RADARSEMARANG.COM, Megaproyek pembangunan Simpang Lima berkonsep underground terus dimatangkan oleh Pemkot Semarang. Megaproyek ini bertujuan untuk mengurai kemacetan di titik ‘berlian’ Kota Semarang yang merupakan pertemuan Jalan Pandanaran, Jalan Pahlawan, Jalan Ahmad Yani, Jalan Gajahmada dan Jalan KH Ahmad Dahlan.

Anda kalau melihat konsep underground Simpang Lima pasti akan berdecak kagum. Di bawah Lapangan Pancasila Simpang Lima, nantinya akan dibangun empat lantai. Basement 1 seluas 23.603 m2 persis di bawah Lapangan Simpang Lima akan dibangun jalan underpass yang menghubungkan Jalan Pandanaran dan Jalan Ahmad Yani. Di lantai ini juga dibangun area komersil, parkir struktur, drop off area, sirkulasi kendaraan dan orang dan ramp ke basement 2, yang salah satunya menuju jalan underpass menghubungkan Jalan Gajahmada dan Jalan Pahlawan di basement 2.

Untuk basement 2 seluas 23.603 m2, selain terdapat jalan underpass menghubungkan Jalan Gajahmada-Jalan Pahlawan, juga terdapat ramp naik ke basement 1, serta ramp turun ke basement 3. Juga terdapat drop off area, parkir struktur, serta sirkulasi kendaraan dan orang. Sedangkan untuk basement 3 seluas 23.603 m2 terdapat ramp naik ke basement 2, area komersil, parkir struktur, serta sirkulasi kendaraan dan orang. Di bawah basement 3, akan dibangun tempat penampungan air atau ground tank.

Dalam laporan Cover Story RadarSemarang.id, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menjelaskan, drainase berupa ground tank basement 3 akan menampung air drainase dari kawasan underground kawasan Simpang Lima. Air ini dapat dipergunakan untuk penyiraman vegetasi di sekitar. Apabila air drainase terlalu banyak, maka dipersiapkan pompa buang dengan kapasitas 2 x 100 kW untuk dibuang pada saluran buang terdekat.

“Pompa didesain dengan dua unit pompa, di mana satu running dan secara bergantian atau running bersamaan. Pompa ini juga dipersiapkan sebagai pompa air buang apabila terjadi luapan air hujan yang masuk ke kawasan underground,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hal ini sekaligus untuk menepis adanya kekhawatiran nantinya kawasan underground Simpang Lima berpotensi tergenang air jika terjadi hujan. “Jadi, penanganan masalah tersebut telah ada dalam rencana pembangunan yang disiapkan,” tandasnya.

Sekretaris Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang, Irwansyah, mengatakan, terkait rencana pembangunan megaproyek Simpang Lima underground ini, Pemkot Semarang sejak dua tahun terakhir telah menyelesaikan Detail Engineering Design (DED). “DED makro sudah, tinggal menawarkan ke investor,” ujar Irwansyah.

Dari DED makro tersebut, lanjutnya, investor sudah bisa memperkirakan seberapa besar investasi yang akan dikeluarkan. “Melalui itu (DED makro) investor tahu berapa nilai investasi yang perlu dikeluarkan untuk masuk ke situ,” katanya.

Dikatakannya, proyek Simpang Lima underground itu merupakan solusi menangani persoalan kemacetan lalu-lintas kota. Selain itu, menjadi pusat perbelanjaan yang diharapkan mampu mendongkrak perputaran ekonomi. Nantinya, pusat perbelanjaan bawah tanah dan Simpang Lima underground memiliki empat bagian. Tiga di antaranya adalah basement sedalam 13 meter dalam underpass Simpang Lima, yaitu untuk ruang PKL, parkir, dan pusat pertokoan.

Di bagian atas Simpang Lima terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk publik. Sedangkan di kedalaman 9 meter terdapat basement 2 yang merupakan jalur underpass dari Jalan Pahlawan menuju ke Jalan Gajahmada. Sementara di basement 1 merupakan jalur underpass dari Jalan Pandanaran, dengan titik di Toko Merbabu menuju ke Jalan Ahmad Yani dengan titik di Kantor RRI Semarang.

