Pentingnya Pendidikan Karakter di SMK

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN karakter adalah pendekatan langsung pada pendidikan moral, yakni mengajari murid dengan pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan tindakan tak bermoral dan membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Awilson melalui Tadkiratun Musfirah (2008: 27) mendefinisikan karakter sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun secara implisi. Pendidikan karakter merupakan gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika, bertanggung jawab, dan peduli melalui pemodelan dan pengajaran karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang disepakati bersama.

Dasar pelaksanaan pengembangan karakter berawal dari filosofi yang secara obyektif menekankan bahwa nilai-nilai etika dasar atau nilai murni terdiri dari kepedulian/kasih sayang (caring), kejujurun, keterbukaan, tanggung jawab, dan rasa hormat. Pengembangan karakter mengarah pada belajar dalam rangka memahami bentuk-bentuk kebaikan, nilai-nilai kebaikan, dan bertindak atas dasar nilai-nilai kebaikan.

Sementara itu, pendidikan di Indonesia dinilai terlalu menonjol aspek kognitif tetapi minus emosi dan moral. Memang benar setiap pendidik sudah mengetahui tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (perilaku). Namun setelah sampai pada tataran praktik, afektif, dan perilaku tidak memperoleh porsi yang memadai, bahkan kadang-kadang secara tidak disadari hilang dari kisi-kisi penilaian Kondisi di atas tentu sangat memprihatinkan dan patut menjadi renungan kita semua untuk menerapkan  pendidikan karakter secara terpadu dan terintegrasi dalam setiap mata pelajaran, sehingga siswa menjadi cerdas kognitif, afektif dan psikomotornya. Ketiga ranah ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan peserta didik menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat siswa masuk dalam lingkungan sekolah. Disinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut “digugu dan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) secara tidak langsung juga memberikan contoh langsung kepada peserta didik. Dengan demikian, guru adalah ujung tombak di kelas yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Baca juga:   Media Memory Games dalam Pembelajaran Signs and Symbols

Menurut pendekatan pendidikan karakter, setiap sekolah harus punya aturan moral yang jelas yang dikomunikasikan dengan jelas kepada murid. Pengembangan karakter dapat terjadi melalui berbagai cara. Yang sering dan mudah terjadi adalah melalui peniruan, yaitu dengan melihat dan mencontoh perilaku orang disekitarnya. Proses peniruan atau pengimitasian telah dipopulerkan oleh Albert Bandura dan telah memperkenalkan Bandura’s social cognitive model.

Pentingnya pendidikan karakter dalam upaya membentuk peradaban bangsa yang berkarakter. Sekolah harus memiliki aturan moral yang jelas yang dikomunikasikan dengan jelas kepada peserta didik, sehiingga akan tertanam nilai-nilai positif seperti : Taat beragama, Jujur, Bertanggung jawab, Disiplin, Mandiri, Demokratis, Peduli dengan sesama, hormat dan sopan terhadap orang yang lebih tua, pekerja keras yang kemudian diaplikasikan melalui perilaku dan tindakan yang berkarakter. Hal tersebut diatas sangat penting bagi peserta didik SMK Negeri 1 Kendal dalam menghadapi dunia kerja setelah mereka menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Kejuruan.  (ikd1/bas)

Guru SMK Negeri 1 Kendal

Author

Populer

Lainnya