Kartu Asyik Ha Na Ca Ra Ka dalam Penerapan Menulis Aksara Jawa

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Jawa mempunyai tataran dalam berbahasa yang disebut unggah- ungguh basa. Bahasa Krama yang harus mereka gunakan di kala berbicara dengan orang tua, bahasa ngoko alus yang digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya. Budaya Jawa juga mempunyai model pakaian khas berupa kebaya, makanan khas, bentuk rumah yang disebut Joglo, wayang kulit, gamelan, maupun mempunyai tulisan atau huruf Jawa. Huruf Jawa merupakan turunan dari huruf Pallawa yaitu huruf Jawa kuno yang untuk selanjutnya berkembang ke dalam berbagai gaya dan akhirnya menjadi Huruf Jawa (Edi Sedyawati,2006;425).

Huruf Jawa yang terdiri dari 20 huruf merupakan hal yang sangat sulit untuk dihafalkan oleh peserta didik di SMP Negeri 12 Semarang kelas VIII A, apalagi kalau ditambah dengan pasangan huruf Jawa dan macam-macam sandhangan. Semula peserta didik bersemangat apabila diberi tugas untuk menyalin kalimat memakai huruf latin ke aksara jawa, dengan melihat catatan aksara Jawa yang ada di hadapannya. Tetapi masalah timbul apabila catatan huruf Jawa itu diminta untuk ditutup, maka mereka akan kesulitan. Sedangkan guru hanya mendoktrin untuk menghafalkan, berlatih menulis tanpa catatan.

Baca juga:   Belajar Daring Memaksa Guru Melek Teknologi Informasi

Akibatnya nilai mata pelajaran Bahasa Jawa khususnya materi menulis dan membaca aksara Jawa rendah. Hanya 50 % yang mencapai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Untuk itu, Penulis menggunakan metode Kartu Asyik, yaitu kartu warna-warni yang ditulis dengan huruf Jawa. Masing-masing kartu, terdapat satu huruf Jawa, baik berupa aksara Legena, pasangan, sandhangan. Kartu tersebut terbuat dari kertas asturo atau buffalo yang dipotong-potong kecil berukuran 3 cm x 3 cm. Dan kartu asyik ini dibuat dalam jumlah yang banyak sekali. Adapun metode ini dinilai penulis sebagai metode yang tepat untuk mengatasi permasalahan peserta didik dalam menulis dan membaca huruf Jawa di SMP Negeri 12 Semarang kelas VIII A.

Adapun langkah-langkah pembelajarannya dengan menggunakan metode ini, pertama, peserta didik membuat kelompok kecil. Masing-masing kelompok berjumlah 8 anak, karena jumlah anak dalam satu kelas ada 32, sehingga terbentuk 4 kelompok. Kelompok kendhang, bonang, gender, gong. Langkah Kedua, guru membagikan kartu asyik tersebut dalam jumlah yang banyak, kertas folio, juga lem kertas kepada masing-masing kelompok. Langkah Ketiga, guru mempersilakan peserta didik untuk belajar menghafalkan Huruf-huruf Jawa. Langkah keempat, guru memberikan soal dua kata memakai aksara Latin untuk dialihaksarakan ke huruf Jawa. Langkah kelima, peserta didik berlomba-lomba untuk mencari kartu-kartu huruf Jawa yang sesuai dengan soal di tumpukan kartu-kartu tersebut. Setelah mendapatkan kartu yang cocok, maka mereka menempelkannya di kertas folio dengan lem kertas. Langkah keenam, guru memberi soal berupa kalimat yang lebih panjang lagi, dan peserta didik kembali mencari dan menyusun kartu-kartu tersebut membentuk kalimat. Dengan batas waktu tertentu Masing-masing kelompok mengumpulkan jawabannya. Dan kelompok yang menjawab dengan betul, maka diberi hadiah dengan tepukan yang meriah.

Baca juga:   Belajar Direction dengan Map Of Town

Dengan metode ini, dapat meningkatkan hasil penilaian mata pelajaran Bahasa Jawa untuk Kompetensi Dasar Menulis dan Membaca Aksara Jawa. (gml2/ton)

Guru Bahasa Jawa SMPN 12 Semarang

Author

Populer

Lainnya