33 C
Semarang
Rabu, 8 Juli 2020

Air Semut

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...
Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya.
Kota yang di barat itu, dan yang di timur itu, juga masih di tengah gurun.
Nama kota ini: Kelamayi.
Itulah kota yang lahir karena ada gula.
Di tengah padang pasir pun ada kota-kota kecil di beberapa lokasi. Hukum alamnya: di mana ada kota di situ pasti ada air.
Para pengembara gurun biasa istirahat di sumber air. Lama-lama jadi kampung. Lalu jadi kota.
Berarti lebih dulu ada sumber air. Baru lahirlah kota. Atau desa. Kalau desanya kecil berarti sumber airnya kecil.
Dari situlah muncul pameo: air adalah sumber kehidupan.
Kelamayi beda.
Tidak ada sumber air di Kelamayi. Sama sekali. Sungai terdekat pun jauh. Hampir 400 km di utara kota itu.
Kelamayi lahir bukan karena air. Tapi karena gula. Di situ ditemukan sumber minyak. Di tahun 1956.
Tahun-tahun itu komunis Rusia masih sohib komunis Tiongkok. Lagi mesra-mesranya. Tiongkok belum dituduh sebagai penganut aliran sesat komunisme.
Ahli-ahli Rusia-lah yang menemukan minyak di Kelamayi itu. Lalu menggali sumur minyak di situ. Kian tahun kian diketahui: banyak minyak mentah di bawah tanah Xinjiang.
Industri pengilangan pun lahir. Belakangan ini. Disusul industri kimia. Bahkan minyak mentah dari negara sebelah dikirim ke Kelamayi. Tiongkok membangun pipa bawah tanah sejauh 1.000 km. Dari Kazakhstan ke Kelamayi.
Kota Kelamayi pun kian besar. Menjadi kota modern. Inilah kota baru di Xinjiang. Yang tidak ada akar suku Uygur-nya. Orang Uygur pun menjadi pendatang di kota Kelamayi.
Bagaimana dengan keperluan air penduduknya?
Tidak ada jalan lain: harus mendatangkan dari sungai yang jauh itu. Pipa besar digelar di bawah gurun. Sejauh 300 km lebih. Sampai ke lokasi pengolahan di luar kota Kelamayi.
Saya jadi ingat pemimpin Libya, Kolonel Muammar Gaddafi. Yang membangun ‘sungai’ di bawah gurun pasir Sahara. Sejauh 400 km. Dari sebuah sungai di wilayah selatan. Ke ibukota Libya Tripoli.
Bagi Tiongkok proyek seperti itu tidak baru. Sekarang ini Beijing pun mendatangkan air dari Sungai Chang Jiang. Dari wilayah selatan yang rendah. Dipaksa mengalir ke utara yang tinggi. Sejauh 1.500 km. Menyeberangi banyak sungai lainnya.
Itulah satu-satunya sungai yang mengalir ke arah utara. Tepatnya, dipaksa mengalir ke utara. Padahal semua sungai di Tiongkok mengalir dari barat ke timur.
Saya bermalam di Kelamayi. Menikmati makanan Xinjiang di kota yang seperti bukan Xinjiang. Yang tidak ada huruf Arab di nama-nama toko, kantor, atau restorannya.
Tapi nikmatnya sama. Kambingnya, mie kenyalnya, dan naannya. Hanya saja lebih sedikit lima ‘i’ nya.
Di malam hari kota ini seperti siang: mandi cahaya. Listriknya seperti dibuang-buang. Sepanjang malam lampu tidak dimatikan. Gedung-gedung tinggi dihias dengan cahaya. Sampai pagi.
Udaranya lagi enak. Di malam hari. Kami sengaja makan di resto yang agak jauh. Agar bisa berjalan membelah kota. Setelah sehari itu tidak berolahraga.
Pulang makan kami jalan kaki lagi. Sambil menghilangkan kambing di darah. Kali ini lebih satu jam. Sambil mampir di sumur minyak pertama. Yang ditemukan si Rusia. Yang lokasinya tepat di tengah perjalanan –dari restoran ke penginapan.
Sumur itu sudah tidak bergerak. Dalamnya sudah kering. Minyaknya sudah habis. Lokasinya sendiri sekarang menjadi museum. Yang arsitektur bangunannya seperti setetes besar minyak. Yang di sebelahnya dibuat banyak tetesan minyak yang kecil-kecil.
Bahan eksterior museum itu serba mengkilap. Yang kalau terkena cahaya menimbulkan affek abstrak yang menakjubkan. Tak terpermanai.
Cukup lama saya berada di museum itu. Sampai masuk ke bawah bangunan itu. Lihatlah foto-fotonya. Entah berapa ‘i’ yang harus diberikan padanya.
Air memang sumber kehidupan. Tapi gula juga selalu mengundang semut. Dan semut itulah yang kadang mendatangkan air kehidupan. (Dahlan Iskan)
Berita sebelumyaRombak Kurikulum
Berita berikutnyaRumah Kita

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Santri Ponpes Rijalul Quran Dilatih Membatik

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) Universitas Negeri Semarang menggelar pelatihan membatik di pondok pesantren penghafal Alquran Rijalul Quran Semarang. Kegiatan...

Senang dapat Kacamata Gratis

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Ratusan siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Magelang mendapat bantuan kacamata gratis dari Rumah Sakit ‘Aisyiyah Muntilan (RSAM) bekerjasama dengan Persatuan...

DPRD Desak Pemkab Perbaiki Insfrastruktur

BATANG-DPRD Kabupaten Batang mendesak Pemkab Batang untuk segera  melakukan perbaikan infrastruktur. Terutama perbaikan jalan rusak, yang selama ini banyak dikeluhkan masyarakat luas. Hal tersebut terungkap...

Pancasila Bagi NU Telah Final

WONOSOBO - Rencana pembubaran organisasi kemasyarakatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah terus mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan. Termasuk datang dari Sekjen Pengurus Besar...

Terlalu Sempit, Underpass Tol Diprotes

BATANG - Pembuatan underpass di jalur tol Pemalang-Batang di Desa Masin, Warungasem Batang yang terbilang sempit diproses DPRD Kabupaten Batang, yang diwakili Wakil Ketua...

1.000 Advokat Kawal Sudirman-Ida Fauziyah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Sebanyak 1.000 advokat menyatakan komitmen untuk mengawal dan membela  Sudirman Said-Ida Fauziyah dalam perhelatan Pilgub Jateng 2018. Sikap para advokat yang...