Raut bahagia tergambar di wajah cantiknya. Terutama saat menceritakan buah dari kesabarannya. 

 

Kisah itu diceritakan pada acara bertajuk Special Kids Expo (SPEKIX) 2019. Di Jakarta Convention Center. Sabtu (24/8) kemarin. Lalu menjadi viral.

 

Beritanya menempati tangga teratas dalam daftar buruan pencari berita, Sabtu. Google Trend mencatat lebih dari 50 ribu kali ditelusuri.

 

Itulah cerita yang disampaikan Dian Paramita Sastrowardoyo. Atau yang lebih populer dipanggil Dian Sastro.

 

Pemeran film ”Ada Apa Dengan Cinta?” ini baru saja membuat pengakuan yang mengegerkan publik. 

 

Selama ini tidak ada kabar sama sekali. Bahwa Dian baru saja berjuang menyembuhkan anak sulungnya: Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo. 

Shailendra kini kelas 3 SD. Sejak bayi dia sudah didiagnosis autis (autism spectrum disorder). Dian Sastro berjuang keras. 

Anaknya itu kini sudah bisa lepas dari terapi. Bahkan sudah dianggap normal seperti anak lainnya.

Suami Dian, Maulana Indraguna Sutowo, bangga pada keuletan isterinya itu. 

 

Dian menceritakan keberhasilannya itu. Di acara itu. Untuk memotivasi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK).

 

Dian berhasil menyakinkan orang tua yang memiliki ABK. “Selama masih gigih dan memiliki optimisme untuk menyembuhkan anak, jawaban dari usaha itu pasti ada,” katanya. “Jangan patah semangat,” tambahnya. 

Orang tua harus terus berupaya melakukan penanganan yang tepat. 

 

Dian mengaku bertahun-tahun menyembuhkan anaknya. Di masa-masa itu, dia banyak dibantu dokter anak. Juga psikolog. Untuk menjalani terapi wicara, okupasi, dan prilaku. Hingga akhirnya, sejak usia enam tahun, anaknya dianggap tidak memerlukan terapi lagi.

 

Pada acara itu, Dian pun menghadirkan anaknya. Dia mengajak putranya ke atas panggung. Kemudian diajak mengobrol. Dan layaknya anak normal, semua pertanyaan ibunya dijawab dengan meyakinkan oleh Shailendra.

 

Cerita Dian Sastro ini juga membuat saya dan istri kian semangat. Sebab, anak kami yang kedua Muhamad Fariz Nurrayen Kusumah juga tengah mengalami gangguan pertumbuhan perkembangan anak.

 

Di usianya yang sudah empat tahun, Fariz belum bisa berbicara normal. Dia mengalami keterlambatan bicara. Atau biasa disebut speech delay. Hanya kata ”papa” dan ”atoh” (jatoh) yang pernah saya dengar keluar dari mulutnya.

 

Kini anak saya itu tengah menjalani terapi sepekan sekali. Kami pun di rumah terus mengajaknya berbicara setiap hari. Untuk melakukan komunikasi dua arah. Juga saling kontak mata. Sesuai anjuran dokter terapi.

 

Kami yakin, buah dari kesabaran dan kesungguhan membuahkan keberhasilan. Seperti yang dikatakan Dian Sastro.

 

Bukankah pemilik disway.id ini juga pernah berkata: sabar itu ilmu tingkat tinggi. Belajarnya tiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya sering mendadak, sekolahnya seumur hidup.(Wirahadikusumah)