KEDUANYA bisu dan tuli. Juga, kehilangan orang tua dan tinggal di liponsos. Mereka pun tidak berbekal kamera canggih untuk berlatih. Namun, bakat yang diiringi usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Kiking dan Mukidi pun mendapat reward dari Unicef.

NUR FITRIATUS SHALIHAH, Surabaya

Nama keduanya mencuat setelah mengikuti workshop fotografi dari Unicef di Surabaya pada 5–9 Agustus lalu. Dalam workshoptersebut, Pemkot Surabaya mengajak 21 peserta dari berbagai SMP negeri, pendidikan nonformal, dan SD. Hanya ada satu siswa SD yang jadi peserta. Peserta difabel pun hanya Kiking dan Mukidi. Mereka tidak berasal dari sekolah inklusi, tetapi UPTD Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Kalijudan.

Hari pertama dan kedua workshop diisi materi fotografi oleh Giacomo Pirozzi, fotografer profesional Unicef berkebangsaan Italia yang sudah 21 tahun keliling dunia. Setelah itu, para peserta diajak hunting foto bersama, presentasi karya, membuat caption, penjurian, dan pemberian penghargaan.

Kiking dengan nama asli Mohammad Rizky Nur Yahya mendapat penghargaan The Best Photographer. Setelah hunting, 26 fotonya dinilai bagus oleh Giacomo. Laki-laki berumur 14 tahun itu berhak mendapatkan satu unit smartphone canggih Sahabat dekat Kiking, Mukidi, pun mendapat penghargaan dalam kategori berkelompok. Yaitu, Best Team. Arief Budiman, pendamping Kiking-Mukidi yang juga pengajar batik di liponsos, mengatakan bahwa keduanya memang punya bakat. Mereka punya mata yang jeli dan sangat detail saat mengambil gambar. ’’Kiking suka utak-atik, iseng, tetapi kreatif. Serbabisa. Bisa olahraga, batik, dan juga lukis. Detail di fotonya,’’ ungkap pria yang akrab disapa Leo tersebut. Giacomo pun mengatakan hal senada.

Mereka bisa membuat foto hitam putih, foto berwarna hanya pada objek tertentu, foto levitasi, foto dengan berbagai angle, foto back light, dan banyak lagi. Karya-karya mereka bisa dilihat di Instagram Leo @leogemati.

Kesulitannya hanya pada komunikasi. Mereka bisu dan tuli. Juga, tidak bisa menulis dan bahasa isyarat. Kiking bisa sedikit menulis. Leo tidak bisa menggunakan bahasa isyarat. Jadi, bagaimana mereka bisa berkomunikasi? Leo mengungkapkan, mereka biasanya hanya menggunakan bahasa tubuh.

Bagaimana pula mereka belajar fotografi? Mulanya, Leo hanya mengajar membatik tiap Rabu di liponsos. Anak-anak itu, termasuk Kiking dan Mukidi, kerap meminjam HP-nya untuk memotret hasil karya maupun teman-temannya. Dari sana, Leo melihat mereka punya bakat. Lalu, keduanya diajak hunting foto di luar liponsos seperti di JMP dan Suramadu.

Dari kamera sederhana, mereka mulai belajar. Mulai menggunakan kamera HP, kamera pocket, hingga DSLR. Leo biasanya mengajar dengan menunjukkannya atau praktik langsung. Selain itu, Leo kerap menunjukkan contoh-contoh karya fotografer profesional.

Saat workshop berbagai kisah sedih juga terungkap. Misalnya Mukidi. Dia mempunyai nama asli Septian. Namun, teman-temannya memanggilnya Mukidi. Dia berada di liponsos sejak 2016 setelah ditangkap petugas satpol PP. Tidak ada identitas sama sekali. Juga, tidak ada keluarga ataupun saudara. Usianya pun tidak diketahui. Hanya perkiraan, yakni 13 tahun.

Sementara itu, Kiking sedikit lebih beruntung. Meski sudah tidak punya orang tua, dia masih memiliki saudara dan dijenguk tiap hari raya. ’’Kiking diasuh neneknya setelah bapak dan ibunya meninggal. Setelah neneknya juga meninggal dan saudara terdekatnya pindah ke Jombang, sama orang kelurahan dititipkan di sini,’’ ungkap Kepala UPTD Liponsos Kalijudan Nanik Winarsih.

Kisah lainnya, saat sesi presentasi, Kiking dan Mukidi kesulitan karena keterbatasannya. Leo pun membantunya. Ketika sesi foto bareng dengan orang tua, keduanya juga tidak bisa foto bersama orang tua. Saat pemilihan kelompok, Kiking dan Mukidi hampir tidak dapat kelompok karena tidak ada yang memilih mereka. Meski begitu, kelompok Kiking-Mukidi mendapat predikat Best Team. Semangat terus ya Kiking dan Mukidi.