Asyiknya Belajar Pelestarian Sumber Daya Alam dengan Puzzle

spot_img

RADARSEMARANG.ID Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menciptakan pembaruan dalam proses belajar. Termasuk pemanfaatan media pembelajaran yang terus berkembang. Guru diharapkan mampu mengembangkan media pembelajaran menggunakan alat yang murah dan efisien. Meskipun sederhana, tetapi harus efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Arsyad (2013: 2) berpendapat disamping menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang digunakan apabila media tersebut belum tersedia. Hal tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran memiliki fungsi penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mempelajari segala sesuatu yang terjadi di alam. Dalam pembelajaran IPA di jenjang sekolah dasar (SD) peran media sangat penting. Yaitu untuk mengkonkretkan pengalaman belajar anak. Untuk usia anak SD kelas rendah yang taraf berpikirnya masih sederhana, guru harus berupaya menghadirkan media nyata yang dapat diamati langsung oleh siswa.
Sedangkan untuk siswa kelas tinggi yang taraf berpikirnya sudah menuju ke abstrak, media perlu dikembangkan dalam penyajiannya sehingga sesuai dengan taraf berpikir siswa kelas tinggi.

Dalam materi pelestarian sumber daya alam, siswa akan kesulitan bila hanya disajikan materi berupa hafalan atau catatan. Sehingga perlu inovasi dalam penggunaan media. Media puzzle dirasa cocok dengan materi yang hendak diajarkan. Puzzle adalah permainan menyusun gambar. Siswa akan menyusun potongan-potongan gambar hingga terbentuk gambar utuh. Selain menyajikan pengalaman belajar yang konkret, penggunaan media puzzle juga menghidupkan suasana kelas.

Baca juga:   Supervisi Akademik dengan Teknik Kunjungan Kelas

Dalam menyajikan puzzle, guru perlu menyiapkan gambar yang dihendak dibuat puzzle. Lalu guru mencetak gambar tersebut dan dipotong-potong. Gambar hendaknya asli (bukan animasi) serta berwarna agar lebih menarik. Perlu diperhatikan potongan jangan terlalu kecil. Karena siswa akan kesulitan dan akan memakan waktu yang agak lama.

Penyusunan puzzle harus disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia serta tingkat kesulitannya. Lalu siswa bisa dibagi dalam beberapa kelompok dalam menyusun puzzle tersebut. Hal tersebut melatih kemampuan kerja sama siswa. Siswa akan berdiskusi dalam penyusunan puzzle, sehingga akan terbentuklah gambar yang utuh. Saat pelaksanaan, siswa terlihat asyik dan antusias dalam menyusun. Kelompok yang paling cepat dan tepat dalam menyusun puzzle dapat diberi reward untuk meningkatkan motivasi siswa.
Di akhir pelajaran, guru memberikan umpan balik terhadap materi yang telah dipelajari. Guru juga memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya. Dilanjutkan dengan evaluasi menggunakan soal yang memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skill) untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa. Hasil evaluasi kemudian dianalisis untuk kemudian dilakukan tindak lanjut. Berupa remidi atau pengayaan. Siswa juga perlu diberikan materi ko-kurikuler yang dipelajari di rumah bersama orang tua.

Baca juga:   Memorable Catchy Names Permudah Belajar Adjective

Media puzzle telah digunakan dalam muatan pelajaran IPA materi pelestarian sumber daya alam kelas IV B SD Negeri Bulustalan. Puzzle disusun dari gambar hewan atau tumbuhan langka yang perlu dilestarikan. Hewan dan tumbuhan tersebut sulit ditemui di lingkungan sekitar siswa, sehingga dipilihlah puzzle dalam menyajikan gambar hewan serta tumbuhan langka yang hendak dipelajarai. Penggunaan puzzle dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. (by2/lis)

Guru Kelas IVB SD Negeri Bulustalan, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang

Author

Populer

Lainnya