Peran Tes Bakat Skolastik terhadap Potensi Belajar Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.ID, TBS atau tes bakat skolastik merupakan seperangkat alat tes yang mengukur kemampuan kognitif potensial umum yang dimiliki oleh seseorang. TBS dirancang untuk memprediksi kemampuan seseorang jika yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Alasan yang mendasari pengembangan TBS adalah penggunaan tes prestasi dalam sistem seleksi belum memberikan informasi potensi akademik secara adil.

Tes prestasi dirancang untuk mengukur hasil dari program pembelajaran atau pelatihan yang dilaksanakan pada kondisi yang terkontrol. Tes prestasi disusun berdasar silabus mata pelajaran pada suatu jenjang pendidikan atau pelatihan. Dengan demikian maka tes prestasi sangat tergantung dengan pencapaian kurikulum yang diterima di sekolah. Kondisi ini tentunya akan menjadi tidak adil pada siswa yang berasal dari sekolah dengan sarana dan prasarana yang terbatas.

TBS lebih mengukur kemampuan yang bersifat spesifik yang terbentuk dari interaksi antara karakteristik individu dan kesempatan belajar di lingkungannya. Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengembangkan tes potensi belajar sejak 1990, dan 2000 tes potensi akademik diberi nama tes bakat skolastik.

Baca juga:   Menumbuhkan Peduli Lingkungan Sekolah dengan Sasi Sahon

TBS digunakan sebagai alat seleksi penerimaan mahasiswa baru di beberapa PTN dan PTS serta penerimaan calon pegawai baru instansi swasta dan di beberapa kementerian. Pada jenjang SMA/MA, TBS dapat digunakan untuk keperluan peminatan karena tes tersebut mengukur bakat akademik.

TBS terdiri atas tiga subtes yaitu verbal, kuantitiatif dan penalaran. Subtes verbal terdiri dari sinonim, antonim, analogi dan wacana. Subtes kuantitatif terdiri dari deretan angka, aritmatika, aljabar, dan geometri. Dan subtes penalaran terdiri dari logis, diagram dan analitis. Salah satu keunggulan TBS adalah prosedur pengembangan butir soal yang sudah terstandar, sehingga soal-soal yang dikembangkan merupakan soal yang valid dan terkalibrasi. Akurasi prediksi prestasi siswa pada jenjang yang lebih tinggi dapat terlihat berdasarkan hasil TBS. Artinya TBS mempunyai korelasi yang signifikan dengan prestasi belajar seseorang.

Pada 1 Oktober 2019, siswa MAN 1 Kota Semarang telah melaksanakan TBS, diikuti siswa kelas XII yang berjumlah 427. Terdiri atas 6 kelas jurusan IPA, 3 kelas jurusan IPS, 1 kelas jurusan Bahasa dan 1 kelas jurusan Agama. Pelaksanaan TBS dilakukan dalam tiga sesi dengan menggunakan tes berbasis komputer (Computerized Based Test/CBT ). TBS menggunakan model UBK semi-online. Model ini koneksi internetnya dibutuhkan hanya ketika sinkronisasi, rilis token, dan unggah data jawaban.
Pelaksanaan tes dilaksanakan di ruang UBK. Setiap peserta mendapat paket tes berbeda yang diatur melalui aplikasi. Layanan TBS berasal dari Puspendik dalam membantu sekolah untuk mengetahui gambaran potensi siswa. Layanan penyajian dan pemilihan soal pada CBT dilakukan secara terkomputerisasi, sehingga setiap peserta tes mendapatkan paket soal yang berbeda-beda.

Baca juga:   Meningkatkan Hasil Belajar Matematika dengan PBL

Dari tes tersebut hasil rekapannya seluruh siswa terdiri atas 3 skor yaitu verbal, kuantitatif, penalaran dan total skor. Tindak lanjut dari hasil TBS dilakukan oleh guru BK untuk mengarahkan peserta didik dalam memilih jurusan di perguruan tinggi. Dari hasil TBS dapat kita golongkan untuk siswa yang subtes verbalnya lebih dominan diarahkan mengambil jurusan ilmu ilmu sosial (humaniora). Siswa yang subtes kuantitatifnya lebih dominan diarahkan untuk mengambil jurusan ilmu ilmu eksakta (saintek). Untuk subtes penalaran digunakan untuk memilih tingkat persaingan jurusan di perguruan tinggi. (man2/lis)

Guru BK MAN 1 Kota Semarang

Author

Populer

Lainnya