33 C
Semarang
Jumat, 29 Mei 2020

Virus Bersih

Another

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri.

Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya.

Bagi yang baru pertama cruise –dan punya kebiasaan kurang peduli seperti di Indonesia atau Tiongkok– akan terkaget-kaget melihat ketatnya aturan di situ.

Toh Diamond Princess terkena juga. Kapal pesiar itu kini dikarantina di atas laut. Di dekat Pelabuhan Yokohama, Jepang. Dengan 3.700 orang ‘tersandera’ di dalamnya.

Tidak terbayangkan ada virus menyelundup masuk ke cruise.

Yang selama ini paling ditakuti bukanlah virus seperti itu.

Yang jadi momok adalah bakteri yang satu ini: yang membuat penumpang bisa sakit perut. Lalu diare masal.

Bayangkan kalau 3.700 orang –apalagi ada cruise yang berisi 6.000 orang– diare bersama.

Lalu mereka bertumbangan meninggal dunia di atas kapal.

Maka kebersihan di sebuah cruise dijaga sampai harga mati. Seorang penumpang yang masuk restoran di kapal itu harus cuci tangan. Ada fasilitas untuk itu. Tidak ada yang bisa lolos: ada petugas berpakaian serba necis di situ. Petugas itu mengawasi yang tidak cuci tangan –lalu dengan sopan dan hormat mengajak ke wastafel.

Tidak boleh pula membuka pintu tanpa lapisan tisu di tangan. Disediakan tisu di dekat pintu itu. Tinggal ambil.

Ada pula yang menjaga di situ –dan siap mengingatkan yang akan membuka pintu tanpa lapis tisu.

Maksudnya: agar tidak ada bakteri yang pindah dari tangan ke tangan –hanya gara-gara bergantian membuka pintu. Lalu tangan yang terkena bakteri memegang makanan. Atau memegang hidung.

Robert Lai, yang sebelum bersama saya ke Xinjiang melakukan berjalanan cruise dari Yunani ke Barcelona, selalu menceritakan itu.

Selama hampir dua minggu di Xinjiang cerita soal kebersihan di cruise tidak ada habisnya.

Sebagian karena teman saya asal Singapura itu memang sangat terkesan. Sebagian lagi saya merasa: agar saya meninggalkan cara hidup yang sembrono.

Robert tidak pernah bosan mengingatkan saya soal sering-sering cuci tangan. Atau soal penggunaan jari untuk membuka lift. Juga soal mengenakan masker. Ia selalu membawa masker baru untuk saya.

Akhirnya Robert meyakinkan saya: untuk mau mulai menyenangkan diri sendiri. Dengan cara sesekali ikut cruise. Saya juga sudah setuju. Apalagi istri saya.

Ketika Diamond Princess terkena virus Covid-19 –nama baru yang resmi untuk virus Wuhan– Robert tidak habis pikir: kok ada penumpang yang kena juga.

Itu karena ada orang Hongkong berumur 80 pernah ke Wuhan sebelum ke Yokohama untuk naik Diamond Princess. Berlayarnya pun hanya satu etape: hanya dari Yokohama ke Hongkong.

Sayangnya berita bahwa orang tua itu terkena virus baru belakangan dilaporkan. Setelah kapal meneruskan perjalanan dari Hongkong ke Vietnam. Lalu ke Taiwan dan Okinawa.

Selama pelayaran lanjutan 10 hari itu virus dari Pak Tua beredar terus di cruise itu. Dari penumpang ke penumpang lain. Lalu ke awak kapal.

Awak kapal melayani penumpang. Peredaran virus pun meluas.

Tiap hari ditemukan penderita baru di kapal itu. Tiap hari sirine ambulance mendekat ke pelabuhan. Untuk menjemput yang terkena virus. Untuk dibawa ke rumah sakit.

Sayangnya pihak Jepang tidak mampu melakukan pemeriksaan sekaligus. Untuk keseluruhan 3.700 orang di kapal itu.

Alat pemeriksaannya tidak mencukupi untuk orang sebanyak itu sekaligus.

Inilah yang membuat para penumpang seperti menanti putaran lotere: kapan mendapat giliran diperiksa dan bagaimana hasilnya.

Sekaligus penantian itu menjadi waktu tambahan bagi virus untuk menular lagi ke penumpang lain.

