Belajar Menyenangkan dengan Model Pembelajaran STAD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Matematika adalah pembelajaran yang paling ditakuti oleh siswa. Padahal matematika adalah ilmu yang akan selalu berkaitan dengan siswa dalam keseharian mereka. Selain harus mengetahui rumus dan menghitung, yang paling penting dari pembelajaran matematika adalah jika pendidik bisa mengajak siswanya berproses belajar berpikir logis. Karena berpikir logis adalah modal utama siswa untuk menyelesaikan masalah sehari-hari jika nanti anak sudah benar-benar berada di lingkungan masyarakat.

Mengapa siswa paling takut dengan matematika? Mengapa siswa kurang semangat jika pembelajaran matematika dimulai? Inilah yang harus dikaji oleh guru. Guru melakukan pendekatan terhadap siswa dengan mengajaknya berbincang. Terutama bagi siswa yang benar-benar kurang nilainya. Dari kegiatan berbincang ini penulis mendapat jawaban bahwa siswa malas untuk menghafal rumus dan perkalian serta bosan dengan kegiatan pembelajaran yang ada. Hanya sekadar duduk manis mendengarkan penjelasan dari guru.

Dengan jawaban ini, guru harus proaktif untuk segera mencari penyelesaian. Kunci keberhasilan proses pembelajaran bukan hanya terletak pada banyaknya ilmu yang dimiliki oleh guru. Tetapi bagaimana guru bisa merancang proses pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan sehingga merubah pola pikir siswa agar mempunyai semangat baru serta termotivasi untuk mengikuti pembelajaran khususnya mata pelajaran matematika.
Guru memilih menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievment Divicion (STAD) untuk meningkatkan pembelajaran matematika materi perbandingan dan skala di kelas VI di SD Negeri 03 Beji. Tujuan utamanya agar anak tertarik dan merasa pembelajaran ini menyenangkan sehingga bisa berpengaruh terhadap hasil pembelajaran.

Baca juga:   Menjadi Pengawas Pendidikan Profesional

Isjoni (2007:51) mengatakan bahwa pembelajaran STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.
Langkah pembelajaran yang harus dilakukan pertama kali/tahap persiapan pembelajaran yaitu guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok secara heterogen dibagi sama rata. Artinya, setiap kelompok berisi anak yang penguasaannya cepat hingga lambat. Berhubung siswa kelas VI di SD Negeri 03 Beji terdiri dari 18 siswa, maka guru membagi kelompok menjadi 3 bagian.
Yang kedua adalah guru menyampaikan materi secara klasikal antara 10-15 menit

Ketiga, guru memberikan tugas yang harus dikerjakan secara diskusi kelompok. Hal ini dimaksudkan agar anak yang sudah menguasai materi bisa mengajarkan kepada anak yang penerimaan materinya lambat. Guru memastikan jalannya diskusi kelompok berjalan dengan lancar dengan tujuan melihat bahwa anak yang lemah dalam penerimaan materi bisa mengikuti sama seperti temannya yang lain.

Keempat, setelah siswa selesai diskusi, guru menyiapkan permainan kuis beregu sesuai dengan kelompok diskusi. Guru menyiapkan 3 meja dan meletakkan soal. Setiap anggota kelompok maju bergantian untuk mengerjakan soal yang sudah di sediakan oleh guru. Setelah siswa mengerjakan, guru meminta siswa lain untuk menanggapi sehingga tercipta tanya jawab dan kelas menjadi ramai aktif.

Baca juga:   Pendidikan Karakter Anak Usia Dini untuk Membangun Peradaban Bangsa

Kelima, guru memberi hadiah bagi kelompok yang paling aktif. Tahap yang terakhir adalah anak diminta mengerjakan soal secara mandiri. Dari hasil tugas/mengerjakan soal mandiri ini guru bisa melihat keberhasilan dari strategi dan model pembelajaran yang telah dilaksanakan. (pm2/lis)

Guru SD Negeri 03 Beji

Author

Populer

Lainnya