangi persoalan ini di level pendidikan dasar. Sebelum siswa menginjak pendidikan menengah dan atas. Setidaknya, dengan inisiatif ini guru bisa membantu meningkatkan kapasitas siswa agar meraih hasil belajar optimal. (pgn1/lis)

Guru Agama SD Negeri 2 Tegorejo, Pegandon, Kendal

Author

Populer

Lainnya