Kemampuan Berpikir Kritis melalui Budaya Literasi pada Materi Reading Text

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pada zaman milenial saat ini kemampuan dan keterampilan dalam mengolah suatu informasi diperlukan oleh siswa dalam hal ini internet. Dalam mengolah menganalisis sebuah informasi baik di internet maupun di media cetak bisa tercapai jika pembiasaan literasi dilaksanakan dengan baik disekolah.

Kegiatan budaya literasi tidak hanya terfokus ada satu aspek atau satu subjek saja. Hal tersebut akan mudah dikembangkan di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat.

Kegiatan literasi dalam pembelajaran di kelas harus bisa berorientasi pada keterampilan dan berpikir kritis. Harapannya, bahwa kegiatan pembelajaran akan lebih kondusif yang bermuara pada hasil belajar yang efektif karena literasi dan berpikiran kritis saling berkaitan.

Literasi terbentuk dari membaca dan menulis yang dilakukan secara kontinue. Berpikir adalah seseorang dalam menganalisis ide atau gagasan secara logis sistematis dalam mengevaluasi dan mengambil keputusan tentang suatu yang diyakini dan dapat memecahkan masalah.

Karena semakin siswa terampil dalam membaca dan menulis semakin terampil dalam berpikir. Dalam kegiatan membaca (reading text) siswa diberikan bacaan dan siswa disuruh  mengkritisi bacaan yang telah mereka baca yang dituangkan dalam tulisan (writing) sehingga pengajar bisa mengetahui kemampuan dari per individu para siswa dalam menganalisis dari sebuah bacaan.

Baca juga:   Belajar IPA Realistik dari Lingkungan Rumah di Masa Pandemik

Literasi juga dapat dikatakan sebagai proses kritis siswa karena menawarkan potensi yang berfungsi sebagai alat dalam mengintepretasikan beragam pesan berdasarkan informasi yang mengubah mindset (pola pikir) siswa dengan kegiatan literasi siswa berpikir kritis.

Sehingga saling berkaitan antara literasi dan berpikir kritis karena siswa yang gemar membaca dan menulis mempunyai kemampuan yang kritis dalam menyikapi masalah yang diberikan oleh guru. Mereka diharapkan mengkritisi dan dapat memberikan problem solving dari apa yang diberikan permasalahan oleh gurunya.

Terkait dengan itu bahwa literasi membentuk siswa untuk kritis. Apalagi pemerintah saat ini sedang mengalakkan kegiatan literasi di sekolah-sekolah dengan harapan bahwa siswa gemar membaca dan menulis selama 15 menit setiap hari atau bahkan lebih.

Dengan kegiatan literasi gemar membaca diharapkan siswa dalam hal ini bahasa Inggris, dapat menambah perbendaharaan kata dari literasi tersebut. Sehingga SMK Negeri 3 Kendal melaksanakan literasi di awal pembelajaran seminggu sekali selama 15 menit. Animo siswa dalam membaca semakin besar dan kian besar pula materi yang akan dia dapatkan dari kegiatan literasi tersebut.

Baca juga:   Menggalakkan Budaya Untuk Literasi Guru

Dengan gemar membaca bacaan dalam bahasa Inggris siswa dapat memahami isi bacaan tersebut. Siswa akan memaknai isi dari bacaannya. Sering membaca, akan membuat pengetahuan siswa, terutama bahasa asing yang dibacanya akan dipahami dan dimengerti dari teks tersebut. Perbendaharaan kata siswa juga akan terpenuhi. Selain itu speaking siswa akan bisa dilaksanakan dengan baik dan siswa dapat mengkritisi suatu teks. (by2/lis)

 

Guru SMK Negeri 3 Kendal

Author

Populer

Lainnya