Bahkan ada perasaan waswas yang lain: apakah pelayan yang mengantarkan makanan itu masih ‘bersih’. Atau sudah pula membawa virus.

Sampai kemarin –setelah 10 hari dikarantina di atas laut– belum lagi 600 orang yang sudah diperiksa. Yang hasilnya: 135 orang sudah terjangkit virus.

Karantina itu masih akan 4 hari lagi. Lalu apa yang akan dilakukan? Jadikah tanggal 19 Februari nanti pengarantinaan itu diakhiri –dengan masih banyak penumpang yang belum diperiksa?

Jepang memang tidak mau ambil risiko: jangan sampai ada penularan virus ke penduduknya. Jepang adalah tuan rumah Olimpiade musim panas nanti. Jangan sampai Olimpiade itu batal karena virus.

Saya bayangkan hanya satu penumpang yang tidak stres di kapal itu. Yakni Gay Courter. Dia seorang novelis best seller. Salah satu bukunyi masuk nominasi hadiah Pulitzer. Usianyi 75 tahun. Dia ditemani suaminyi, Phil –dua tahun lebih tua darinyi. Sang suami juga seniman. Bidang film. Ia pembuat film dokumenter terkemuka di Amerika.

Kepada majalah Times, Courter mengatakan bahwa dia sudah menghubungi perusahaan asuransinyi. Untuk menyelamatkannyi.

Caranya pun sudah ditemukan: diterbangkan ke rumah sakit militer AS di Okinawa. Untuk dikarantina di sana.

Tapi pemerintah Jepang tidak setuju.

Courter dan suaminyi mengaku masih sehat. Selama 10 hari diisolasi di kamarnyi di atas kapal itu Courter menemukan pahlawan baru: chef yang mampu membuat kue coklat yang sangat lezat.

Courter sangat menikmati sajian coklat di kapal pesiar itu. Dalam berbagai bentuk pastry. Setiap saat. Dia bisa pilih mati kekenyangan coklat daripada terkena virus.

Selama dikarantina Courter tentu bisa terus sibuk: menulis novel. Kebetulan salah satu novelnyi dulu berjudul ‘Pembunuhan Misterius di Kapal Pesiar’.

Kini dia bisa menulis novel tanpa harus mengarang cerita.

Tepat di akhir karantina nanti setidaknya satu novel sudah bisa terbit. Harapan saya.

Pun seandainya dia sendiri akhirnya nanti terkena virus di kapal itu. Novelnya justru bisa kian laris.

Tapi kita semua tidak ada yang mau ada tragedi seperti itu. Setelah Tiongkok kini Diamond Princess lah ‘negara’ nomor dua terbanyak menderita Covid-19. Bukan Hongkong atau Natuna. (dahlan iskan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

More Articles Like This

Must Read

Korban Pencabulan Guru Bertambah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Korban pelecehan seksual yang diduga dilakukan oknum guru SD Karangayu 2 Semarang Barat berinisial FO, diperkirakan lebih dari satu orang. Diduga...

Tak Kalah dengan Karya Desainer Profesional

SEMARANG- Puluhan karya boga, busana, dan rias kecantikan dipamerkan dalam ajang Gelar Karya Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri...

PPK Songsong Generasi Emas Bangsa

RADARSEMARANG.COM - PEMUDA merupakan ujung tombak suatu bangsa dimana sebuah negara akan menjadi besar dengan adanya pemuda yang pedulidengankemajuanbangsanya. Pemuda sebagai agent of change...

Wisatawan Diminta Waspadai Perubahan Cuaca

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang memberikan peringatan kepada para nelayan dan wisatawan di Danau Rawapening. Kepala BPBD Kabupaten Semarang,...

Pasar Rakyat Grebeg Besar Ajang Promosi Potensi Lokal

DEMAK-Pasar Rakyat Grebeg Besar di Lapangan Tembiring resmi dibuka Wakil Bupati (Wabup) Joko Sutanto, Sabtu malam (19/8) kemarin. Event tahunan pasar rakyat yang dikelola...

Aksi Bakar Tangan

RADARSEMARANG.COM - SEJUMLAH mahasiswa yang tergabung dalam KAMMI menggelar aksi penyambutan Presiden Jokowi di Kota Semarang. Mereka melakukan aksi membakar tangan dan kursi sebagai...