Siswa Berhenti Merokok melalui Layanan Bimbingan Kelompok Model PBL

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Perilaku merokok adalah perilaku yang merugikan diri si perokok sendiri dan juga merugikan orang lain. Dilihat dari sisi kesehatan pengaruh bahan-bahan kimia yang dikandung rokok seperti nikotin, karbon monoksida dan tar, akan memacu kerja dari susunan saraf pusat dan susunan saraf simpatis sehingga mengakibatkan tekanan darah meningkat dan detak jantung, kanker dan berbagai penyakit yang lain. Dari sudut pandang ekonomi merokok berarti mengeluarkan dana yang tidak perlu. (Safir Senduk, 2014).

Pada awalnya remaja yang mencoba merokok kurang dapat menikmati rokok pertamanya karena terasa pahit di mulut, mual dan pusing. Namun karena dorongan sosial (dorongan teman-teman), perilaku pertama tersebut menjadi menetap. Perasaan mual dan pusing disebabkan karena tubuh memerlukan penyesuaian terhadap zat-zat yang terkandung di dalam rokok yang tidak dapat diterima tubuh, namun lama-kelamaan menjadi terbiasa dan teradaptasi setelah mengalami beberapa kali merokok. Unsur-unsur yang terdapat di dalam rokok dapat membuat orang menjadi ketagihan dan ingin merokok lebih banyak lagi.

Sekolah sebagai tempat berlangsungnya pendidikan formal sudah selayaknya bebas dari asap rokok, karena salah satu wujud perilaku hidup sehat adalah tidak merokok baik secara pasif maupun aktif. Untuk mendukung perilaku hidup sehat tersebut, sekolah telah membuat tata tertib yang melarang siswa membawa apalagi merokok di lingkungan sekolah.

Baca juga:   Bimbingan Kelompok, Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa

Pada kenyataannya di lingkungan SMP Negeri 1 Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan masih belum bisa terbebas dari asap rokok, masih dijumpai beberapa siswa mengonsumsi rokok, membawa rokok dan korek api di sekolah, serta sering menjumpai siswa putra merokok di luar sekolah. Perilaku merokok siswa ini biasanya dipengaruhi beberapa hal antara lain: coba-coba, pengaruh teman, supaya dihargai, lebih percaya diri, rileksasi, merasa jantan, penghilang stres, serta kurangnya pengetahuan akan bahaya perilaku merokok bagi kesehatan.

Guru BK selaku guru pembimbing mempunyai tugas dalam membimbing serta membina siswa ke arah yang lebih baik, khusunya dalam kasus ini adalah perilaku merokok. Melihat adanya kasus di atas, selaku guru BK. mengupayakan beberapa langkah berkaitan dengan menumbuhkan perilaku siswa yang antirokok, yaitu dengan menggunakan layanan yang terdapat dalam bimbingan dan konseling.

Layanan yang penulis gunakan adalah layanan bimbingan kelompok dengan metode problem based learning. Layanan bimbingan kelompok yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok. Model pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar dalam menemukan permasalahannya. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahannya oleh peserta didik. (Kemdikbud : 2013).

Baca juga:   Tingkatkan Komunikasi Antar Pribadi dengan Bimbingan Kelompok

Pemilihan metode pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada alasan karena permasalahan yang muncul berkaitan dengan dampak bahaya dari perilaku merokok. Sehingga metode pembelajaran berbasis masalah ini dipandang tepat untuk menumbuhkan sikap tidak merokok pada diri siswa. Melalui metode pembelajaran ini, siswa diajak untuk berpikir bagaimana memecahkan permasalahan agar mereka bisa berhenti merokok. Dengan metode ini telah terbukti dapat meningkatkan sikap tidak merokok pada siswa. Sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang bebas asap rokok. (kdw1/aro)

Guru BK SMP Negeri 1 Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya