Menelaah Teks Drama melalui TSTS ke Pemancingan dan Resto

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MODEL TSTS atau Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Spencer Kagan pada 1992. Sugiyanto (2009: 54) berpendapat bahwa metode Two Stay Two Stray memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. Banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Padahal dalam kenyataannya hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu dengan yang lain. Dalam model pembelajaran ini siswa dihadapkan pada kegiatan mendengarkan apa yang diutarakan oleh temannya (tuan rumah) ketika sedang bertamu.

Agar lebih menarik, suasana pembelajaran dibuat seolah-olah seperti berkunjung ke pemancingan dan resto (rumah makan). Dua siswa jadi tamu (pengunjung) dan dua siswa lain dalam satu kelompok sebagai tuan rumah (pelayan resto). Hal ini sekaligus langkah awal melatih siswa agar dapat menjiwai perannya saat bermain drama pada pembelajaran berikutnya.

Langkah-langkah pembelajaran Bahasa Indonesia materi menelaah struktur dan kebahasaan teks drama melalui metode Two Stay Two Stray dengan berkunjung ke pemancingan dan resto adalah sebagai berikut: Pendidik menyiapkan beberapa alat pancing atau kail yang dapat dibuat dengan sederhana, LKS yang dibuat dari karton berbentuk ikan, dan papan nama resto. Guru membentuk kelompok beranggotakan 4 siswa dengan latar belakang yang heterogen. Dalam masing-masing kelompok, dua siswa diberi peran sebagai tamu/ pengunjung dan dua siswa diberi peran sebagai pelayan resto. Peserta didik diajak untuk menentukan satu nama resto sebagai nama kelompoknya.

Baca juga:   Metode Tepat Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Problem Solving

Langkah selanjutnya, masing-masing ketua kelompok ke depan kelas untuk memilih kail dan memancing LKS yang berbentuk ikan. Setiap ikan bisa berisi tugas yang berbeda-beda. Setelah dapat, ikan tersebut diberikan kepada kelompok lain yang dipilihnya. Kemudian masing-masing kelompok berdiskusi untuk mengerjakan LKS yang tertulis pada ikan tersebut. Berikutnya, dua peserta didik yang berperan sebagai tamu diberi kesempatan untuk berkunjung ke kelompok lain. Dua peserta didik yang berperan sebagai pelayan resto tinggal di kelompoknya untuk menyajikan dan menjelaskan menu ikan yang berisi ringkasan materi tersebut kepada tamu yang datang. Tamu mohon diri untuk menuju ke kelompok lain. Setelah selesai bertamu, mereka kembali ke kelompok sendiri dan melaporkan temuannya dari kelompok lain. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja yang telah mereka lakukan.

Di kegiatan penutup, pendidik menegaskan kembali materi pembelajaran dan memberi umpan balik terhadap hasil kerja peserta didik. Kelompok dengan hasil terbaik diberi reward. Terakhir, pendidik dan peserta didik melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil yang dapat diamati dari penerapan pembelajaan Bahasa Indonesia materi menelaah struktur dan kebahasaan teks drama melalui metode Two Stay Two Stray dengan berkunjung ke pemancingan dan resto yang sudah diterapkan pada siswa kelas VIII di MTs Sholihiyyah, Kalitengah, Mranggen, Demak adalah peserta didik lebih menguasai materi. Karena mereka dituntut untuk mampu menjelaskan materi yang ditulis pada LKS yang berbentuk ikan tersebut.

Baca juga:   Mnemonik Unik Menggelitik IPA Menarik

Selain itu, peserta didik lebih antusias dan aktif berkunjung ke resto kelompok lain untuk memesan menu ikan yang berisi ringkasan materi tersebut. Peserta didik juga lebih tertarik dan merasa nyaman menerima penjelasan dari temannya sendiri yang bertugas sebagai pelayan resto. Dengan demikian, hasil belajar peserta didik dalam lebih meningkat, baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. (gml1/aro)

Guru Bahasa Indonesia MTs Sholihiyyah Kalitengah, Mranggen, Demak

Author

Populer

Lainnya