Dikatakan Irwansyah, Simpang Lima underground ini pun nantinya juga bisa menjadi ikon bagi Kota Semarang. “Sudah dibuat studi kelayakan atau FS (feasibility study),” ujarnya.

Menurut Irwansyah, posisi atas Simpang Lima saat ini memang tidak bisa diotak-atik fungsinya. Apalagi sudah ditetapkan menjadi kawasan hijau. Sehingga konsep underground pun diggagas oleh Pemkot Semarang.

Selain itu, konsepnya, Simpang Lima underground dari empat lantai, 2 lantai digunakan untuk hotel, dua lainnya untuk penyambung jalan. Penyambung jalan yang dimaksud yaitu Jalan Pandanaran dengan Jalan Ahmad Yani. Serta Jalan Pahlawan menyambung dengan Jalan Gajahmada yang nilainya diperkirakan Rp 1,2 triliun. “Ini merupakan peluang investasi di Kota Semarang,” katanya.

Ia pun meyakini jika kondisi Kota Semarang yang terus berbenah akan membuat kondisinya semakin baik di berbagai sektor. Tidak terkecuali transportasi dan infrastruktur.

Wali Kota menambahkan, dengan pola tata ruang Kota Semarang yang berbentuk Radial Konsentris dengan Simpang Lima sebagai pusat mobilitas, antisipasi serta penanganan permasalahan kemacetan di kawasan tersebut menjadi salah satu fokusnya.

Untuk itu, Hendi –sapaan akrabnya–merasa perlu membangun jalur dedicated antar jalan untuk mengatasi konflik penumpukan kendaraan yang melintas di kawasan tersebut. Dengan begitu, kendaraan dapat langsung melewati jalur yang ingin dituju tanpa menyilang dengan kendaraan lainnya.

Namun di satu sisi, Hendi tidak ingin nantinya pembangunan yang dimaksud untuk mengatasi kemacetan itu justru mengubah fasad Simpang Lima yang ada saat ini. Lapangan Pancasila sebagai ruang terbuka hijau, menurutnya, tidak dapat diganggu gugat. Pasalnya, memiliki nilai historis yang kuat dan telah menjadi ikon kawasan pusat Kota Semarang. Untuk itulah Hendi kemudian menggagas sebuah megaproyek Simpang Lima underground untuk mengakomodasi seluruh pertimbangan pembangunan.

“Dalam meningkatkan kawasan Simpang Lima, tentu ada banyak pertimbangan, mulai dari pengaturan lalu lintas, aktivitas ekonomi, sampai nilai historis Simpang Lima sendiri yang telah menjadi ikon utama Kota Semarang. Untuk itu saya rasa desain ini menjadi yang paling pas untuk dikerjakan,” tandas Hendi.

“Seperti yang sudah saya paparkan saat Sembiz lalu, maka kita rencanakan bertingkat ke bawah dengan setiap tingkatnya dedicated untuk masing-masing aktivitas. Mulai dari ruang terbuka hijau yang ada saat ini kita pertahankan, lalu di bawahnya untuk menyambungkan jalur-jalur yang ada secara langsung, kemudian di bawahnya lagi untuk pertokoan, PKL, parkir, dan aktivitas ekonomi lainnya,” jelasnya.

Terpisah, Komisi C DPRD Kota Semarang menilai jika konsep Simpang Lima underground apabila teraplikasikan akan menjadi sebuah hal yang menumental. “Jadi ikon juga untuk Kota Semarang,” ujar Sekretaris Komisi C DPRD Kota Semarang, Danur Rispriyanto. Karenanya, setelah terbentuknya Alat Kelengkapan Dewan (AKD) DPRD Kota Semarang yang baru ini, pihaknya akan menannyakan bagaimana kelanjutan dari megaproyek tersebut ke pihak Distaru Kota Semarang. “Belum, ini kan komisi baru terbentuk, minggu depan kita akan bertemu dengan Distaru anntinya akan kita bicarakan tentang konsep ini,” ujarnya. (zal/ewb/aro/ap)