Memperluas Cakrawala Bentuk Pelanggaran HAM melalui PBL

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) terjadi secara terus menerus dari waktu ke waktu mulai dari pelanggaran ringan, sedang bahkan berat. Anehnya ketika persoalan pelanggaran HAM dibahas di dalam kelas dan ketika peserta didik diminta untuk memahami bentuk-bentuk pelanggaran HAM dengan kompak mereka menjawab pembunuhan, penculikan, pemerkosaan.

Ini menandakan bahwa wawasan mereka tentang bentuk pelanggaran HAM masih minim sehingga lebih cenderung mengabaikan permasalahan – permasalahan di sekitar kita. Bahkan mirisnya pelanggaran tersebut sudah dianggap wajar serta biasa seperti melakukan bullying, mencubit temanya, mengunjing teman, memfitnah dan lain sebagainya. Sehingga pelanggaran yang awalnya dianggap sepele akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar lagi, seperti perkelahian antar teman, tawuran antar kelas maupun antar sekolahan.

Oleh karena itu perlu adanya penajaman pemahaman peserta didik agar lebih memahami bahwa pelanggaran HAM tidak terfokus pada pelanggaran kemanusiaan seperti pembunuhan, pemerkosaan, penculikan saja. Harapannya peserta didik mempunyai pemahaman luas terkait konsep pelanggaran HAM.

Sebagai seorang guru, kita harus mampu mendesain dan memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tema dan kompetensi dasar yang harus dikuasai yang oleh peserta didik. Model pembelajaran yang kita pilih hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan peserta didik, sehingga meningkatkan kemampuan pemahaman konsep kompetensi dasar yang akan di kuasai oleh peserta didik, harapanya mampu meningkatkan hasil belajarnya.

Baca juga:   Asah Nalar Statistik dengan RME Berbasis IT

Melalui model pembelajaran Problem Based Learning diharapkan peserta didik mampu nmenggali dan memahami permasalahan HAM di sekitarnya. Konsep dari model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang dirancang agar peserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Pembelajaran berbasis masalah menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, dan bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata.

Sintak pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut : 1) Orientasi peserta didik kepada masalah. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, proses pembelajaran, dan memotivasi peserta didik terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. 2) Mengorganisasikan peserta didik. Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, dll). 3) Membimbing penyelidikan individu dan kelompok. Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah. 4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu peserta didik dalam merencanakan serta menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. 5) Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang digunakan. (kdw1/ton)

Baca juga:   Home Visit Metode Alternatif Pembelajaran di Masa Pandemi

Guru PPKn SMK Negeri 1 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Author

Populer

Lainnya