Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Matematika

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Mata pelajaran Matematika adalah mata pelajaran yang diberikan kepada semua siswa mulai dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Matematika diberikan kepada siswa untuk membekali mereka kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Paradigma pembelajaran matematika klasik umumnya berlangsung satu arah dari guru ke siswa dengan metode ceramah, guru lebih mendominasi pembelajaran sehingga pembelajaran cenderung monoton dan mengakibatkan siswa cepat merasa jenuh dan bosan.

Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.

Salah satu bentuk Pembelajaran kooperatif adalah tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

Baca juga:   Google Meet Tingkatkan Kualitas PJJ

Penyajian materi pelajaran dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri atas tiga nagian yaitu pendahuluan, pengembangan dan praktek terkendali. Pada bagian pendahuluan materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya.

Selanjutnya dilakukan pengembangan materi yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan-peranyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih ke konsep lain.

Praktek terkendali dilakukan dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.

Pada kegiatan kelompok guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.

Kegiatan evaluasi dilakukan selama 45 – 60 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok. (pgn1/ton)

Baca juga:   Belajar Asyik Struktur Jaringan Tumbuhan dengan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi

Guru SMA N 1 Cepiring

Author

Populer

Lainnya