Pembelajaran Teks Prosedur lewat Pembuatan Ecobrick

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Saat ini, banyak sekolah yang menggalakkan program adiwiyata, termasuk sekolah penulis, SMP Negeri 2 Pekalongan. Program adiwiyata merupakan salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini, setiap warga sekolah diharapkan ikut terlibat menyukseskan kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan hijau. Program yang dilaksanakan di antaranya pengolahan sampah organik dan anorganik.
Sampah memang menjadi masalah lingkungan yang sangat serius bagi masyarakat Indonesia. Permasalahan sampah terjadi tidak hanya di rumah tangga, tetapi juga di sekolah. Sebagai komunitas dengan jumlah anggota yang banyak, sekolah menjadi salah satu penghasil sampah. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran warga sekolah untuk mengolah dan memanfaatkan sampah. Misalnya, memanfaatkan sampah sebagai media pembelajaran.

Media pembelajaran adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar-mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya (Arsyad, 2013). Pemanfaatan sampah sebagai media pembelajaran bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan. Para guru terdahulu sebenarnya sudah memiliki kreativitas karena keadaan sarana prasarana yang masih terbatas. Mereka berusaha membuat media pembelajaran untuk membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan dengan menggunakan sampah, contohnya sampah plastik.

Baca juga:   Latihan Kekuatan Otot Tungkai dengan Lari terhadap Kemampuan Shooting ke Gawang

Plastik merupakan salah satu musuh terbesar lingkungan. Sering kita menjumpai banyak sampah plastik bertebaran di lingkungan sekitar kita, termasuk di sekolah. Hal ini disebabkan banyaknya kantong kresek, kemasan makanan, dan minuman instan yang dijual. Karena sifat plastik tidak dapat diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam tanah, maka sampah plastik berdampak buruk bagi lingkungan. Salah satu cara sederhana untuk menekan beredarnya sampah plastik adalah dengan memanfaatkan sampah plastik sebagai media pembelajaran berbentuk ecobrick.

Ecobrick adalah teknik mengolah sampah plastik menjadi sebuah benda yang bermanfaat. Ecobrick dianggap sebagai proses daur ulang yang bersifat permanen dan dapat bertahan hingga ribuan tahun. Ecobrick tidak akan menimbulkan sampah baru dan masalah kesehatan lainnya. Contoh pemanfaatan pembuatan ecobrick adalah untuk membuat meja, kursi, tembok, atau barang yang lainnya.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat materi tentang proses pembuatan sesuatu yang disebut dengan teks prosedur. Menurut Kosasih (2019:33) teks prosedur adalah teks yang menyajikan paparan penjelasan tentang tata cara melakukan sesuatu. Untuk itu, ecobrick dapat dijadikan sebagai media pembelajaran pada materi ini.

Baca juga:   Dengan Quantum Learning Siapkan Siswa Belajar Tatap Muka

Teknisnya, siswa mengamati guru yang mendemonstrasikan cara pembuatan ecobrick. Setelah siswa selesai mengamati demonstrasi, guru memberi tugas untuk menyusun teks prosedur tentang cara pembuatan ecobrick. Selain itu, guru juga memberi tugas pada siswa untuk mempraktikkan membuat ecobrick. Pada akhirnya, ecobricks hasil karya siswa satu kelas dapat dirangkai menjadi meja dan kursi. Selanjutnya, meja dan kursi tersebut dapat dijadikan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi yang lain. Misalnya, penyusunan teks deskripsi.
Media pada intinya adalah memberikan kemudahan dalam menyampaikan materi pelajaran pada siswa. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan media ecobrick, siswa terlibat langsung saat proses pembuatannya, sehingga pembelajaran menjadi aktif dan kreatif. Siswa ikut mencari, mengamati, dan membuat. Dengan media ini, siswa dapat mengaitkan materi dan pengalaman belajar di kelas dengan kehidupan nyata. Selain itu, media ecobrick juga mengajarkan bagaimana cara menjaga dan melestarikan lingkungan. (pkl1/aro)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Pekalongan

Author

Populer

Lainnya