Dinkes Tahan Penggunaan Ranitidine

  • Bagikan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengambil langkah cepat terkait penarikan produk Ranitidine dari pasaran. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kepanikan masyarakat terkait penanganan untuk terapi penyakit maag dan nyeri lambung.

Kepala Dinkes Kota Semarang, Much Abdul Hakam menuturkan, pihaknya telah memberikan instruksi kepada seluruh puskesmas, klinik, tenaga kesehatan, farmasi dan dokter keluarga yang beroperasi di wilayah kewenangannya untuk menghentikan terapi menggunakan Ranitidine tersebut. Pasalnya berdasarkan penelitian dari US FDA (BPOM), Ranitidine yang memiliki N-nitrosodimethylamine (NDMA) melebihi ambang batas dapat menimbulkan kanker jika pemakaian berkepanjangan. Maka dari itu untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat, pihaknya meminta kepada seluruh tenaga kesehatan dan farmasi di Kota Semarang untuk dapat mengupdate dan menguasai terkait informasi tersebut sehingga mampu menyalurkan secara terperinci kepada masyarakat.  Pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPOM terkait kebijakan tersebut. Dan sudah instruksikan ke jajaran untuk tidak memberikan perawatan menggunakan Ranitidine lagi.

“Takutnya obat yang telah masuk ke sistem pencernaan dalam waktu lama dapat menimbulkan kanker pada organ pencernaan seperti kanker usus besar, kanker usus halus, kanker lambung dan lainnya. Maka dari itu kami perintahkan untuk menahan treatment Ranitidine sampai perusahaan pemegang izin edar menarik produk tersebut,” ujarnya Kamis (10/10).

Dirinya mengimbau bagi masyarakat yang kurang paham terkait hal tersebut dapat segera mengunjungi rumah sakit, puskesmas hingga pelayanan kesehatan lainnya untuk dapat diberikan penjelasan dan alternatif pengobatan lain selain menggunakan Ranitidine.

Sementara itu Kepala Balai BPOM Kota Semarang, Safriansyah menuturkan masih terdapat banyak obat yang dapat menggantikan Ranitidine sebagai obat maag. Antara lain yakni Famotidine dan Cimetidine. Meski pun tidak dapat lepas dari efek samping, namun obat tersebut dinilai jauh lebih aman daripada produk obat yang telah ditarik tersebut.

Pihaknya tidak lelah untuk mengimbau masyarakat dan petugas kesehatan untuk selalu berhati-hati dalam memberi dan mengkonsumsi obat sehingga tujuan masyarakat menyembuhkan penyakit menggunakan obat dapat terpenuhi dan bukan sebaliknya malah menimbun penyakit.

“Bagaimanapun obat itu zat kimia yang tidak bebas dari efek samping. Dengan produk pengganti tersebut bukan berarti efek samping nya tidak ada. Hanya saja bisa diminimalisir. Maka dari itu kami harap masyarakat tenang saja. Kami akan selalu  melakukan pengujian dan pemeriksaan kandungan obat sehingga tidak membahayakan dan menjamin kesehatan masyarakat,” pungkasnya. (akm/zal/ap)

 

  • Bagikan