PAI Otentik, Siswa Jujur, Amanah, dan Terampil Beribadah

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Usaha yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pembelajaran, di antaranya adalah meyakinkan pada siswa bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Menjadi hamba Allah, maka seharusnya ia patuh dan taat menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Mendorong dan membantu siswa dalam mengamalkan ajaran agama yang benar. Mendorong dan membantu siswa untuk mengamalkan ajaran Islam secara muklish lillah karena Allah.

Harapan para guru agama Islam dalam pembelajarannya adalah siswa tidak hanya mampu meningkatkan kualitas akademiknya saja, tetapi lebih dari itu, siswa siswa memiliki karakter yang baik, siswa cerdas dan sehat serta kuat keimanannya berakhlak luhur. Melaksanakan perintah-Nya secara tulus ikhlas lillah karena Allah.

Namun kenyataan di lapangan lain, sekalipun siswa telah diberi pembelajaran agama Islam dengan penuh kesungguhan oleh guru pendidikan agama, namun banyak siswa yang masih berperilaku yang kurang baik. Misalnya, belum melaksanakan salat secara tertib. Belum bisa berwudhu/ bersuci secara benar. Membaca Alquran hanya kadang-kadang saja. Dalam perilaku masih belum menunjukkan sikap sebagaimana muslim yang taat. Misalnya, perilaku jujur, menghargai teman, menyontek dan lain sebagainya.

Perilaku dan kebiasaan yang belum baik itu kalau dibiarkan akan menjadi permasalahan yang serius di kemudian hari. Untuk itu, penulis sebagai guru PAI di SMP Negeri 30 Semarang berusaha untuk mencari solusi pembelajaran yang bisa membuat siswa berperilaku yang baik. Di antaranya bersikap dan bertutur kata yang indah dan menyenangkan bagi siswa lain maupun orang banyak. Selalu menjalankan perintah Allah dengan sungguh-sungguh, dan mempunyai pemahaman agama yang kuat dan selalu berbudi luhur.
Usaha itu adalah di kelas guru memberi penguatan pembelajaran tentang pengetahuan agama. Misalnya, sikap jujur, berperilku amanah dan istikomah, disertai bimbingan, dan keteladanan yang baik. Untuk psikomotor, guru memberi contoh dan pembelajaran langsung siswa. Melaksanakan praktik bersuci dengan tertib dan syarat rukun, serta sunahnya. Demikian pula dengan salatnya. Guru selalu mendampingi dan mengawasi kegiatan siswa itu. Hal itu diwujudkan dalam salat dhuhur berjamaah di musala sekolah. Amalan wudhu dan salat ini diwajibkan untuk siswa. Bacaan Alquran, dengan guru membimbing dan tutor sebaya. Artinya siswa yang mempunyai kepandaian dalam hal bacaan Alquran membimbing siswa lain yang belum memahami bacaan Alquran. Untuk ranah kognitif, melalui pembelajaran langsung dengan guru memberikan nasehat, bimbingan, ajakan, diperkuat dengan contoh konkret atau keteladanan (Q.S.Al-Ahzab:21) di lingkungan siswa masing-masing.

Baca juga:   Asyiknya Ibadah Haji dan Umroh melalui Picture and Picture

Setelah melaksanakan pembelajaran agama otentik ini, dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Evaluasi itu diwujudkan dalam wujud tes.Tes itu berupa pertanyaan dengan jenis pilihan ganda maupun uraian yng harus dijawab siswa. Untuk amalan yang berupa bersuci, salat, dan bacaan Alquran berupa praktik langsung dengan guru sebagai penilai, dibantu oleh siswa yang dianggap guru mampu untuk melakukan hal itu.

Adapun hasil dari pembelajaran ini adalah siswa merasa senang, terdorong motivasinya untuk mempelajari agama secara lebih mendalam lagi. Hal ini dapat dilihat dari sikap dan perilaku siswa dalam pebelajaran. Siswa serius dan punya rasa ingin tahu yang lebih jelas lagi. Dari sisi amalan, siswa banyak yang melaksanakan amalan agama dengan benar, dimulai dari niat, rukun, dan amalan tambahan yang membuat siswa mempunyai harapan hidup lebih baik lagi. Siswa perilakunya menjadi jujur, tidak pernah berbohong, nyontek, apalagi berbuat yang negatif lainnya. (ttg4/aro)

Guru PAI SMP Negeri 30 Semarang

Author

Populer

Lainnya